Rekomendasi: Koil – Blacklight (CD, Vinyl Edition, Reissue)

Nov 5, 2021
Koil Blacklight

Ada lima alasan mengapa album Blacklight milik Koil penting buat musik rock Indonesia.

  1. Sebagai band 90an yang bertahan memasuki 28 tahun, jungkir-balik kuartet industrial rock Bandung ini patut dihargai. Selain hal-hal mistis yang menerpa sang vokalis dan grupnya mengakibatkan album keempat mereka terkatung-katung, Koil rajin merilis materi, mengarsipkan dalam digital album mereka sehingga mudah diakses generasi kini. Termasuk album ketiga -semoga bukan terakhir- mereka ini yang sebelumnya dirilis ulang beberapa kali.
  2. Beberapa kali? Yoi, Album berjudul lengkap Blacklight Shine On bisa diunduh gratis di 2007 via situs independen lokal Deathrockstar.tk, lalu dibagikan sebagai bonus majalah Rolling Stones Indonesia di tahun yang sama. Juga dengan menyambangi banyak tongkrongan (termasuk saya ketika saat itu nongkrong di studio Aru, saat masih tinggal di Bandung). Lalu dirilis ulang label Nagaswara dengan judul Blacklight (2001) plus dua bonus lagu. 2019 kemarin dirilis ulang dalam bentuk piringan hitam (vinyl) oleh Grimloc, dan sekarang dirilis dalam CD dengan kualitas audio versi vinyl. Jangan lupa album ini juga tersedia di Spotify dalam bentuk versi karaoke (!)

    Selain hal-hal mistis yang menerpa sang vokalis dan grupnya mengakibatkan album keempat mereka terkatung-katung, Koil rajin merilis materi, mengarsipkan dalam digital album mereka sehingga mudah diakses generasi kini

  3. Setelah video musik “Mendekati Surga” dari Megaloblast yang heavy rotation di MTV Indonesia bahkan mengalahkan Linkin Park, album ketiga ini menempatkan Koil dalam posisi musik niaga Indonesia dengan mendapatkan dua nominasi di AMI Awards 2011, Album Rock Terbaik dan AMI Award untuk Solo, Duo/Grup Rock Terbaik. Bersaing dengan nama besar seperti Slank, Edane dan J-Rock.
  4. Album ini merupakan artefak penting industri musik Indonesia era 2000an dalam peralihan analog ke digital, riuh soal pembajakan dan perdebatan abadi musik seharusnya gratis/tidak. Juga jadi bukti musik niaga kita sudah terbuka dengan musik rock gothic berlirik lantang dengan visual band kelam. Terbukti Koil kemudian terlibat mengisi soundtrack film 12:00 AM (2005), Kuntilanak 2 (2007) dan Wiro Sableng 212 (2018). Juga terlibat laborasi dengan Ahmad Dhani, dan Charly “ST12”, serta dirilis ulang oleh label Nagaswara. Yang saat itu merilis pop niaga dan pop melayu.

    Album ini merupakan artefak penting industri musik Indonesia era 2000an dalam peralihan analog ke digital, riuh soal pembajakan dan perdebatan abadi musik seharusnya gratis/tidak.

  5. Album puncak karya Koil ini selain penuh dengan imaji kelam dan gothic, dengan musik penuh sampling masinal, distorsi/fuzz kejam, juga diperkaya lirik-lirik jenius Otong yang tajam sekaligus menggelitik. Dengan nada vokal cathcy, ber-sing along, riff-riff gitar yang gagah dan hook keren dari sang gitaris, Doni terjaga padat oleh gebukan Leon.
  6. Eh kok, enam? Maaf, lima tidak cukup. Simak rangkaian lirik-lirik brengsek ultra-jenius dalam Blacklight ini:Tanpa ba-bi-bu bicara soal kebangsaan dan nasionalisme di lagu pembuka “Kenyataan dalam Dunia Fantasi”,

    Nasionalisme / Adalah tempat tinggal yang kita bela / Nasionalisme / Untuk negara ini adalah pertanyaan / Nasionalisme / Untuk negara ini menuju kehancuran / Nasionalisme / Menuntun bangsa kami menuju kehancuran
    Kritikan yang menggelitik di “Sistem Kepemilikan”,

    Ini negara bodoh yang sangat aku bela / Layaknya kekasih yang tercinta / Tiap jengkal aku mendaki terasa hampa / Sebetulnya apa yang kita miliki, tak ada  / Kebanggaan terhadap diri sendiri, tidak juga / Kepemilikan negara ini? Siapa yang kucaci maki?

    Setitik kepositifan di “Nyanyikan Lagu Perang”,

    Sampai kapan kau akan terus menunggu / Mendengarkan buaian lagu-lagu merindu / Dari seorang biduan yang punya banyak pasangan / Dari seorang pahlawan yang menambah garis kemiskinan / Dari seorang sastrawan yang menulis sejarah kebohongan / Dari seorang bersinar hitam yang mengaku dirinya Tuhan

    Dan menyendu di “Dan Cinta Kita Terlupakan”,

    Saat kau memejamkan mata / Saat untuk melupakan dirinya / Dan semua berakhir tanpa terasa / Dunia akan menghapus kenangan kita / Saat kau yakin akan keabadian Waktu berlalu / Dan cinta kita terlupakan.

 

Sampai sini rasannya tidak perlu perlu alasan lain untuk tidak menambahkan album penting ini ke dalam rak koleksi musik kita.

 

Penulis
Anto Arief
Suka membaca tentang musik, subkultur anak muda dan gemar menonton film. Pernah bermain gitar untuk Tulus nyaris sewindu, lalu bernyanyi dan bermain gitar untuk 70sOC.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

25 Tahun Pandawa Lima: Puncak Abadi Para Dewa

Pandawa Lima, album studio keempat Dewa 19 ini bahkan mengalahkan album Bintang Lima yang jauh lebih mengkilap angka penjualannya

Pergumulan Tanayu di Materi Terbaru

Sebenarnya, Tanayu sudah mulai menggarap lagu ini sejak tahun 2019 lalu. Namun, lagi-lagi situasi pandemi menjadi penghalang untuk melanjutkan prosesnya.