198

Resensi: Made Mawut – Merdeka 100%

Artis: Made Mawut
Album: Merdeka 100%
Label: Pohon Tua Cratorium
Peringkat Indonesia: 8/10

 

Musisi Bali ini sukses menyajikan musik delta blues tradisional berlirik Indonesia nakal nan puitis yang menggelitik sekaligus menusuk. Dan yang utama dinyanyikan dengan begitu soulful. Semua dilakukan Made Mawut di album keduanya, Merdeka 100% yang digarap dengan bantuan produser Dadang Pranoto alias Dankie gitaris “Navicula” dan juga gitaris/vokalis “Dialog Dini Hari”.

10 lagu dihadirkan Made di album keduanya ini yang dirilis oleh Pohon Tua Cratorium. Semua lagu musik dan liriknya ditulis oleh Made sendiri, dengan tambahan beberapa lagu diambil dari album pertamanya, Blues Krisis dengan aransemen berbeda. Dan sesuai nama belakangnya “Mawut” seperti dalam menu nasi goreng mawut yang artinya campur aduk, begitu pun musik di album ini. Delta blues tahun 1920an ala Made bisa terdengar luwes bermain-main ke sana ke mari tanpa harus terpaku pada rumusan I IV V yang umum dalam musik blues 12 bar standar.

Baca juga:  Resensi: Jirapah - Planetarium

Hanya ditemani gitar akustik, slide guitar besi di jari kiri yang lazim dipakai musisi eranya, dengan harmonika, Made melengkapi dirinya dengan lirik-lirik yang menjadi kekuatannya. Plus ia pun bernyanyi dengan karakter vokal khas penyanyi blues tua dan terdengar begitu matang, meski kadang fales dan sedikit meleset. Tapi itulah seninya.

Yang juga harus digaris bawahi adalah permainan gitar finger-style blues nya yang sangat mengasyikan. Tidak mudah untuk bermain delta blues ini. Dengan ibu jari yang harus memetik not bass yang harus konstan menjaga ketukan agar tidak lari-lari, sementara 4 sisa jarinya bermain mengisi ritem ataupun bermain licks gitar blues merespon celetukan vokal Made.

Liriknya Meski hanya berteman dengan gitar akustik saja mampu mengisi ruang kosong serta memberi nyawa sehingga aransemennya terasa penuh dan lengkap

Album Merdeka 100% ini dibuka dengan lagu berjudul sama bergaya boogie woogie yang joget-able. Made yang sehari-harinya seorang chef lalu membicarakan makanan Meksiko, Jalapeno di “Jalapeno Blues”. Dan bukan lagu blues namanya bila ujung-ujungnya ternyata ia bernyanyi tentang perempuan dan suasana hatinya. Nakal! Ia juga meng-cover lagu keroncong tempo dulu “Di Bawah Sinar Bulan Purnama” yang dihadirkan dengan nuansa blues tapi dengan tidak menghilangkan nyawa lagunya. Kejutan pertama: usaha ini sangat berhasil. Dengan penyederhanaan kord dan cara bernyanyi Made yang malas (bluesy) tapi syahdu, Ia berhasil membuat lagu ini menjadi miliknya.

Baca juga:  Resensi : Duara - Flights of Imagination

Keragaman materi delta blues ini kembali hadir melalui “Sesat” balada tentang cinta yang upbeat dan penuh amarah. Bagian reff yang meninggalkan pakem blues pun terasa nikmat sebelum lagunya kembali ke dalam struktur blues 12 bar pada verse-nya. Lalu ada “Paceklik” yang musiknya begitu spiritual bagaikan pelajaran sejarah esensi musik blues dan perbudakan. Dan album ditutup dengan kejutan di lagu super-catchy, “Terlena” yang hadir lebih festive dengan ditemani oleh bass betot dan instrumen perkusi tipis di belakang. Ditambah progresi kord bagian reff yang lari dari pakem blues dan berhasil enak, menjadikan lagu ini sebagai penutup album yang manis dan meriah.

Mari bicara liriknya. Meski hanya berteman dengan gitar akustik saja, lirik-lirik yang ditulisnya mampu mengisi ruang kosong serta memberi nyawa sehingga aransemennya terasa penuh dan lengkap. Terlebih ketika Made mampu memilih notasi vokal blues dan memadukan dengan bahasa Indonesia dengan baik sehingga tidak terdengar ganjil. Ditambah tidak lupa Ia memperlakukan liriknya bak syair lama. Di sini kepiawaiannya bermain-main dengan rima di lagu-lagunya pun tampak. Seperti ketika ia mempertanyakan soal kemerdekan di lagu “Merdeka 100%” dengan patuh berima: