Rekomendasi: Mocca – Day By Day

171

Apa yang bisa lagi dilakukan Mocca, band indiepop berusia 21 tahun setelah merilis lima album? Dengan pengaruh dari band Swedia terbesar di 90an, The Cardigans, mereka kemudian memiliki formula dan sound khasnya sendiri. Dengan instrumentasi gitar, bass, drums dan penyanyi perempuan sekaligus pemain flute yang membalut musik mereka dengan indiepop Eropa 90an yang manis dengan progresi kord mayoritas dominan 7 yang akan membuat lagu apapun terdengar jazzy, ceria dan manis.

Kuartet indiepop kebanggan Bandung ini telah banyak mengeksplorasi semua unsur itu di lima album mereka sebelumnya. Dari My Diary (2002), Friends (2004), Colors (2007), Home (2014) dan Lima (2018). Juga telah melalui banyak hal hingga sampai pada posisi saat ini. Dari album perdananya yang penjualannya fenomenal, penghargaan video musik MTV Indonesia, kejutan-kejutan kolaborasi lintas genre/lintas negara di semua album serta distribusi album yang melebar ke Asia Tenggara, Korea dan Jepang. Yang terakhir membuahkan basis fans setia di negara tersebut juga bahkan sempat melakukan konser tunggal segala di Korea.

Lalu setelah semua itu apakah yang ditawarkan di album keenam mereka?

Album keenam ini kembali dirilis dengan kemasan collectible layak koleksi. Meneruskan tradisi album-album sebelumnya yang selalu hadir dalam kemasan unik. Dengan lirik yang kembali lagi ke bahasa Inggris setelah sebelumnya beralih secara penuh berlirik bahasa Indonesia -yang sebetulnya tidak mengecewakan- di album Lima sebelumnya. Meskipun tema yang dibicarakan masih area yang sama. Namun tidak salah juga mengingat pagar yang menjadi pembatas dunia Mocca yaitu musik pop.

Namun musik pop itu tricky. Mudah dan menyenangkan, tapi bisa membosankan. Terlebih ketika tidak meninggalkan kesan mendalam, maka berpotensi untuk cepat dilupakan. Ini menjadi permasalahan klasik pada karya-karya pop dalam berbagai budaya populer. Salah satunya album Day By Day Ini. Meskipun digarap dengan baik dan begitu detail, namun semuanya terlalu patuh pada rumusan formula khas Mocca yang tersebutkan sebelumnya. Semua menjadi lagu yang baik. Tapi karena upaya itu, justru membuat lagunya terjebak dalam mood yang seragam. Akan jadi hal yang sulit untuk membedakan lagu-lagu di album ini dengan album sebelumnya.

Untungnya ada track The Lights At The End Of The Tunnel. Kolaborasi dengan Rekti Yoewono dari The S.I.G.I.T yang tidak hanya menyumbangkan vokal, permainan gitar, tapi juga turut berperan menjadi produser khusus di lagu ini. Dan menjadikan lagu ini sebagai satu-satunya lagu yang diproduseri selain Mocca sendiri. Track ini kemudian menjadi lagu  menonjol dan menyegarkan meskipun instrumentasi yang digunakan sama persis.

Lantas membuat penasaran apa jadinya bila Mocca bekerja sama satu album penuh dengan produser musik di luar area nyamannya mereka. Entah itu yang areanya dekat, seperti Mondo Gascaro (secara penuh, tidak seperti di Lima yang hanya finishing), atau kekinian seperti Laleilmanino dan Petra Sihombing. Atau malah berkolaborasi sealbum penuh dengan Rekti mungkin?

Tapi ini adalah pilihan mereka sendiri yang sudah nyaman bermain di area indiepop tanpa merasa perlu untuk bereksplorasi lagi. Dan selama ini pasarnya masih ada, basis fansnya masih loyal dan bahkan sukses beregenerasi. Hal itu membuktikan kemampuan lain Mocca sebagai kuartet indiepop yang mampu bertahan di antara grup musik seangkatannya yang hanya tinggal sejumput jumlahnya. Bahkan umur dan keaktifan Mocca pun melampaui kebanyakan band indiepop Eropa inspirasi mereka, termasuk The Cardigans sendiri.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments