Rekomendasi: Kata Dochi: Sebuah -Memoir- Memori

420

Buku: Kata Dochi: Sebuah Memoir Memori
Penulis: Dochi Sadega
Penerbit: Bukune

Sepertinya ada tiga alasan untuk membaca buku ini:

1. Fans Pee Wee Gaskins dan Dochi Sadega (atau APWG, haters-nya)
2. Penyuka buku musik lokal
3. Karena dikirimkan oleh penerbit bukunya

Dan saya masuk ke kategori dua dan tiga. Karena dikirimkan oleh penerbit Bukune, dan karena memang suka dan berusaha membaca mengikuti buku-buku musik lokal yang belakangan banyak diterbitkan.

Dan buku Kata Dochi: Sebuah Memoir Memori (2020) yang ditulis oleh Dochi Sadega sebagai pendiri/penulis lagu/bassis/vokalis Pee Wee Gaskins turut meramaikan buku musik lokal di kuartal kedua 2020 ini. Namun jangan harap akan menemukan buku lazim pada umumnya karena di dalamnya Dochi menegaskan berulang kalau ia bukan penulis, dan buku ini bukan biografi dirinya tapi lebih mengambil berbagai fragmen dalam kehidupannya.

“Buku ini isinya macem-macem, dari pikiran random yang pernah gue tulis di blog sampe cerita gue masa kecil termasuk jaman sekolah, cerita tongkrongan, beberapa tips, trivia. Jadi apakah buku ini biografi? Bisa dibilang bukan, bisa dibilang iya, karena isinya fragmen”

Maka itu buku ini hadir begitu ringan. Terdiri dari beberapa bagian dan tanpa harus dibaca secara berurutan, dan karena tidak memiliki daftar isi, bisa dibaca secara lompat-lompat. Berbagai cerita seperti teman khayalan saat kecil, dimusuhi di tongkrongan, sempat takut ditolak mertua karena bertato, hingga berbagai tips, dan daftar hal-hal yang ia sukai, mengisi buku ini. Bisa dibilang sebagian besar isi buku ini berasal dari buku jurnal miliknya, Def. Yang menjadi teman berceita keluh kesah selama bertahun-tahun dari remaja. Hingga kini telah banyak buku Def yang ia tulis.

Secara keseluruhan buku ini berhasil menceritakan kehidupan seorang Dochi Sadega. Dari jatuh bangun Dochi di lingkungan pergaulannya, menekuni berbagai instrumen musik dan bermain band, hingga tentang istrinya dan buah hatinya.

Meskipun Dochi menegaskan kalau dirinya bukan penulis, namun bantuan editor buku di sini berhasil memaksimalkan tugasnya dengan baik. Karena cukup tricky untuk menulis tentang pencapaian diri sendiri tanpa terdengar corny. Dan di buku ini hal itu bisa dihindari. Namun selain itu bagian favorit saya tentu ketika Dochi bercerita soal skena emo/pop punk pertama di Indonesia. Di sini saya mendapatkan sedikit banyak keping sejarah tentang salah satu genre dan subkultur remaja dalam musik rock di Indonesia era 2000an.

Buat saya pribadi yang rada mengganggu adalah gaya penuturan, dan alur yang kadang masih terasa jomplang dan kurang halus. Plus beberapa bagian berkesan corny. Seperti daftar Awesome Things, tips dan tulisan daftar-daftarnya -pengecualian untuk tips menulis lagu-. Tapi bisa jadi saya salah, karena buku ini pastinya ditujukan bukan untuk saya. Melainkan untuk fans Pee Wee Gaskins, mungkin fans perempuan Dochi. Serta juga untuk generasi seangkatannya. Namun meskipun begitu saya mempertanyakan kenapa daftar isi dihilangkan. Karena semenarik apapun buku yang memang didesain dengan alur yang loncat-loncat, tidak harus berurutan, tetap akan lebih memudahkan untuk dibaca. Kalau tetap ada daftar isi.

Pada akhirnya selain karena poin no. 3: dikirimi oleh penerbit Bukune, dan poin no.2: penyuka buku-buku musik lokal, akhirnya saya juga menemukan 2 poin baru, yaitu:

Poin no 4: saya juga jadi tahu sedikit banyak tentang skena musik emo/pop punk era 2000an di Indonesia, dan juga kiprah satu-satunya unit pop punk Pee Wee Gaskins yang berhasil memenangkan penghargaan AMI Awards dua kali.