279

Resensi : Grrrl Gang – Not Sad, Not Fulfilled

Grrrl Gang

Dinamit indiepop berbahaya dari kota gudeg

Artist: Grrrl Gang
Album: Not Sad, Not Fulfilled
Label: Kolibri
Peringkat Indonesia: 8/10

Mengingat trio indiepop ini makin sering dibicarakan di tahun 2018, maka sepertinya ini saatnya bagi kami untuk mengulas mini album mereka, Not Sad, Not Fulfilled di rubrik di resensi kami.

Kalau CD ini didisplay di toko kaset/CD, sekilas memang jika menyimak sampul albumnya, warna merah menyala dan bintang-bintang mampu memicu orang untuk melihatnya, meskipun tak yakin apakah orang itu membeli. Untuk sebuah sampul band indiepop, EP Grrrl Gang ini kelewat norak, meskipun isinya sangat berharga. Apakah ini memang image yang sengaja ditampilkan?

Baca juga:  Resensi : Mooner - O.M.

Ada tiga foto personil ditampilkan di sana mereka ditampilkan dalam gambar yang ‘tidak anak band’ terlihat glamor dengan pose ala 80-an. Ini mengapa, untuk menjadi relate dengan mini album ini, nampaknya pendengar harus melihat dulu seperti apa live performance mereka.

Not Sad adalah kumpulan karya-karya straight-forward guitar pop yang sangat enerjik. Saya pun terpaksa membuka kenangan-kenangan era 90an saya yang sempat tumbuh bersama musik-musik dari Heavenly, Talulah Gosh. Bukan sebab, pasalnya tarikan vokal Angeeta mengingatkan kami akan Amelia Fletcher. Musik gitar dengan rif-rif yang lurus, beat tergesa-gesa cenderung agak cerobong, sangat indah. Percaya atau tidak, pola seperti itulah yang membuat panggung mereka selalu penuh dan bergelora.

Baca juga:  Resensi: Kelompok Penerbang Roket – Galaksi Palapa
Grrrl Gang / dok. Kolibri

Secara keseluruhan, dengan format yang mereka pertahankan seperti ini akan sangat mudah bagi Grrrl Gang untuk membuat album penuh tanpa harus memikirkan apakah melodi gitar harus dibuat serumit mungkin ataukah ada drum solo di sana. Meskipun bumerangnya, dengan musik guitar-pop yang selurus itu, akan sangat sulit bagi orang untuk mau menggali apa isi dari lirik lagu yang keren macam “Guys Don’t Read Sylvia Plath” yang disampaikan Angeeta selain hanya sekadar bernyanyi sebagai bagian dari keriaan di panggung.