408

Resensi: Burgerkill – “Adamantine”

Burgerkill Melanjutkan Impian Bersama Adamantine yang Indah dan Kejam

Artis: Burgerkill
Album: Adamantine
Label: {BKHC} dan demajors
Tahun: 2018
Ranking Indonesia: 8,2/10

Sulit untuk memisahkan paket artistik Burgerkill dengan perjalanan penjiwaan mereka yang terus meletus. Adamantine adalah buah metal yang berdebam pada tanah. Album kelima dengan penulisan lagu dan produksi suara yang beralur indah, bergoyang, berat mendamprat.

Lahir dari generasi 1990an, jatuh hati pada metal dan hardcore punk, suasana zaman tak bisa dielakkan. Di usia muda mereka, para pendiri Burgerkill mengenali nikmatnya menjadi kaum yang terasing dan mencari yang tersembunyi, mengenali “tarian-tarian baru” berupa slam dance dan headbanging, mendapati sendiri bagaimana Sepultura bisa menjadi band besar di dunia walau berasal dari Brasil, memainkan hardcore punk ala Gorilla Biscuits, Youth of Today, 7 Seconds di saat masih menjadi “pemandangan baru”, hingga merekam demo ketika cuaca bawah tanah memberi harapan terkini yang lebih cerah.     

Gitaris Ebenz, sepertinya dia bangor. Gagal naik kelas di Jakarta, ia pun meneruskan SMA di Ujungberung. Di sana ia bertemu pemain bas Kimung, sepertinya dia bangor. Keduanya kerap berjumpa di ruang BP akibat perilaku mereka yang kurang berkenan bagi sekolah. Selebihnya adalah kelanjutan yang cukup terduga: Burgerkill terbentuk layaknya band hardcore punk cover version biasa.  

Namun rupanya nyala jiwa Burgerkill bergitu membara. Setelah “jatah” masa muda mereka berhasil diraih dengan bermain di banyak acara underground di Bandung dan Jakarta, serta ikut sertanya single-single karya mereka di sejumlah album kompilasi independen yang cepat beredar dari mulut ke mulut- tangan ke tangan- kuping ke kuping , debut album “Dua Sisi” yang pertamakali dirilis via Riotic Records pada 2000 ternyata gejala amplitudo yang menggambarkan tinggi semangat dan panjangnya pandangan mereka. Dengarkan sekali lagi “Rendah”, misalnya, yang sungguh-sungguh ingin melibas jalan.

Burgerkill, dengan Ebenz sebagai satu-satunya personil awal yang hingga kini masih berdiri di sana, sudah banyak menunjukkan bagaimana mereka menghidupi musik kegemaran dan fokus pada imaji harapan. Dapat dipastikan mereka seru melahap berbagai musik ekstrem yang bingar dan memelihara tujuan dengan buas (walau kadang tertancap panah).

Pada album Berkarat (2003), gambaran itu semakin jelas saja. Burgerkill merilis album keduanya bersama major label Sony Music dan mengajak Fadly dari Padi untuk turut mengisi vokal di lagu “Tiga Titik Hitam”.  Bisa diprediksi bahwa Burgerkill menghendaki produksi album yang bagus dan distribusi yang luas bagi karya mereka, selain mungkin juga promosi yang lebih mudah tampak. Memilih Fadly merekam suara menjadi tanda juga bahwa Burgerkill ingin berkolaborasi dengan sosok yang mantap—kembali ke era itu, Fadly adalah penyanyi yang sedang tersorot mutu vokalnya. Burgerkill benar-benar sedang ingin melempar timah dari senapannya.

Musik Burgerkill terus berkembang. Di sisi lain adalah lirik-lirik vokalis Ivan Scumbag yang terus pekat dalam kesakitan hidup.

Baca juga:  Resensi : Idhar Resmadi - Jurnalisme Musik Dan Selingkar di Wilayahnya
1
2
Comments
Previous articleSekar, Suara Malaikat dari Magelang
Next articleIni Kriteria Band yang Bermain di Festival Seperti We The Fest
mm
Lahir 9 Mei 1977. Sekarang bekerja di sebuah digital advertising agency di Jakarta. Sempat jadi anak band, diantaranya keyboardist The Upstairs dan vokalis C’mon Lennon. Sempat jadi manager band Efek Rumah Kaca. Suka menulis, aneka formatnya . Masih suka dan sempat merilis rekaman karya musiknya yaitu Sakit Generik (2012) Jajan Rock (2013), Sentuhan Minimal (2013) dan Kopi Kaleng (2016)