This Album Could Be Your Life – 50 Album Musik Terbaik Indonesia 1955-2015

Sep 23, 2020

Penulis: Taufiq Rahman Dkk.
Buku: This Could Be Your Life: 50 Album Musik Terbaik Indonesia
Penerbit: Elevation Books

Daftar album terbaik selalu menarik, terlebih jika membicarakan musik lokal. Entah untuk menutup tahun, meringkas dekade atau lainnya. Sebelumnya majalah Rolling Stone Indonesia pernah mengumpulkan pengamat dan kolektor musik untuk merilis daftar “150 Album Indonesia Terbaik” di akhir 2007. Kini Elevation Books, sub divisi Elevation records yang rajin menerbitkan buku musik dan album lokal merilis buku pegangan baru dalam memandang musik Indonesia yaitu This Album Could Be Your Life: 50 Album Terbaik Indonesia: 1955-2015. Menariknya, buku ini menghadirkan daftar berbeda dengan milik Rolling Stones Indonesia (RSI).

Sebagai perbandingan di urutan pertama daftar RSI ditempati oleh album soundtrack Badai Pasti Berlalu, lalu berturut-turut album Guruh Gypsy dan kompilasi Lomba Cipta Lagu Remaja 1978. Buku ini menempatkan album Badai Pasti Berlalu di urutan kelima. Gantinya urutan pertama ditempati oleh Dheg Dheg Plas – Koes Plus, kedua: Ports of Lima – Sore yang sebelumnya tidak masuk daftar dan Swami – Swami sebagai tiga besarnya. Wow, album kedua Sore, Ports of Lima ada di urutan kedua?

Sebelum membahas hal itu, daftar ini lahir dari para dewan juri yang aktif di kancah saat ini. Dari pustakawan musik Kineruku Bandung, Budi Warsito; seniman musik indie dan penulis musik, Harlan Boer; dosen dan penulis musik dari Bandung, Idhar Resmadi; penulis musik dan pendiri indie label Elevation Records, Taufiq Rahman; vokalis dan gitaris Bangkutaman, Wahyu Nugroho; serta penulis musik dan penggiat skena metal dari Malang, Samack.

Dan dari siaran pers dikatakan buku ini menempuh hampir dua tahun, melewati proses penjurian, penulisan, riset arsip, riset rilisan fisik, serta pemotretan dan penyuntingan. Dari situlah muncul beberapa hal yang cukup menarik. Selain -mengacu daftar RSI lagi-, menampilkan daftar 10 besar berbeda dan beberapa album yang sebelumnya tidak masuk ke dalam 150 album Indonesia terbaik versi RSI. Seperti Bandempo, Tony Scott & The Indonesian All Star, Remy Sylado, Semak Belukar dan Zeke Khaseli,. Dari semua nama itu satu album melejit ke posisi cukup tinggi yaitu album kedua Ports of Lima (2005) milik kuintet, Sore.

Tentu ada alasan kuat album Sore menjadi nomor dua setelah Dheg Dheg Plas milik Koes Plus. Ditulis oleh Idhar Resmadi, penuturannya cukup menarik. Menyamakan fenomena album Sore dengan kondisi musik pop Indonesia era 70an yang didominasi musik pop cengeng. Terlebih kita tahu dua album awal Sore memang begitu cemerlang. Namun ketika dibaca lebih lanjut saya tidak menemukan alasan kuat mengapa Ports of Lima yang dipilih ketimbang album debutnya, Centralismo. Secara berimbang tulisannya hanya membahas kualitas kedua album tersebut dan bagaimana pengaruhnya. Bukan alasan mengapa album kedua yang dipilih ketimbang album debutnya

Meskipun begitu buku ini banyak bercerita kisah dan mitos menarik yang melatari sebuah album. Sempat dijelaskan penerbit melalui akun Twitter-nya soal beberapa kisahnya telah diverifikasi. Sisanya? Rasanya lebih menarik bila dibiarkan apa adanya. Dan dari 50 album, Taufiq sebagai empunya Elevation Group menulis lebih dari separuhnya. Mungkin ada alasan tertentu, mengingat Budi Warsito yang terlibat sebagai dewan juri absen menulis. Dan meskipun tulisannya mendominasi dan dengan kadar snob yang -tentunya- lebih diredam, tulisannya tetap asik dibaca.

Sederhananya buku ini adalah pengarsipan musik Indonesia nan ciamik dikemas dengan grafis dan visual yang memanjakan mata. Dari tata letak, penggunaan huruf, pemilihan kertas, serta halaman berwarna. Dan jangan lupakan juga tampilan artwork albumnya yang seperti di scan dari format fisiknya saat dirilis entah itu kaset, CD atau piringan hitam. Sehingga terasa hangat seolah bisa disentuh langsung.

Yang juga menarik buku ini dikerjakan oleh pelaku kancah musik independen saat ini tanpa melibatkan generasi terdahulu. Sehingga selain memberikan sudut pandang baru, bisa terasa lebih relevan buat generasi saat ini. Ini juga bisa menjelaskan kenapa pemilihannya terasa tendensius. Kita tidak akan menemukan album milik band atau penyanyi perempuan populer yang berhasil secara penjualan di daftar ini. Meskipun untuk penyanyi perempuan disediakan slot satu-satunya untuk album era 80an, Melayang milik January Christy.

 

____

Penulis
Anto Arief
Suka membaca tentang musik, subkultur anak muda dan gemar menonton film. Pernah bermain gitar untuk Tulus nyaris sewindu, lalu bernyanyi dan bermain gitar untuk 70sOC.

Eksplor konten lain Pophariini

Gavendri – Should I | GOODLIVE Sessions

Di akhir bulan Agustus lalu, Gavendri kembali melepas satu lagi nomor yang membawa warna terbaru dari perjalanan bermusiknya, peralihan dari pop ke R&B.

Tiga Nama di Edisi Kedua Album Kompilasi Sun Eater

Setelah melepas edisi perdananya di bulan Agustus lalu, kali ini Sun Eater kembali melepas edisi keduanya dari album kompilasi ini.