Rekomendasi PHI – Orkes Gumarang: Gumarang ’71

May 28, 2018

Tepatnya di Melbourne sekitar pertengahan tahun 2015, setelah rangkaian tur White Shoes & The Couples Company di Australia saya mendapat undangan after party di sebuah rumah. Ya ini adalah sebuah pesta rumah yang penuh dengan berbagai macam orang dengan latar belakang yang beragam. Mulai dari kurator, seniman, sutradara film, aktivis, musisi sampai bartender semua menikmati pesta dengan ditemani bir dingin.

Saat itu seketika konsentrasi saya terpecah ketika mendengar alunan irama musik Minang dimainkan oleh sang DJ. Saya langsung menuju ke DJ booth dan ternyata sang DJ sedang memutar sebuah kompilasi rilisan Sublime Frequency. Label yang selalu merilis musik-musik unik dan aneh yang berasal dari Seattle. Kali ini rilisan berjudul Folk and Pop Sounds of Sumatra Vol.2 dengan irama psychedelic bercampur cha-cha dan bernotasi Minang yang diputarkan di pesta.

Sampul album: Folk and Pop Sounds of Sumatra Vol.2, (2004) Sublime Frequencies

Sesampainya di Jakarta saya langsung mencari beberapa piringan hitam musik-musik sejenis itu. Dan akhirnya saya mendapatkan album Gumarang 71 ini, sebuah album yang menurut catatan di belakang kovernya tertulis “Gumarang pimpinan Asbon setelah sekian lama absen di dunia musik, maka tahun 1971 ini telah menjiapkan rekaman kerja baru dengan artis biduan biduanita terkenal diseluruh djagat”.

1
2
Penulis
Ricky Virgana
Ricky Virgana selain bermain bass untuk Whiteshoes and the Couples Company juga bermain cello musik klasik di Weltevreden trio dan mengajar musik privat serta kolektor piringan hitam . Selain punya hobi travelling dan sering dituangkan di blognya, ia juga hobi diving. Saat ini ia sedang menyelesaikan buku pertamanya.

Eksplor konten lain Pophariini

Dari Ini Kisah Tiga Dara, Tatyana Akman Mantapkan Karier Solo

Single kedua Tatyana Akman nanti akan membawa nuansa seperti lagu tahun 1990-2000an yang diberi judul “Cool”, bernaung di bawah label musik Darlin’ Records.

Menelusuri Jejak Masuknya Musik Ska Di Jakarta

Alasan saya menulis buku ini karena tak menemukan bahasan musik ska lokal. Padahal lebih dari dua dasawarsa lalu di Tanah air antusiasmenya fenomenal