Resensi: Isyana Sarasvati – LEXICON  

2156

Artis: Isyana Sarasvati
Album: LEXICON
Label: Sony Music Entertainment

Belakangan sosok Isyan viral di media sosial karena mewujudkan salah satu impiannya menirukan gerakan khas Tukul Arwana di televisi nasional. Setahun sebelumnya ia juga jadi cameo, mencuri perhatian dengan karakter kocaknya yang memiliki piaraan absurd bernama Sianjing dan Simonyet di film Milly dan Mamet (2018). Dengan imaji jenaka yang mendekati “bocor” itu, siapa sangka kalau Isyan sempat frustasi dan trauma menutup diri akibat media sosial.

Tapi Isyan berhasil mengatasi dengan merilis album ketiga LEXICON di penghujung 2019 ini dan mengejutkan banyak pihak. Karena berhasil meramu genre musik opera/klasik dengan rock/metal, dengan skill dan aransemen yang mumpuni serta mengangkat tema yang sangat personal.

LEXICON masih menawarkan denting piano dan liukan vokal Isyan. Namun kali ini minus nuansa urban, R&B joget-able dan sentuhan elektronik yang sebelumnya menjadi ciri Isyan. Gantinya kita akan disajikan nada-nada musik klasik era Victoria yang bahkan dibalut sentuhan rock/metal yang mengingatkan pada musik opera ala Queen.

Hal itu langsung mencuat melalui lagu pembuka “Sikap Duniawi”. Dalam 16 detik pertama Isyan langsung menghujani nada-nada opera/klasik sambil bernyanyi lantang hanya diiringi denting piano nan megah:

“Dengarlah wahai kawan-kawanku / Kini warna yang kelam hangus / Aku tahu kamu ‘kan bertamu / Selamat datang padaku yang baru”.

Menariknya lagu pembuka yang bernuansa seperti film musikal ini memiliki bagian reff catchy dan liriknya memompa semangat positif. Dan kemampuan Isyan memadukan kedua hal ini menjadi ramah di telinga tidak perlu diragukan lagi.

Di lagu kedua Isyan kemudian mengendurkan liang telinga dengan lagu balada yang sengaja ditulis tanpa huruf kapital, “untuk hati yang terluka” yang hadir seperti obat penawar dari sebuah ambisi.

“Jika kau tak dapatkan yang kau impikan / bukan berarti kau telah usai // Biarkan kegelapanmu / Menemukan titik terang baru / Basuhkan muka kembali / Memelukmu yang baru”

Lalu ada “Pendekar Cahaya” yang heroik dan berbau sains-fiksi. Membuat bertanya-tanya siapakah gerangan sosok sang pendekar yang berhasil mencuri hatinya dan menjadi dewa/dewi penyelamat bagi dirinya itu?

“Awal mula kita bersapa / Aku yakin kau jawabnya / Terasa dekat walau kali pertama bertatap mata // Datang dari mana / Pendekar cahaya?”

Setelah liang telinga mengendur telinga kita kembali dihajar oleh lagu yang cocok  dimainkan di festival musik metal. Bagaikan diberondong senapan mesin otomatis, lagu yang berjudul sama dengan albumnya “LEXICON” ini memang pantas mendapatkan perlakuan huruf kapital serta sekaligus menjadi tajuk album ketiganya. Isyan langsung memuntahkan isi kepalanya melalui gempuran drum dan gitar distorsi:

“Sang Nirwana / Menghadirkan mata-mata / Bersiap! // Yang ditanam mengapa berduri / Ingatlah karya pujangga / Cacian kini merajalela / Bisakah kita mengubah / Takdir kelabu, kubur jadi satu / Sambutlah kemarau tiba / Berguguran, tapi dikenang selamanya”

Simak pula bagian akhir lagu ini yang memuncak dengan permainan drum yang membabi-buta dan dengan bait lirik tegas:

“Yang berduri kok dirawat / Kau kira selamanya mereka akan percaya / Tapi maaf waktumu telah tiba”

Di lagu berikutnya Isyan mengendurkan tensi dan membuai dengan dentingan pianonya melalui “ragu Semesta” dengan untaian kata yang membuat kita kembali menebak-nebak, siapakah gerangan?

“Namun ragu semesta / Tak terlamun oleh manusia //Terus terang ku tak kuasa / Melihatmu terperangkap dalam kisah tak bermakna // Harapanku bersamamu / Biarlah menjauh / Mungkin kita ‘kan bertemu / Lain waktu di alam yang baru

1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] artis di industri musik Indonesia melakukan apa yang Isyana Sarasvati lakukan di tahun 2019 lewat Lexicon, albumnya yang paling personal sekaligus paling mewakili segala kemampuannya sebagai penyanyi, […]