137

Resensi: Kurosuke – The Tales of Roses & Wine

Artis: Kurosuke
Album: The Tales of Roses & Wine
Label: Berita Angkasa

Kurosuke, alias Christianto Ario, gitaris Anomalyst, yang juga session guitarist dan membantu musisi seperti Mondo Gascaro dan Polka Wars telah merilis album solo keduanya yang berjudul The Tales of Roses & Wine. Jarak perilisan ini terbilang cepat karena setahun sebelumnya Ario merilis album penuh perdana yang berjudul sama Kurosuke di 2018.

Namun tidak ada yang terlalu cepat bila bicara soal produksi album Kurosuke, mengingat album perdana sebelumnya ditulis dan direkam dengan sangat cepat. Hanya 2 jam menulis lirik, dan 2 minggu merekam materinya. Lucunya album solonya yang sangat ekspres dan tanpa ekpektasi apapun ini mendapatkan respon yang bagus. Bahkan melambungkan namanya sendiri hingga melampaui band-nya, Anomalyst yang kini malah berstatus hiatus.

Awal tahun ini Kurosuke sempat merilis singel duet dengan Kitten Dust yang berjudul “Velvet” yang begitu manis. Sekaligus mengukuhkan sosoknya sebagai multiinstrumentalis sekaligus singer/songwriter dengan karakter vokal kuat baik dari musikalitas maupun kharisma sosoknya yang sangat berbeda dengan singer/songwritter lain yang ada di kancah lokal saat ini.

Baca juga:  Resensi Anjing Dub – Gembira

Paska kembalinya Koruseke dengan album kedua yang terbilang cepat ini materinya dikerjakan sejak Desember 2018. Dan dengan rentang waktu yang cukup panjang tentu sulit untuk tidak menyimpan ekspektasi tertentu akan apa yang akan ditawarkan Kurosuke melalui album tentang kisah-kisah bunga mawar dan minuman anggur ini melalui 8 track dengan 2 track instrumental.

Seperti album sebelumnya, Kurosuke kembali membuka track pertama dengan intro musik intrumental yang gloomy. Lalu masuklah musik yang bernunansa disko/funk 70an – atau kini, city pop – berjudul “Moscato” yang membuka album ini dengan musik ceria, lirik optimis dan manis. Sangat menjanjikan dan harapan pun melambung tinggi. Pun dengan potongan liriknya yang optimis melambungkan harapan.

Baca juga:  Resensi: Pangalo! - Hurje!: Maka Merapallah Zarathustra

“Here we go / To a place we can grow / It’s a blessing to be in love / We’ve got whole life to grow”

Lalu berturut-turut “Roses” dan “Little Joy” menyambangi telinga dan sedikit menurunkan tempo lagu-lagunya. Tapi situasi tetap kondusif, karena kedua lagu ini sudah dirilis sebagai singel sehingga terasa sangat familiar. Walaupun dengan tempo yang diturunkan namun balutan musiknya yang masih ceria dengan notasi lirik yang begitu pop dan lirik tetap manis. Seperti pada bait chorus-nya “Roses”

“Every time i see your eyes / I know roses fill your eyes / The skies are clear / The sun is here / I see roses in your eyes”

Lalu telinga kembali disodorkan pop manis berikutnya melalui suara synth, kibor dan cabikan gitar yang menari-nari dan saling bersahutan di “Little Joy”

“Wouldn’t it be nice / If we live side by side / Walking hand in hand / Life will be a little joy”

Baca juga:  Resensi: Niki - wanna take this downtown?

Namun ternyata keceriaan ini tidak berlangsung lama. Track ke 5 “The Tales of Roses & Wine Pt. 2” menjadi penanda kita akan dibawa ke dalam mood yang berbeda. Kurang lebih sama dengan album pertamanya. Lagu-lagu mellow bertempo lambat, dengan kadar gloomy langsung menghampiri. Yang awalnya seperti menebarkan harapan untuk membuat berdansa, ternyata malah kunjung sirna.

Setengah album ke belakang rasanya seperti kembali mendengarkan album perdananya. Dengan mood dan instrumentasi serta notasi yang hampir sama. Walaupun sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal itu. Namun dengan berhasilnya menaruh lagu upbeat sebagai pembuka, saya pribadi berharap Ario lebih banyak untuk bermain di area baru yang lebih ceria dan upbeat dan jelas sudah berhasil melalui “Moscato”, “Roses” dan “Little Joy” itu.