Rekomendasi: Ras Muhamad – Satryo

265
Rekomendasi: Ras Muhamad – Satryo
Album ketujuh, Ras Muhamad – "Satryo"

Artis: Ras Muhamad
Album:
Satryo
Label:
Oneness Records

Setelah album keenam Salam (2014) duta reggae Indonesia, Ras Muhamad kembali dengan album terbarunya, Satryo yang dirilis Agustus lalu. Album ketujuh ini merupakan album kedua Ras yang dirilis secara internasional oleh label Oneness Records, asal Jerman.

Di album kedua rilisan internasional ini Ras memadukan elemen Jawa, Arab, serta filosifi Islam dalam balutan musik dancehall yang merupakan persilangan antara musik Jamaika dan hip hop yang menjadi khasnya. Penggunaan judul Satryo yang diambil dari bahasa Jawa sansekerta berarti kesatria dan sampul albumnya menyertakan lukisan Mauli Jalluddin Rumi, sosok penyair sufi sebagai bentuk kekaguman Ras karena sosoknya yang penuh cinta kasih, adalah salah satu contohnya.

Ras juga banyak berbicara sisi religiusnya, sehingga menjelma bak sosok spiritualis reggae yang baru. Yang tidak segan menyebut nama sang pencipta, Allah SWT dan hal-hal yang erat dengan seorang muslim serta keindahannya. Tentunya dalam lirik dan dalam konteks yang pas. Meskipun tetap tidak lupa mengedukasi tentang ideologi musik Jamaika. Seperti pada lagu “Pistol Parabellum”. Di tengah repetan kata-kata dalam bahasa Inggris Ras menyelipkan pesan;

Sering kubilang reggae itu budaya/bukan sebatas genre ataupun busana / Kingston Jamaika jangan dilupakan / Karena one love bukan sekedar ucapan

Tidak lupa menyelipkan keindahan Islam kali ini dalam bahasa Inggris;

See the Prophet message / Inna mi heart / It resonate love / To do my sholat & deeply meditate

Ras juga membicarakan tentang Islam lebih dalam di lagu yang judulnya diambil dari bahasa Arab, berjudul “Al Wadud”. Sebagai singel yang dirilis bertepatan pada saat Ramadhan 2020 lalu. Menariknya “Al Wadud” yang berarti maha mengasahi dan menyayangi ini hadir sebagai penghargaan tertinggi untuk Allah SWT, yang sebanding ketika kaum Rastafari memuja sosok Jah;

Ya Wadud, sang maha kasih, hadir lebih dekat dari nadi // Ya Wadud, sang maha kasih hembuskan cinta dalam rahimnya

Yang patut menjadi sorotan adalah juga lagu “Bambu Keras”. Seolah menjadi pernyataan walaupun kini berada dalam kancah internasional bukannya Ras tidak peka dengan isu-isu di Indonesia;

Tetap ku yakini Pancasila / Walau ku sujud ke arah kiblat // Pulau Jamaika ku napak tilas /  Tanah suci ku negeri Indonesia / Mereka larang tanaman khasiat / Namun bebas jual beli miras / Bahayanya marlboro dan Chivas / Namun tak ada yang tewas akibat sativa

Ada juga kritikan fenomena pengharaman musik yang sempat hangat;

Seni bagian dari budaya / alat musik juga pita suara / Musik kau larang / Jangan bicara seni yang bedakan kita dan binatang

Juga perihal pria yang sempat mendekam di penjara karena merawat istrinya dengan tanaman khasiat tak luput di lagu “Bambu Keras” ini;

Herbalist kau tahan dalam jeruji / Seakan kau tak punya sedikit rasa perduli / Apa kau tak ingin bangkitnya industri? / Fakta suda disiapkan / mari kita diskusi

Menarik sekali bagaimana Ras meleburkan isu-isu di Indonesia, serta gejolak religiusme pada dirinya dengan tanpa melupakan akar musik reggae yang sudah ia pegang teguh. Musik dancehall berpadu dengan nasionalisme dan sisi religiusnya, Ras membuatnya terdengar begitu orisinal baik di Indonesia maupun di kancah internasional. Semua itu ditopang oleh karakter vokal dan cengkok Ras yang terdengar semakin matang. Baik saat bernyanyi ataupun melakukan toast (rapping Jamaika).

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments