238

Dua Dekade Musik Indonesia

Buku: Dua Dekade Musik Indonesia 1998-2018
Penulis: Kelik M. Nugroho
Penerbit: Gramedia

Kabar gembira datang lagi dari literasi musik Indonesia. Penerbit besar Gramedia kembali menerbitkan buku musik keduanya di tahun 2020 ini. Melengkapi koleksi litaratur musik sebelumnya, Dangdut: Musik, Identitas, Dan Budaya Indonesia (Andrew Weintraub, 2012), Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya (Idhar Resmadi, 2018), The Jadugar: 15 Tahun Mengobrak-Abrik Video Musik Indonesia (Tim Penulis Jadugar, 2020) dan yang terbaru, Dua Dekade Musik Indonesia 1998-2018 (Kelik M. Nugroho, 2020)

Buku ini merupakan lanjutan dari buku Kelik sebelumnya, Almanak Musik Indonesia 2005-2015 yang sebelumnya diterbitkan oleh Yayasan Tali Kemanusiaan tahun 2015. Makanya konsep bukunya serupa. Kelik sendiri adalah jurnalis, penulis, pencipta lagu dan aktifis pendidikan yang pernah bekerja di Harian Jawa Pos, majalah D&R dan Grup Media Tempo. Plus sebagai musisi ia juga pernah merilis album Hyperpositive (2015) dengan nama Pabrik Bunyi dan merilis beberapa singel di 2018 lalu.

Baca juga:  Resensi : Anov Blues One - s/t
Almanak Musik Indonesia 2005-2015

Buku ini hadr dalam ukuran besar ukuran 21.0 x 29.7cm (A4), dengan kertas bagus, halaman berwarna dan ketebalan yang menggiurkan sebanyak 376 halaman. Memuat daftar 10 Besar Band Indonesia rentang 1945-1997 dan 1998-2018, 100 Band Indonesia 1998-2018, Daftar Penyanyi Indonesia 1998-2018 serta kronik peristiwa musik Indonesia dari pertahun dari 1998-2018.

Saya sebut menggiurkan karena Indonesia darurat pendokumentasian cetak/literasi musik lokal. Jadi bayangan akan serunya info-info baru yang belum saya ketahui sudah menari-nari di depan mata. Meskipun kebalikannya bila kita mengakses dunia maya, pendokumentasian musik lokal Indonesia sudah cukup beragam. Apalagi jika kita mengakses platform terbuka ensiklopedia multibahasa daring, Wikipedia yang terbuka dengan mudah bisa saling edit.

Baca juga:  Wonderland

Tapi sayangnya harapan itu tak kunjung datang ketika mencermati isi buku ini. Saya kesulitan menemukan letak istimewanya buku ini. Karena kontennya bagaikan ringkasan dari berbagai situs/blog musik dan Wikipedia. Cukup disayangkan buku ini minim subjektifitas dan pendapat pribadi penulis -hal yang biasa lumrah menjadi amunisi kala kita membaca sebuah literasi seni.

Padahal sangat menarik jika melihat latar belakang Kelik sebagai berbagai jurnalis senior, salah satunya Tempo. Saya pribadi cukup penasaran apa yang bisa beliau bagi ketika membahas band/musisi masa kini dari kacamata jurnalis senior yang sekaligus musisi/penulis lagu itu. Baik dari sudut pandang, pengamatan dan kritik sekaligus sebagai musisi. Alih-alih, buku ini hadir bagaikan sekedar kumpulan data saja.

Baca juga:  Mad Madmen - Ego Friendly

Dan dengan harganya yang cukup tinggi (dibandrol sekitar 200.000 rupiah) untungnya buku ini diselamatkan oleh tampilan buku yang cukup luks. Meskipun Kelik sepertinya memang memilih untuk menghadirkan buku sebagai kebutuhan para akademsi musik yang mempersoalkan kurang memadainya sumber-sumber untuk menganalisis perkembangan musik Indonesia. Seperti yang ditulis di halaman pengantar serta keterangan di bagian belakang buku. Namun sayang sekali bila buku yang telah menghadirkan seratus lebih nama-nama musisi Indonesia ini hadir demi hanya sekedar memenuhi ekspektasi seperti itu saja tanpa ada kedalaman yang lebih.

 

____