5238

Pop Figur – Agan Harahap, Seniman Fotografi

Agan Harahap dan James Hetfield dari Metallica / dok. Agan Harahap.

Sebagai seniman, nama Agan Harahap menjadi harum sekaligus gunjingan bagi banyak orang. Bagaimana tidak, lewat karya fotografi digital imaging yang kerap dibuatnya dan banyak dipamerkan ke media sosial tak jarang membuat decak kagum sekaligus memicu emosi bagi awam yang tak mengerti tentang dirinya.

Karyanya teranyar, I Was Punk Before You yang menampilkan foto close up presiden ‘Jokowi punk’ yang muda yang berdandan ala punk ini bahkan menarik perhatian banyak orang termasuk pak presiden Joko Widodo sendiri.

Beberapa petinggi pemerintah juga artis serta penikmat seni pun terkagum-kagum menyaksikan langsung karya yang menghebohkan ini ketika dipamerkan di Art Bali beberapa waktu lalu.

Jauh sebelum karya tersebut, telah banyak karya Agan Harahap yang duluan menuai pujian di berbagai media seni rupa dan media massa di beberapa negara (silakan saja ikuti instagram miliknya yang mencatat hampir semua publikasi tentang diri dan karyanya).

Bagaimana kah sosok Agan Harahap, apa yang ia pikirkan ketika membuat karya dan apakah arti menjadi seniman seperti sekarang ini menurut dirinya?

Simak obrolan PHI dengan seniman yang kini bermukim di Yogyakarta ini dalam rubrik Pop Figur kali ini.

karya teranyar “I Was Punk Before You” kini sedang dipamerkan di Art Bali, sebelum itu sudah dipamerkan dimana saja?

Sebelumnya dipamerkan di semacam private exhibition gitu rumah kurator gue di Berlin.

Kayanya hari ini, udah mulai banyak, katakanlah seniman yang mulai ‘ke-agan agan-an’. Gimana melihat hal ini? Dan apakah waktu mulai dulu sudah ada yang mulai membuat karya sejenis seperti ini?

Waktu gue memulai berkarya dengan metode semacam ini (Digital imaging dan mendistribusikannya di jejaring sosmed) sekitar 2011/2012, kayaknya sih disini belum ada ya. Gue mengawalinya dengan project Temen- Temen Selebriti sebagai bagian dari pameran TOP COLLECTION di Ruru. Dan terus berlanjut sama Metallica in Kebon Kosong Kemayoran, Visit Indonesia 1 dan 2 yang dipamerkan di Singapore Art Museum 2014. Kalau sekarang banyak orang yang berkarya ‘memakai metode’ yang sama dengan kayak apa yang gue kerjakan, menurut gue ya nggak papa. Sebab itu sudah resikonya ketika gue memang sengaja mendistribusikan karya-karya gue di sosmed.

Baca juga:  30 Tahun Album Semut Hitam: 5 Lagu Pilihan Dari Album Terlaris God Bless
Selebriti dan tokoh negara di depan karya I Was Punk Before You di Art Bali, 2018.

Banyak media yang menyebut karya seni lo dalam jenis karya ini dan itu. Lo sendiri menyebut apa untuk jenis karyamu ini?

Gue masih menyebut karya gue sebagai bagian dari fotografi. Gue tuh sebetulnya ngepop banget. Gue cuma ‘meminjam’ sosok yang memang sudah populer di masyarakat dan menempatkannya di sebuah scene yang lain. Sesimple itu kok. Dan dari karya-karya gue, gue berusaha sedapat mungkin dan secepat mungkin merespon fenomena yang sedang terjadi dalam masyarakat.

Apa sih momen yang melatarbelakanginya sampai membuat keputusan “oke gue akan terus membuat ini”

Momen itu gue dapat dari timeline sosmed gue. Dan sering kali karya gue cukup mendapat respon yang gegap gempita dari netijen maupun media. Sampai hari ini fotografi masih dianggap sebagai representasi dari sebuah kebenaran. Makanya ada istilah, no pic= hoax!
Nah, gue mencoba membalik ini.

Ngomongin soal budaya pop, apa sih budaya pop yang paling mempengaruhi sampai hari ini?

Politik dan agama. Itu yang lagi populer hari ini.

Apa hal paling sulit yang harus dihadapi dalam pekerjaan sebagai seniman sekarang?

Yang paling sulit adalah, bagaimana lo bikin karya yang jelas-jelas nembak ke 2 hal itu, tapi di sisi lain masih terasa ‘sopan’ dan tidak ‘menyerang’.

Pernah dapat kritik pedas? 

Pernah dong, tapi untungnya gue selalu bisa mempertanggung jawabkan karya gue secara estetika dan intelektual. Jadi, kalaupun ada kritikan-kritikan pedas, selalu bisa gue atasi. Atau biasanya sih netijen sendiri yang langsung mengatasi.

Baca juga:  5 Vokalis Band Di Bawah Radar Kita Semua

Kalau kalangan seniman?

Pernah sih dulu dikritik sama para fotografer jurnalis waktu pameran di Galeri Nasional. Tapi yaa.. memang beda secara konsep dan konteksnya, juga secara presentasi karyanya.

Sebuah foto buram bergambar anak muda dengan rambut ala punk beredar di media sosial. Entah siapa yang mulai, ada yang…

Posted by Presiden Joko Widodo on Friday, 24 August 2018

Ngomongin musik juga film, apa album musik/film Indonesia paling pop yang paling mempengaruhi seorang Agan Harahap?

Gue nggak gitu ngikutin film indonesia. Yaa paling film-film horor semi-semi bokep gitulah yang gue tonton. Kalo musik, gue suka musik daerah. Dan musik-musik lama. Kalau dibilang yang mempengaruhi banyak dan terlalu luas. Dari Sinondang Tapian Na Uli sampai Trio Ambisi. Dari Subronto K. Atmojo sampai Christopher Abimanyu, semua mempengaruhi gue.

Subronto K Atmojo itu penulis lagu gereja bukan?
Belakangan dia kerja di bpk gunung mulia. Bbrp lagunya juga masuk Kidung Jemaat.
Tapi sebelumnya dia komponis kesayangan Bung Karno. Kalo nggak salah dia sempat aktif di yamuger (Yayasan Musik Gerejawi). Waktu kerja di BPK Gunung Mulia, dia jadi anak buah Alfred Simanjuntak. Pencipta lagu “Bangun Pemuda Pemudi”.

I Was Punk Before You karya Agan Harahap / dok. website pribadi Agan Harahap.

Apa sih pencapaian terbaik dalam berkarya selama ini?

Pencapaian terbaik gw ketika karya gw bisa berfungsi di masyarakat. Contohnya, ketika masyarakat sedang heboh dengan kebangkitan PKI, gue respon sama ikan lohan. Kemudian berlanjut, Ahok-Habib salaman, Habib-Raja Salman-Lion Air, dan I Was A Punk Before You itu pencapaian gue yang paling oke. Itu 4 karya gue yang menurut gue cukup berfungsi dan memberi kontribusi di masyarakat.

Apa artinya menjadi seniman di saat sekarang ini?

Buat gue, seniman itu harus punya kontribusi buat masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Jadi seniman sekarang, artinya harus siap dan peka dengan segala percepatan teknologi dan segala konsekuensi yang terjadi di masyarakat.

Baca juga:  Soleh Solihun: Gue Itu Kaya Punk Rock, Ekspresif!
Cerita Ikan Lo Han logo PKI yang menghebohkan / dok. berita di BBC.Indonesia.

Sudah membayangkan belum bakal menjelaskan apa dibuat dalam karya senimu pada anak-anak ketika nanti kalo sudah besar?
Hahaha belum. Tapi harapan gue cuma supaya anak-anak gue kelak bisa bangga sama bapaknya.

Termasuk ingin atau tidak mereka menjadi seniman seperti bapaknya?

Gue membebaskan anak-anak gue mau jadi apa kelak. Asal mereka suka dengan profesinya dan jujur dalam mengerjakannya. Nggak perduli mereka akan kaya atau tidak.

Vokalis Green Day memakai pakaian Adat / Instagram Agan Harahap.

Ada tidak orang yang paling dikagumi atau sangat berpengaruh dalam kehidupan seorang Agan Harahap? 

Bokap gue alm. Karena dia yang ‘menjerumuskan’ gue ke dalam dunia seni. Beliau juga yang mengajarkan untuk tetap optimis dalam menjalani kehidupan sekuat apapun badainya.

Menjadi seniman, ini apakah cita-cita dari dulu? Kalo bukan seniman seperti skrg, bakal memilih jadi apa?

Gw baru bercita-cita jadi seniman waktu kuliah di Bandung dulu. Sebelum itu cita-cita gue adalah jadi pemain basket profesional. Kalo nggak jadi seniman seperti sekarang, mungkin gue akan jadi kayak Dimas Kanjeng atau Aa Gatot.

apa nasihat atau kata-kata yang pernah didengar dan terus diingat sampai hari ini?

Nah itulah. Nggak ada nasehat yang masuk di otak gue. Semua masuk kuping kiri, keluar kuping kanan.

Agan Harahap dicium Ibu Ani Yudhoyono / dok. Agan Harahap.

Apa arti dan fungsi seni (rupa) menurut seorang Agan Harahap?

Seni itu harus lahir dari masyarakat dan berguna bagi masyarakat. Kegunaan/ fungsinya tentu berbeda-beda bagi tiap seniman dan apresiatornya. Tapi kalo buat gue sih, apapun fungsinya, karya seni yang baik itu bisa jadi penanda dari sebuah zaman atau peradaban dimana kita hidup di dalamnya.

Intip perjalanan karya Agan Harahap di langsung instagramnya @aganharahap