136

Resensi: Jirapah – Planetarium

Artist: Jirapah
Album: Planetarium
Label: Kolibri Records
Peringkat Indonesia: 8/10

Ruang-ruang kenangan dan perenungan Jirapah di Planetarium

Saya tengah getol lagi membaca buku Our Band Could Be Your Life: Scenes from the American Indie Underground, 1981–1991. Ditulis oleh jurnalis dan penulis musik Michael Azerrad, buku yang dulu pernah beredar di Toko Buku Aksara ini bercerita soal profil band-band indie underground di Amerika. Nama-nama seperti Black Flag, Minutemen, Sonic Youth, The Replacements, Fugazi sampai Beat Happening diulas habis di buku dengan tebal halaman cukup banyak.

Muncul di benak saya, mengapa setelah era tersebut tak ada lagi ulasan soal profil band-band Indie Underground di dasawarsa-dasawarsa sesudahnya? Apakah kemudian band-band sudah tak lagi menarik? Padahal paling tidak, kalaupun ada mungkin saja nama-nama seperti Wilco, Kurt Vile, Beachwood Sparks atau roster-roster seru di label Trouble In Mind bisa masuk di dalamnya.

Baca juga:  Resensi: Pijar – Antologi Rasa

Saya jadi mengandai, jika ada penulis yang ingin mendedikasikan waktunya untuk menulis buku sejenis Our Band Could Be Your Life versi Indonesia, saya dengan lantang akan merekomendasikan Jirapah dalam daftarnya selain dari Seek Six Sick, C’mon Lennon, Sajama Cut dan Zeke and The Popo.

Mengapa kemudian Jirapah begitu penting? Padahal jelas selain tidak terlalu aktif, band yang dimotori oleh Ken Jenie (gitar) dan Mar Galo (bass) bukanlah band dengan ribuan penggemar. Namun yang menarik adalah mereka menjadi satu dari band yang menjadi dasar perjalanan musik pop underground di Indonesia selama bertahun-tahun.

Musik ekletik yang telah mereka usung selama ini selalu membuat saya terkesan. Saya ingat ketika “Crowns” muncul di soundtrack Rocket Rain, kadar kecintaan saya makin tinggi. Sebuah musik pop yang tidak biasa, saya ingat betapa awalnya saya mengagumi aksen Inggris-Amerika yang kental Ken Jenie membuat saya mengira mereka memang band asli Amerika (di luar mereka terbentuk di Brooklyn, New York). Saya pun tak mengira bahwa mereka akan membuat lagu – terlebih album dalam bahasa Indonesia, sampai kemudian muncul Planetarium, saya makin terkesan.

Baca juga:  Resensi: Bilal Indrajaya - Purnama

Lewat Planetarium, Jirapah mempersilahkan pendengarnya melihat ruang-ruang perenungan. Secara kasual saja, memaknai album ini, saya jadi merenung di kursi belakang wahana planetarium. Duduk di kursi, ruangan gelap memandang teropong di depan, memandang ke atas dalam kegelapan. Begitu pertunjukan dimainkan, segenap mata dimanjakan dengan perjalanan galaksi. Disitulah timbul beribu renungan, kenangan, angan, kenestapaan, kemarahan dan perasaan-perasaaan yang lainnya. Perasaan serupa timbul juga ketika mendengarkan album ini.

Highlight saya di album ini tentu saja adalah “Planetarium”, sebuah 8 menit perjalanan lagu yang layak untuk disimak, bagaimana mereka menempatkan nada dan dinamika dalam sebuah suasana yang indah, bukan perkara mudah dan ini layak diapresiasi.

Nomor-nomor lain seperti “Matahari”, “Menjamur” juga menarik untuk disimak di album ini. Jika ditanya mana lagi lagu yang paling berkesan, saya akan menjawab “Bekerja”, sebuah nomor laidback yang sukses terputar berulangkali. Kesan saya akan lagu ini: tidak mudah membuat sebuah komposisi yang menarik hasil kelindan yang indah dari gitar dan bass. “Bekerja” sukses menghadirkan itu, setiap notasi yang dipilih mereka seakan mengingatkan saya akan banyak kenangan, mulai dari hal sederhana seperti ending kartun Mojacko, petikan-petikan indah Yo La Tengo dan suasana sejenis lainnya.

Baca juga:  Resensi: Seringai - Seperti Api

Kembali ke soalan apakah ada versi Indonesia dari Our Band Could Be Your Life dan Jirapah bisa masuk ke dalamnya, paling tidak Planetarium bisa mungkin jadi calon album terbaik versi Pop Hari Ini di 2019.

1
2
Comments
Previous articleRayakan Ultah 17 Tahun, St. Loco Gelar Konser
Next articlePara Musisi Melawan Asap Karhutla
mm
Wahyu “Acum” Nugroho Musisi; penulis buku #Gilavinyl. Menempuh studi bidang Ornitologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menjadi kontributor beberapa media seperti Maximum RocknRoll, Matabaca, dan sempat menjabat redaktur pelaksana di Trax Magazine. Waktu luang dihabiskannya bersama bangkutaman, band yang 'mengutuknya' sampai membuat dua album.