Rekomendasi: Gamaliel – Q1

133
Rekomendasi: Gamaliel – Q1

Di era ramainya singel mudah-nyantol di telinga yang rilis tiap minggunya, pria ini berani memutuskan merilis sebuah karya berkelas yang sebaliknya. Meski tentunya masih dalam bingkai musik pop. Dialah Gamaliel penyanyi yang merilis mini album solo Q1 yang sebelumnya berkibar bersama trio GAC (Gamaliel, Audrey, Cantika)

Di tengah mudahnya ibu jari menekan “next” ketika tidak tertarik pada sebuah lagu di layanan putar lagu digital, Gamaliel memutuskan menghadirkan bunyi instrumen cello yang muram selama 30 detik sebagai intro untuk membuka album mininya melalui lagu yang juga jadi singel pertamanya, “/ forever more /“.

Singel 5 menit ini pun memiliki mood naik turun bagaikan musik latar untuk film aksi petualangan fantasi yang penuh dengan kejutan dan unsur magis yang kental. Vokal Gamaliel berpadu dengan bebunyian instrumen gesek menghasilkan keindahan membuai sehingga mampu memancing bulu kuduk untuk berdiri memberikan penghormatan.

Buaian orkestra instrumen gesek yang indah ini juga turut membuka trek berikutnya, “/ ethereal /” yang bernuansa dreamy minimalis tapi padat bebunyian instrumen gesek ini segera menancap di otak, mekar berbunga di telinga. Langsung menjadi favorit saya. Racun musik popnya bekerja saat Gamaliel menyanyikan bait verse-nya:

The Weather seems is so irregular / Is been like a million, billion years ago // the water’s somehow familiar / Seems like a brilliant, idea to go

Gesekan instrumen berdawai kembali menghantui di trek berikutnya, “/ unfindable / “ yang lebih bernuansa megah dan penuh kontemplasi. Gamaliel bernyanyi lebih memainkan emosi naik turun dengan balutan musik megah yang cocok untuk film bernuansa kerajaan/fantasi bak serial TV akbar, Game of Thrones.

Di lagu penutup, “/ adjacent / “ Gamaliel menutup album mininya dengan – yang selama ini menjadi kekuatannya – yaitu musik dance, dan menjadi trek yang paling ringan, positif dan menyenangkan. Track ini seolah menjadi ucapan terima kasih karena telah bersedia mendengarkan kisahnya yang berliku di Q1.

Secara keseluruhan, Q1 menyajikan paket akustik pop megah sarat bebunyian orkestra/musik klasik diramu dengan nuansa elektronik sehingga menghasilkan musik yang mungkin belum terlalu banyak dijamah oleh solois Indonesia saat ini. Pola ‘berusaha keluar dari zona nyaman’ ini tentu mengingatkan pada album keempat Isyana Sarasvati, LEXICON. Terlebih dengan unsur musik klasik dan opera yang dominan. Sebuah keputusan berani ketika musisi memutuskan untuk menilik beratkan pada estetika musiknya, dan tidak semata terpaku mengejar estetika angka streaming.

Pertimbangan estetika ini membuat Q1 bukanlah album yang tepat untuk didengarkan setiap saat seperti dalam perjalanan, sambil bekerja ataupun di coffee shop. Ini adalah karya utuh yang benar-benar harus dinikmati dengan memusatkan seluruh indera yang kita punya. Dan jika menilik perihal estetika musik di album ini, bertengger nama Aldi Nada Permana sebagai produser 3 dari 4 lagu di album ini.

Baca juga:  Rekomendasi: Hondo - The Hike to Kamadela

Aldi sendiri adalah nama lama yang pernah bekerja dengan nama besar seperti Rizky Febian, Afgan, Cakra Khan. Sebagai produser/aranjer, namanya juga sempat wara-wiri sebagai nominator AMI. Kalau menyimak nama-nama tadi, sepertinya Aldi berperan besar menyuntikan elemen musik pop sehingga Q1 menjadi kolaborasi penting yang bersinergi dengan sangat ciamik bagi Aldi dan Gamaliel. Dalam balutan megah musik orkestra dan dinyanyikan dengan teknik bernyanyi Gamaliel yang berteknik tinggi dan semakin berkarakter ini.

Album ini jelas pencapaian tertinggi untuk musik pop Indonesia di awal 2021. Satu-satunya kekurangan album ini adalah terlalu singkat. Bolehkah berharap kolaborasi dengan Aldi Nada Permana ini berlanjut terus sampai (kalau ada) album Q2 sampai Q4 atau album penuh? Mengingat “Q1” yang dirilis di bulan ketiga, Maret ini seperti terbaca kuartal 1 2021.

 

____

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments