802

PHI Kaleidospop: Potret Jurnalisme Musik di 2018

Dalam panel diskusi ini, peserta diajak untuk mempertanyakan kembali seberapa penting peran jurnalisme musik bagi ekosistem musik di Indonesia saat masyarakat dengan mudah mengakses informasi musik tanpa harus melalui perantara jurnalis musik lagi? Band dan musisi seolah tak memerlukan media lagi karena kini mereka bisa menyampaikan informasi mereka langsung kepada para penggemar lewat media sosial. Keadaan ini mau tak mau membuat format jurnalisme musik berubah. Harus ada formulasi atau metodologi baru untuk menyampaikan informasi musik yang lebih relevan dengan situasi serba daring saat ini.

Hadir sebagai narasumber diskusi para jurnalis musik senior seperti Bens Leo, Denny M.R., Buddy Ace, Andre Opa, serta Wendi Putranto, dan dimoderatori Adib Hidayat. Ada pula perwakilan band yaitu Anitha Silvia dari Silampukau. Selebihnya ada jurnalis-jurnalis musik yang menaruh minat pada isu ini. Selain saya, terdapat Kiki Pea, Arfandy, Samack, Edo, Dion M., dan Rudy Fofid. Semua membicarakan kendala yang dihadapi jurnalisme musik dan pengkajian musik seraya mengajukan berbagai peluang dan potensi pengembangannya di masa yang akan datang.

Saat diskusi berlangsung, beberapa peserta mengakui jika persoalan paling besar yaitu masih rendahnya tingkat wawasan dan apresiasi dari para jurnalis dan media terhadap karya musik. Masih banyak jurnalis-jurnalis yang masih kurang menguasai liputan atau pemberitaan soal musik. Maka betul apa yang disampaikan Kartika Jahja bahwa jurnalisme musik kita butuh “tamparan”. Hal ini juga didorong oleh sistem redaksi yang masih menganut sistem rolling. Dalam artian, jurnalis-jurnalis yang tak memiliki kecakapan atau ketertarikan pada musik, tapi “terpaksa” harus meliput dan menulis tentang musik karena perintah redaktur. Belum lagi media-media tersebut bukan main malasnya karena hanya mengandalkan dari rilis pers saja. Itu berimbas pada konten berita yang jadi tak lagi menarik karena hanya berupa tulisan asal-asalan yang memenuhi halaman dan tenggat waktu.

Baca juga:  20 Tahun Album The Groove “Kuingin” Bergoyang

Tulisan-tulisan musik di media massa juga menjadi kian kurang menarik karena terlalu banyak menampilkan berita-berita informatif yang sudah tidak lagi relevan di era sosial media seperti sekarang ini. Saat ini, masyarakat sudah dapat memperoleh informasi langsung dari sumbernya. Peran ekslusif yang dulu dimiliki para jurnalis musik untuk memberikan informasi terbaru mengenai seorang musisi atau band akhirnya hilang. Untuk itu, media massa membutuhkan tulisan-tulisan musik yang diperkaya dengan riset mendalam. Masyarakat perlu informasi yang “lain”, yang tak ada di media sosial musisi idola mereka. Sekarang sudah bukan masanya jurnalisme musik sekadar bicara soal berita informatif yang lekas hilang dalam beberapa jam—bahkan menit. Melainkan memuat analisis mendalam semisal wacana musik dan masyarakat, musik dan kota, musik dan teknologi, musik dan inovasi, dll.

Untuk itu, diperlukan pendekatan alternatif dalam menampilkan informasi musik dari sekadar berita informatif. Beberapa kali, dalam forum ini mengulas apa yang dilakukan Tirto, dan Beritagar karena mampu menampilkan pendekatan sejarah. Meski media-media tersebut bukan media musik, tetapi mereka mampu menampilkan tulisan yang diperkaya dengan riset dan data yang kaya serta tampilan infografis sehingga menjadi sangat menarik untuk dibaca. Perlu metode baru yang lebih relevan dalam menampilkan informasi musik. Salah satunya adalah melalui kemasan visual yang keren. Selain itu, saat ini jurnalisme musik juga sudah tidak melulu hadir dalam cetakan majalah. Ada berbagai bentuk yang bisa digunakan untuk mewadahi jurnalisme musik yang komprehensif seperti infografis, motion graphics, podcast, dan YouTube.

Bahasan lain dalam panel diskusi ini adalah persoalan masih minimnya literatur-literatur musik Indonesia, terutama buku-buku biografi yang mengisahkan sepak terjang musisi-musisi legendaris Indonesia. Padahal keberadaan biografi ini dapat menjadi rangkuman sosiologis serta historis untuk melihat peristiwa-peristiwa musik di masa lampau. Pengetahuan semacam itu bisa digunakan untuk pengembangan analisis, kritik, dan pembangunan wacana seputar dunia musik dan industrinya atau pun sebagai referensi bagi musisi-musisi zaman sekarang.

Baca juga:  Banyak Jalur Menuju Tur

Panel diskusi itu berlangsung alot selama sekitar dua jam. Semua seperti mencurahkan unek-uneknya. Semua tampak saling menimpali dengan gagasannya masing-masing. Tak ada yang diam dan menjadi pendengar pasif. Semua mengeluarkan opininya. Rasanya waktu dua jam yang diberikan panitia masih kurang cukup. Pada akhirnya, karena waktu sudah mepet kami semua pun merumuskan persoalan yang dihadapi jurnalisme musik di Indonesia.

Kesimpulan dari diskusi tersebut antara lain:

  1. Riset dan survei ‘Pentingnya Jurnalisme Musik’.
  2. Memperbaiki kualitas tulisan musik di media.
  3. Media alternatif untuk musik perlu dukungan (dana dan akses).
  4. Membuat ‘Buku Putih’ mengenai jurnalisme musik.
  5. Membuat seri ensiklopedia biografi musisi Indonesia.
  6. Perlunya lokakarya dan mentoring jurnalis musik (media arus utama/alternatif).
  7. Kritik musik/jurnalisme musik masuk menjadi salah satu kategori yang diberi anugerah dalam AMI Awards.
  8. Regenerasi penulis/jurnalis musik.
  9. Jejaring penulis/jurnalis musik di seluruh Indonesia.
  10. Portal situs musik Indonesia.
Baca juga:  Kampungan Versus Gedongan: Bagaimana Selera Musik Kelas Menengah di Indonesia Terbentuk?

Hasil dari diskusi ini akan dijadikan rekomendasi dan akan disampaikan kepada Presiden Jokowi. Salah satu poin yang disampaikan yaitu mendorong peningkatan pemahaman dan kecintaan masyarakat terhadap musik Indonesia melalui penyebarluasan wawasan sejarah musik dan kritik musik yang dimotori oleh praktik jurnalisme musik profesional.

 

Mendorong Munculnya Penerbitan Alternatif
Sepanjang tahun 2018 ini juga setelah Rolling Stone Indonesia bubar adalah momentum untuk menumbuhkan penerbitan-penerbitan media alternatif seperti zines, webzines, blog, buku, podcast, atau vlog. Ada yang kemudian masih bersifat mandiri ataupun berada di sebuah unit usaha lainnya. Karena akhirnya tidak ada “big fish” maka kemudian muncul “little fish” yang seharusnya dapat menyajikan informasi yang otentik, segar, dan memukau (outstanding).