1692

PHI Kaleidospop 2018: Meramu Mantra Kunto Aji

Kunto Aji dan Bams Mastro. Foto: dok. Kunto Aji

Mari bahas lagunya satu per satu, mulai dari “Sulung”.
“Sulung” dan “Bungsu” ini kasih pagar album ini. Gue ambil dari ilmu tertinggi dalam kehidupan yang gue tahu tentang keikhlasan. Tapi akhirnya gue tangkap setelah selesai; gue baru tahu ternyata gue menulis ini kayak hubungan kita dengan diri kita sendiri, dengan Tuhan, yang ini hubungan kita dengan diri kita sendiri dan manusia. Kayak habluminallah-habluminannas akhirnya. Ternyata gue balik ke situ lagi, dan itu masuk akal karena gue bilang tentang keikhlasan itu bikin kita kebal. Kalau kita ikhlas, apa pun yang elu hadapi, elu enggak bakal kenapa-kenapa. Itu yang ingin gue ceritakan, kenapa album ini gue tutup dan gue buka dengan ini.

Apakah sejak awal sudah dirancang sedemikian rupa?
Enggak. Itu justru malah ketemu baru terakhir, setelah semua selesai. Apa yang mau gue ceritakan, kayak ingin gue rangkum. Bukan rangkum dalam arti kesimpulan, tapi kayak, “Ini yang mau gue ceritakan.” Di tengah-tengah sudah cerita tentang sana-sini, akhirnya balik lagi ke sini lagi.

“Rancang Rencana”.
“Rancang Rencana” tentang mengerti diri sendiri, tentang perubahan yang elu alami selama bertahun-tahun. Pasti ada sisi-sisi spektrum kepribadian elu yang berubah, tapi ketika elu tahu diri elu sendiri, elu pasti tahu mana sisi terbaik yang harusnya elu lebih tonjolkan. Dan itu adalah hasil dialog gue dengan sahabat gue pada saat itu, yang akhirnya gue tulis untuk jadi satu lagu. Karena kami lihat ke belakang, kami dulu bagaimana, sekarang kami bagaimana. Introspeksi.

Secara pribadi, apakah merasa telah banyak berubah?
Gue enggak banyak berubah, sebenarnya. Gue dari dulu begini. Maksudnya, gue bisa bercanda banget, tapi serius banget. Enggak ada di tengah. Alhamdulillah gue bukan bipolar, dan itu enggak berubah dari dulu. Akhirnya gue merasa itu bisa jadi kelebihan, bukan sebuah kekurangan.

Baca juga:  Pangalo! Dan Katalog Funk Indonesia Yang Malu-Malu

Apa referensi musik untuk album ini?
Gue dengar banyak banget, acak banget sama tiap produser. Tapi kami juga enggak mau yang, “Ke sini, nih.” Mungkin itu akhirnya keluar ketika gue cukup mentok untuk kasih tahunya bagaimana, akhirnya gue kasih, “Sound drum begini,” misalnya. Gue juga enggak mau itu jadi pagar untuk begini albumnya atau lagunya.

“Pilu Membiru”.
“Pilu Membiru” tentang unfinished business. Gue pernah cerita sedikit tentang bagaimana trauma masa lalu itu bisa bikin jadi masalah kalau elu enggak selesaikan. Ya, hasil gue mengobrol juga sama therapist gue, bahwa itu sumber masalah paling besar. Tujuan lagu ini memang mengeluarkan emosi, mengeluarkan yang dari masa lalu untuk memetakan masalah elu, karena itu yang paling susah. Ketika elu bisa memetakan masalah elu, “Oh, ini cara mengatasinya.” Salah satunya adalah dengan gue bikin lagu ini, untuk bisa keluar hal-hal yang selama ini mengganggu.

“Topik Semalam”.
“Topik Semalam” itu standar, ceritanya juga permukaan banget. Cuman ini isu yang cukup bikin gue stres pada saat itu. Ya, tuntutan quarter-life crisis pada saat itu, nikah dan segala macam. Jadi isu ini akhirnya keluar dan gue merasa perlu ada satu lagu yang cukup ringan.

Waktu itu sudah pacaran berapa lama?
Tujuh tahun, lama banget. Terus gue LDR (long distance relationship, atau hubungan jarak jauh). Sudah enggak mencari apa-apa, sih. Sudah kayak, “Mau apa lagi, nih?” Tapi gue sama dia justru sama-sama santai. Dia masih studi S2, karier gue juga masih belum (jalan) pada saat itu. “Terlalu Lama Sendiri” belum keluar. Jadi yang, “Entar ya, selesaikan ini dulu.” “Iya, gue juga.” Santai, sebetulnya. Cuman, sudah kepikiran mau apa. Akhirnya gue terjemahkan untuk dikejar-kejar. Tapi gue sempat dikasih tenggat waktu: “Tahun depan serius. Kalau enggak, enggak usah.” Sempat dibegitukan.

Baca juga:  PHI Kaleidospop: Potret Jurnalisme Musik di 2018

Pada saat itu belum kepikiran atau belum siap?
Ingin sih, tapi “Entar saja, lah.” Cowok kan, standar. Sampai akhirnya dihadapkan dengan, “Kalau enggak, enggak usah nih.” Akhirnya baru yang, “Ya sudah, deh.” [Tertawa] Gue pada saat itu cukup memaksakan, cuman ya sudahlah.

Apa yang pada saat itu membuat tidak terdorong?
Karier, sih. “Gue masih banyak yang gue kejar, entar dulu deh.” Tapi ternyata, baik-baik saja. Gue menjalankan kehidupan berkeluarga sambil berkarier baik-baik saja. [Tertawa]

“Rehat”.
“Rehat” ini salah satu yang cukup berani buat gue, karena lagu ini tujuannya untuk mantra diri, yang biasa gue omongkan ke diri sendiri entah itu ada masalah atau sedang stres. Diterjemahkan dalam bentuk lagu. Sebenarnya ini pemikiran, bukan berarti gue omong ke diri gue sendiri. Bagaimana gue menangkal pemikiran-pemikiran negatif gue sendiri. Ini kayak gue omong ke diri gue sendiri, tapi bagaimana caranya gue terjemahkan jadi sebuah aransemen, lirik dan lagu. Akhirnya yang keluar “Rehat” ini, yang punya koda cukup panjang untuk fase elu menemukan diri sendiri.

Sampai sekarang kodanya dimainkan di panggung?
Pasti gue mainkan. [Tertawa] Maksudnya, itu sudah bagian dari lagu, dan nanti beredar di radio pun, “Jangan radio edit ya.” Kalau mereka mau matikan, terserah mereka. Tapi tetap kasih penuh, enam menit.

Kodanya mewakilkan apa?
Kodanya bisa macam-macam, tergantung elu sedang berada di mana. Elu sudah berada di fase mana dan sedang mengalami apa. Ada yang mungkin sedang terjatuh banget, apa yang muncul di kepala mereka. Atau mungkin ada yang kena banget sama liriknya, terus mereka merasa, “Oke, gue harus menenangkan diri.” Jadi koda ini kayak gue kasih ruangan buat komunikasi sama diri elu sendiri, tanpa perlu gue kasih lirik. Memang harus ada ruangan itu, dan gue merasa perlu.

Baca juga:  Kaleidoskop Musik Indonesia 2018 versi Pop Hari Ini

“Jakarta Jakarta”. Sudah berapa lama tinggal di Jakarta?
Sepuluh tahun. Setengah umur gue, gue di Jakarta. Hampir jadi orang sini. Orang Tangsel, sih. Gue sudah merasakan bagaimana gegar budaya pertama kali gue ke sini, terus akhirnya bisa beradaptasi dan punya banyak teman orang sini. Gue juga bisa memetakan anak Jakarta Utara bagaimana, anak Jakarta Selatan, anak Jakarta Timur. Sampai bisa tahu. Gue sudah dekat banget dengan kota ini, dan direpresentasikan banget di lagu ini, karena gue muak. Apalagi kota pertama gue kan di Jogja, yang beda banget sama sini. Jogja santai banget, tapi sisi positifnya adalah Jakarta bikin gue lebih gigih. Setelah gue lama di Jakarta, gue malah enggak kuat lama-lama di Jogja karena gue enggak ada progres. Walaupun gue butuh kedua kota ini. Ketika gue butuh Jogja, gue butuh sesuatu yang lebih tenang. Tapi sehari-hari gue butuh dipacu terus di Jakarta.

Akhirnya tertuang di lagu “Jakarta Jakarta” ini, dan gue mengajak Petra karena dia memang anak sini banget, yang metropolitannya dapat banget.

Ini lagu paling bising di album. Apakah karena ingin menggambarkan hiruk-pikuk Jakarta serta hubungan benci sekaligus cinta dengan kota ini?
Iya, betul.

Kayaknya semua orang juga punya hubungan benci sekaligus cinta dengan Jakarta.
Pasti semua orang, gue yakin. Makanya, sudut pandang pendatangnya dari gue, penduduk aslinya dari Petra. Dan kami bisa menangkap semuanya.

Apakah tema dan lagunya sudah jadi, baru mengobrol dengan Petra?
Gue pasti sudah datang dengan tema, karena gue enggak mungkin datang kosong. Jadi mereka juga kebayang, “Oh, elu mau menulis tentang ini?” dan mereka bisa kasih masukan. Tapi gue tetap menulis lirik dan notasi sendiri.