1627

Resensi: Hindia – Menari Dengan Bayangan

Artis: Hindia
Album: Menari Dengan Bayangan
Label: Sun Eater Coven

Siapa sangka album kedua milik Kunto Aji, Mantra Mantra bisa membidani lahirnya sebuah album bertema serupa. Adalah Menari Dengan Bayangan, album solo perdana milik vokalis .Feast, Baskara Putra dengan moniker Hindia. Yang menariknya dalam dalam waktu 9 bulan, semenjak singel pertamanya dirilis album ini mampu mencapai 1 juta monthly listener di layanan digital streaming Spotify.

Pertama menyimak album Menari Dengan Bayangan (MDB) ini kesan yang ditangkap musiknya langsung mencengkram telinga kuat-kuat. Karena perpaduan bebunyian masinal dan akustik, groovy, menenangkan, dengan amarah secukupnya, dengan pemilihan lirik catchy panjang yang berserakan tapi terjaga dan berima, plus notasi vokal, cara bernyanyi yang unik.

Dibuka dengan untaian kata dan piano muram di “Evakuasi” yang kemudian dibalut oleh musik dengan groove yang cocok untuk headbang, Baskara memilih bersumpah pada seribu Tuhan ketimbang satu saja untuk menggambarkan berat beban yang dipikul.

Seribu Tuhan, ini berat / Bangun, berpura menjadi kuat / Sungguh semua ini bom waktu /
Memikul ceritamu, memikul salahku /
 
Ia pun menggeram di bridge terakhir:

“oh evakuasi / Jangan cari aku / Siang hari, sore nanti, malam ini“

Wow. Oke, kita akan bicara liriknya belakangan. Sekarang musiknya dahulu.

Secara garis besar Hindia menghadirkan musik masinal dan instrumen live secara berimbang di album ini. Dari ketukan statis, musik instrumen live, balada akustik serta tentunya perpaduan masinal dengan live instrument.

Semuanya dibalut dengan musik pop yang meskipun muram, tapi tetap memiliki hook yang kuat dan catchy. Dinamika albumnya pun menarik. Mencampur hip hop, balada, folk, funk, soul hingga elektronik dan direkatkan dengan lirik yang sederhana tapi bisa menggugah.

Contohnya adalah “Evaluasi”, singel pertamanya yang ditempatkan jadi lagu terakhir di album ini. Musik megah berlirik positif ini adalah contoh sempurna bagaimana singel pertama langsung diamini dan terasa mengena ke banyak orang ketika dirilis di Youtube. Tidak percaya? Silahkan cek kolom komentarnya yang menjadi ajang curhat itu.

Musik dan lirik MDB juga digarap dengan berurutan dan terjaga mood-nya. Dimulai dari bangun tidur (lagu “Evakuasi”), hingga menjelang tidur dan bersiap menghadapi esok hari (“Evaluasi”). Lengkap dengan skit (potongan dialog) yang berisi cerita dari perempuan-perempuan terdekat dalam hidupnya. Rasa intim ditawarkan Hindia. Lalu tanpa menggurui, ia membuka lapisan-lapisan dirinya satu persatu agar bisa memahami dirinya dan kemudian merasa terhubung.

Baca juga:  Resensi: Texpack - Spin Your Wheels

Skit yang lazim ditemui pada musik hip hop ini seolah menjadi tribut untuk musik yang turut memengaruhinya. Itu juga kenapa kita menemukan banyak musik dengan ketukan statis dan masinal dan rentetan kata-kata panjang ala hip hop yang kemudian menjadi ciri Hindia. Dan meskipun beberapa orang tidak bisa menikmati cara bernyanyinya yang cenderung diberat-beratkan, tapi sisi positifnya adalah vokalnya stabil menyanyikan nada-nada rendah itu. Dan bila dibutuhkan, ia bisa menggeram tinggi penuh emosi. Sehingga karakter, cara bernyanyi vokal Baskara dengan lirik yang ia tulis membuatnya tidak terdengar seperti siapapun.

Baskara juga mampu menulis bahasa Indonesia terdengar mudah dan tanpa tendensi. Kita tahu menulis lirik Indonesia tidak mudah, tapi Ia melakukannya dengan kasual, terbebas dari jebakan terlalu puitis atau abstrak. Simak potongan lirik “Membasuh” ini,

Bisakah kita tetap memberi / Walau tak suci? / Bisakah terus mengobati / Walau membiru? / Cukup besar ‘tuk mengampuni / ‘Tuk mengasihi / Tanpa memperhitungkan masa yang lalu / Walau kering / Bisakah kita tetap membasuh?

Rasa kemanusiaan yang kini dirasa ‘menguap’ menjadi sorotan di lagu “Membasuh”. Lagu yang awalnya sempat menjadi calon judul album ini.

Dengan repetan kata-kata yang bebas, luwes, Baskara bisa menganalogikan kesepian dengan mobil baru, PS 4, Nintendo Switch dan sneakers. Lalu di bait reff-nya Ia bisa membicarakan kematian. Dengan rima terjaga, semua dituangkan dalam “Untuk Apa/Untuk Apa?”

Mobil baru mengkilap tanpa penumpang di kiri / Banyak sepatu minim privasi susah pergi /
PS 4, Nintendo Switch tanpa player dua // Terlepas apa yang engkau percayai / Tetap takkan ada yang dibawa mati / Kembali ke tanah dan tumbuh cemara.

Ia juga mengisahkan kehidupan remaja yang sekilas seperti curhatan anak agensi Jak-Sel dalam “Esok Mungkin Sampai” dengan kata-kata bijak tanpa terdengar menggurui.

Selalu minta bertemu lagi / Namun hanya bersua di reuni / Nama-nama yang datang dan pergi / Kadang bagai maling di malam hari / Jangan takut melihat yang ambil cuti / Kapan-kapan semoga kau berani / Hidup bukan saling mendahului / Bermimpilah sendiri-sendiri

Kita juga harus membicarakan lagu “Secukupnya” yang dengan video musiknya kemudian menjadi cetak biru penyampaian lagu-lagu Baskara ke depannya. Dengan meminta pendengarnya mengirim video mereka, lalu dibuatkan video musik berisi potongan-potongan video itu dengan ditambah oleh teks-teks pendukung. Video musik ini kemudian menjadi metode yang berhasil, hingga diulang beberapa kali dalam video musik lainnya.

Baca juga:  Rainbow Aisle

Dalam salah satu kolom komentar di Youtube-nya, salah satu akun bahkan membagi tips untuk menikmati video Hindia:

“Tiap dengerin lagu ini aku butuh ulang beberapa kali. Pertama: aku memaknai liriknya. Kedua: mem pause videonya sedikit sedikit demi memaknai kutipa kata-kata yang ada. Ketiga: Memaknai isi video yang sangat menyentuh. Keempat: membaca komentar dari teman-teman Hindia.”

Dari mana datangnya metode ini? Baskara lulusan mahasiswa FISIP UI angkatan 2015 yang juga aktif di jagat maya dan media sosial cukup lama. Dari Twitter sejak 2010, dan terutama di ASKfm (ask.fm). Di platform terakhir Baskara rajin berinteraksi seingga kebanjiran pertanyaan, dan jadi tempat konsultasi terpercaya remaja seusianya. Sehingga kemudian Ia bersama kawan-kawannya mendirikan Bagikata.com di 2016. Sebuah platform daring untuk curhat dan saling berbagi informasi bagi generasi muda yang masih aktif hingga kini.

Baskara juga sempat menjadi brand manager di label rekaman Double Deer. Dan akhirnya membuat perusahaan label dan manajemen bakat, Sun Eater Coven yang menaungi beberapa musisi termasuk .Feast dan Hindia sendiri. Dengan semua bekal itu tidak heran bila Ia fasih metode komunikasi dan marketing. Yang menjadi kunci pergerakan Sun Eater, .Feast termasuk sosok Hindia sendiri.

Disadari atau tidak, efek interaksi dan kebersamaan yang telah ia lakukan selama ini membuat dirinya dipercaya dan disukai sehingga ia bagaikan “nabi” dan memiliki penggemar fanatik. Dan tidak jarang mereka bersikap banal. Tapi ini jelas menarik dan patut ditelusuri. Bagaimana Hinda -dan juga .Feast- bisa punya fans garis keras yang militan?

Badan Pusat Statistik menyebutkan tahun ini usia produktif mendominasi populasi kota besar. Dan remaja usia 25-30 tahun yang masuk di dalamnya adalah salah satu populasi yang rentan stres/depresi. Karena mereka mulai dituntut untuk menjadi dewasa dengan masalah yang terdengar seperti sepele. Dari menghadapi ujian sekolah, urusan percintaan, masuk PTN, pertama kali mencari kerja, rencana menikah, tekanan orang tua dan lingkungan sosial, dan masih banyak lagi.

Baca juga:  Rekomendasi: Beda - Think About Things

Dan bukan kebetulan bila isu-isu itu banyak disinggung di dalam lirik dan video MDB. Sehingga mampu beririsan dengan problem para remaja yang termasuk salah satu populasi terbesar saat ini. Perlu bukti lagi? Cek kolom media sosial dan Youtube video-video Hindia yang kolom komentarnya sering menjadi ajang konseling terbuka yang saling suport.

Dengan efek yang sebegitunya, MDB adalah bagaikan versi agresif dan lanjutan dari Mantra Mantra-nya Kunto Aji. Dengan diksi lirik yang acak seperti kolase, pemaknaan lirik yang ke sana kemari, dengan vokal yang bisa menggeram sekaligus, santai dan bijak. Musiknya pun ramai. Dari bebunyian masinal hingga instrumen live riuh dengan solo gitar, hingga musik akustik balada. Semuanya komplit disajikan di album ini dengan bingkai musik pop ala Hindia (atau, bolehkah kita sebut: Hindia-pop?).

Yang terakhir, mendengarkan MDB bagaikan teman nongkrong yang asik. Liriknya bisa serius membicarakan kehidupan dan kematian, surga dan sosial media tapi juga bisa membahas soal PS4 dkk, nihil ATM BCA dan transferan uang yang belum masuk, serta curhat tentang cita-cita cinta yang dipatah keluarga.

Kalau harus bicara kekurangan album ini adalah cara bernyanyi Baskara yang mungkin tidak bisa menyenangkan semua orang. Musik yang groovy dengan vokal berat terdengar kaku dan tidak dinamis. Tapi itu soal selera, dan saya tidak masalah. Masalah lainnya lagi adalah tempo lagu-lagunya yang nyaris sama. Sehingga berpotensi terasa monoton. Tapi lagi-lagi tidak masalah, karena dinamika dan temanya cukup terjahit rapih.

Tidak berlebihan bila menyebut Hindia adalah angin segar untuk musik Indonesia. Terutama karena musiknya bisa menjadi corong untuk generasi muda di usia 20-an yang rentan stres/depresi.

Selain itu album MDB ini juga mencontohkan bentuk komunikasi yang menarik bagaimana penggunaan media sosial dan Youtube yang baik bisa jadi sarana komunikasi dan menjalin engagement positif antara musisi dan pendengarnya secara langsung dan tanpa batas.

Internet positif? Bisa jadi jawabannya ada di Menari Dengan Bayangan.

 

____