Resensi: Lagu Baru Dari Masa Lalu, Vol. 1

Jun 28, 2021
Lagu Baru Dari Masa Lalu

“Kisah Insani” sangat insane, sementara “Senja dan Kahlua” terdengar sangat memabukkan. Dan jika anda mendengarkan “Terbanglah Lepas” dengan kondisi tertentu, anda akan ‘terbang’ dalam setiap melodi yang ‘dibungkus’ di lagu ini.

Itu kurang lebih kesan pertama saya begitu mendengarkan mini album Lagu Baru Dari Masa Lalu vol.1, sebuah set rekaman lagu baru dari masa lalu yang digarap oleh sekian kecil musisi ibukota. Lho, mengapa dari masa lalu? Ya, karena sejatinya lagu ini bukanlah lagu dari masa kini, namun merupakan set mahakarya dari penyanyi dan musisi tanah air dari masa lalu, terutama dari era akhir 80-an. Sebuah era yang menurut pendapat saya sebagai masa kebebasan eksperimen.

Maka saya pun berterimakasih kepada Irama Nusantara dan demajors yang akhirnya memunculkan seri kompilasi ini sebagai langkah awal musisi hari ini mengapresiasi lagu-lagu dari musisi di era sebelumnya.

Dan menarik juga bahwa kompilasi rekaman ini dibuat berseri. Saya bahkan langsung menunggu ada vol. 2, 3, 4 kalau bisa sampai 10 sambil membayangkan bahwa seri kompilasi ini akan dijadikan CD/vinyl boxset, sebuah harta otentik yang bakal jadi rebutan banyak penggemar fanatik musik Indonesia dan rekaman fisik pastinya.

Betapa tidak, pilihan lagu dari masa lalu yang dipilih sangatlah tepat, bahkan musisi yang mengaransemennya juga tepat (bahasa sekarang: bukan kaleng kaleng). Mereka adalah nama-nama baru dan menjanjikan yang bisa ‘menghormati’ mahakarya masa lalu dengan membuat aransemen yang sedap dan pas, tidak kurang juga tak lebih.

Tengok saja “Kisah Insani” misalnya, kita dapat mendengar aura masa lalu dari duet maut Chrisye – Vina meskipun Mondo dan Andien memberikan sedikit ‘eksperimen psikedelik’ pada bagian tengahnya, yang membuat lagu yang lebih panjang satu menit ini tetap nikmat didengar.

Lalu “Walau Dalam Mimpi”, lagu jazz pop klasik David Messakh yang dibawakan suara dahsyat milik Ermy Kullit tetap bisa relevan untuk dinikmati hari ini meskipun dibuat versi soul-funk yang laidback oleh tangan dingin Dhira Bongs.

Vira Talisa yang mengulik lirik Indonesia sejak di album Privamera, mampu menerjemahkan seperti apa “Dunia Yang Ternoda” yang dipikirkan Jimmie Manopo di tahun ’82. Sekadar informasi, lagu ini juga pernah dibawakan oleh Erni Sumarto, juga dari era yang sama.

Entah mengapa namun duet Aya Anjani dan Parlemen Pop memang tak bisa tergantikan ketika menggarap lagu klasik soul disko karya mendiang sang ayah Aya, maestro Yockie Suryo Prayogo (yang ketika itu menampilkan Hetty Koes Endang). Aransemen ini, dengan tempo yang lebih lambat, membuat lagu menjadi lebih hidup dan memberi injeksi ke karya aslinya.

Last by not least, Kurosuke sebagai penutup berhasil membawa mahakarya “Senja Dan Kahlua” menjadi sebuah aransemen yang sempurna. Ketukan di outro lagu selama hampir setengah menit menjadi salah stau jagoan lagu ini. Malah harus saya bilang, saya menyukai outro di versi ini daripada aslinya dengan ketukan yang tak teratur, meskipun dua-duanya punya letupan musikal yang dahsyat.

Like i said before, saya tak sabar menunggu vol. 2 dari seri ini. Dan andai saja tak ada pandemi yang berkepanjangan ini, tentunya malam ini saya berharap ada di Zodiac bersama Diskoria yang membawakan lagu-lagu ini dalam seri Suara Disko volume kesekiannya.

Penulis
Wahyu Acum Nugroho
Wahyu “Acum” Nugroho Musisi; penulis buku #Gilavinyl. Menempuh studi bidang Ornitologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menjadi kontributor beberapa media seperti Maximum RocknRoll, Matabaca, dan sempat menjabat redaktur pelaksana di Trax Magazine. Waktu luang dihabiskannya bersama bangkutaman, band yang 'mengutuknya' sampai membuat dua album.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Album Ningrat, Jamrud: Kontrasepsi dan Duka Surti

21 Tahun album Ningrat milik Jamrud , gitaris dan penulis lagu Azis M.Siagian sempat bikin geger tahun 2000 lewat “Surti-Tejo”.

Sinergi Sri Hanuraga dan UPH CoM

Adalah musisi jazz Sri Hanuraga bersama dengan UPH Conservatory Of Music yang mengambil sinar panggung kolaborasi kali ini.