722

PHI Kaleidospop: Potret Jurnalisme Musik di 2018

Ilustrasi Rosyad A.

Penghujung tahun 2017 lalu, publik musik Indonesia dikejutkan dengan berita tutupnya majalah musik Rolling Stone Indonesia. Tutupnya media musik memang bukan sesuatu yang baru dan mengejutkan. Beberapa tahun sebelumnya, tepatnya pada 2016 lalu, majalah Trax juga resmi membubarkan diri. Sedangkan setahun berikutnya Hai lebih fokus pada pemberitaan daring. Menunggu kabar bubarnya media musik seperti menunggu korban pembunuhan di film-film serial killer. Tinggal menunggu saja siapa “korban-korban” berikutnya.

Kita tahu nasib media cetak kian tergusur di era digital sekarang ini. Seorang jurnalis senior menyebutnya, “senjakala media massa cetak”. Nasib media cetak memang seperti sedang menjemput takdirnya. Penyebabnya adalah ongkos produksi dan biaya operasional yang kian mahal, serta perubahan konsumsi informasi khalayak. Teknologi digital mengubah pola konsumsi masyarakat sehingga semua informasi kini beralih ke media daring.

Keberadaan internet itu pula yang akhirnya mengubah pola bisnis media. Semua media massa terpaksa harus berkonvergensi mengikuti zaman. Koran, majalah, televisi, radio, film, akhirnya kini mengubah wajah mereka merambah dunia daring. Contohnya, pada 2017 lalu, setelah selama 40 tahun terbit sebagai majalah cetak, Hai kini berubah total menjadi media daring. Kondisi ini disebabkan pola konsumsi informasi masyarakat yang cenderung menerima informasi dari medium-medium daring. Kini kita menerima informasi dari beragam bentuk semisal YouTube, Instagram, Twitter, Blog, Facebook, dan lain-lain. Era digital juga sebenarnya menawarkan demokratisasi informasi bagi masyarakat sebab mereka bisa memilih bahkan memproduksi informasi yang dikehendakinya.

Baca juga:  Lagu Indonesia Paling "Ganggu" Tapi Nempel Di 2018

Era digital sekarang, cara media-media daring dalam menyampaikan berita lebih mengedepankan berita-berita hiburan yang sensasional dan viral. Semakin viral dan click-bait sebuah berita tersebut, maka akan semakin menguntungkan media. Hal inilah yang dikhawatirkan oleh kritikus musik Chris Weingarten dalam sebuah konferensi musik bahwa ulasan musik yang dibuat secara serius akan digantikan oleh berita-berita sensasional dan banal di media daring.

Pada masa sekarang ini, musik memang telah mengalami “dematerialisasi” di mana pengalaman mendengarkan musik lebih sering kita dapatkan lewat media-media digital (laptop, tablet, dan komputer). Kehadiran platform seperti YouTube. Instagram, Twitter, Facebook, Blog, hingga layanan streaming macam Spotify, Apple Music, Joox, Deezer, dan sejenisnya telah mengubah cara masyarakat menerima informasi musik. Salah satu imbasnya adalah hilangnya akses dan ekslusivitas yang dimiliki para jurnalis musik.

Baca juga:  Rangkuman Pemilu 2019 Berdasarkan Judul Lagu Indonesia Teranyar

Jika dulu, saat sebuah album dirilis, jurnalis musik memiliki kesempatan lebih dulu untuk mendengarkan secara ekslusif. Kemudian kita akan membaca ulasan di majalah atau koran untuk mengetahui kualitas suatu album. Sementara kini tanpa harus membaca ulasan tersebut kita sudah bisa menikmatinya langsung secara streaming dan membuat penilaian kita sendiri. Kemudian jika dulu kita membaca ulasan konser, kini kita bisa menikmatinya melalui Instagram Live atau Youtube. Atau, jika dulu kita senang membaca wawancara dengan musisi idola kita di majalah, sekarang dengan mudah kita mendapatkannya di YouTube.

 

Berbincang Jurnalisme Musik di KAMI 2018

Pembicaraan tentang kondisi media musik Indonesia dibahas pula saat sesi diskusi panel di Konferensi Musik Indonesia (KAMI) 2018. Salah satu sorotan paling penting dari konferensi ini yaitu menghadapi tantangan disrupsi digital yang sudah ada di depan mata. Karena kalau berbicara tentang pengaruh disrupsi teknologi digital, bahasan jurnalisme musik ini menjadi tak kalah relevan untuk mengatasi fenomena gulung tikarnya media-media musik dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa bulan sebelum KAMI 2018 diselenggarakan, Rolling Stone Indonesia akhirnya memutuskan untuk tidak lagi terbit. Nasibnya menyusul beberapa media-media musik yang telah lebih dahulu tumbang. Tak bisa dipungkiri, bagaimanapun juga disrupsi digital, terutama menyangkut hubungannya dengan media musik, sudah telah lama hadir di depan kita semua. Para pelaku musik—termasuk juga para jurnalis dan penulis musik—perlu merumuskan kembali perannya dalam mewartakan musik di era disrupsi digital sekarang ini.