418

Resensi The Jadugar: 15 Tahun Mengobrak-abrik Video Musik Indonesia

Duo pembuat video musik arus samping The Jadugar, yang aktif di era 2000-an merilis buku tentang dokumentasi karya-karyanya. Judulnya cukup provokatif dan percaya diri, 15 Tahun Mengobrak-abrik Video Musik Indonesia

Tapi benarkah “mengobrak-abrik”? Mari jabarkan makna kata itu sesungguhnya. Situs Kamus Besar Bahasa Indonesia mendeskripsikan kata itu sebagai: ubrak-abrik, membuat tidak beraturan (acak-acakan), membuat berantakan.

Memang apa yang telah duo lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini lakukan di kancah video musik Indonesia pada masanya? Yang jelas judul itu sukses membuat saya penasaran dengan kisah-kisah dan pendokumentasian karya-karya duo Anggun dan Betmen “The Jadugar” yang lucunya tidak berlatar belakang film secara profesional maupun akademis.

Mereka adalah Henry “Betmen” Foundation, mahasiswa seni grafis; dan Anggun, lulusan desain Interior. Cerita sukses mereka yang bukan “anak-film” ini menjadi perbincangan di kalangan rekan-rekan senior mereka yang kuliah di jurusan sinematografi/perfilman di IKJ. Terutama karena The Jadugar mematahkan anggapan kalau membuat video adalah sebuah proses panjang, melibatkan banyak kru dan berbujet besar. Ditambah ketika duo ini berhasil memenangkan penghargaan “Best Director” di ajang MTV Video Music Awards 2003 dengan video musik “Train Song” yang fenomenal itu.

Dan kemenangannya yang mendobrak batasan pada masa itu mendasari pembahasan utama buku ini. Dengan menghadirkan penulis-penulis muda yang menyumbangkan esai, wawancara sejumlah orang, hingga Anggun dan Betmen menceritakan di balik cerita video-video yang mereka buat. Itu poin-poin paling menarik yang dibahas di buku ini. Tapi sayangnya mereka seperti asik sendiri. Kok bisa? Begini, buku ini terbagi ke dalam 3 bagian; Tulisan Dari Teman-Teman, Kata Mereka Tentang Jadugar, Narasi Dari Lokasi.

Di bagian pertama “Tulisan Dari Teman-Teman”, The Jadugar sebagai anomali betul-betul dikupas secara mendalam. Di antaranya dari estetika visual, seni rupa kontemporer, perlawanan terhadap sistem kerja video konvensional serta kelahiran generasi baru dan MTV Indonesia. Namun sayangnya di setiap tulisan esai dari kawan-kawan ini sama sekali tidak dijelaskan siapa mereka dan hubungannya dengan The Jadugar. Pun fotonya hanya dibuat skesta sekenanya yang tidak representatif. Hal ini kembali terulang di bagian kedua, “Kata Mereka Tentang The Jadugar”, dan tidak membaik di bagian terakhir, “Narasi dari Lokasi” yang penuturan ceritanya juga mengalir tanpa bentuk yang jelas.

Di bagian pertama The Jadugar dan tim cukup piawai memilih nama-nama untuk menulis esai tentang mereka. Karena yang dipilih adalah nama-nama dari lingkaran seni rupa dan pelaku kancah skena independen yang memang terlibat langsung. Namun cukup prihatin dengan esai Prima Rusdi yang ditaruh sebagai pembuka. Karena Prima seperti harus menulis sendiri ke-aku-annya, alias validasi diri dalam bagian pertama tulisannya. Akan lebih bijak bila tulisan itu dibuat dari tim The Jadugar. Karena kalau saja saya tidak tahu Prima, besar kemungkinan akan merasa -izinkan memakai bahasa masa kini-, cringe saat membaca bagian tulisan tentang dirinya itu sendiri sebelum masuk membahas duo sutradara ini. 

Untuk bab berikut “Kata Mereka tentang The Jadugar” kepiawaian memilih nama-nama yang dihadirkan ini kembali diuji. Karena problemnya sama, tidak ada penjelasan siapa dan bagaimana hubungannya dengan The Jadugar. Sehingga cenderung terasa sektoral dan asik sendiri. Untungnya diselamatkan oleh isi wawancara yang menarik. seperti dengan Nana Suryardi (sosok ketiga the Jadugar), Hendra Pisang, Mushowir Bing, Sidi Saleh, Hafiz Rancajele dan Oomleo.

Baca juga:  Resensi: The Adams - Agterplaas