Resensi: Made Mawut – Merdeka 100%

Sep 10, 2019

Artis: Made Mawut
Album: Merdeka 100%
Label: Pohon Tua Cratorium
Peringkat Indonesia: 8/10

 

Musisi Bali ini sukses menyajikan musik delta blues tradisional berlirik Indonesia nakal nan puitis yang menggelitik sekaligus menusuk. Dan yang utama dinyanyikan dengan begitu soulful. Semua dilakukan Made Mawut di album keduanya, Merdeka 100% yang digarap dengan bantuan produser Dadang Pranoto alias Dankie gitaris “Navicula” dan juga gitaris/vokalis “Dialog Dini Hari”.

10 lagu dihadirkan Made di album keduanya ini yang dirilis oleh Pohon Tua Cratorium. Semua lagu musik dan liriknya ditulis oleh Made sendiri, dengan tambahan beberapa lagu diambil dari album pertamanya, Blues Krisis dengan aransemen berbeda. Dan sesuai nama belakangnya “Mawut” seperti dalam menu nasi goreng mawut yang artinya campur aduk, begitu pun musik di album ini. Delta blues tahun 1920an ala Made bisa terdengar luwes bermain-main ke sana ke mari tanpa harus terpaku pada rumusan I IV V yang umum dalam musik blues 12 bar standar.

Hanya ditemani gitar akustik, slide guitar besi di jari kiri yang lazim dipakai musisi eranya, dengan harmonika, Made melengkapi dirinya dengan lirik-lirik yang menjadi kekuatannya. Plus ia pun bernyanyi dengan karakter vokal khas penyanyi blues tua dan terdengar begitu matang, meski kadang fales dan sedikit meleset. Tapi itulah seninya.

Yang juga harus digaris bawahi adalah permainan gitar finger-style blues nya yang sangat mengasyikan. Tidak mudah untuk bermain delta blues ini. Dengan ibu jari yang harus memetik not bass yang harus konstan menjaga ketukan agar tidak lari-lari, sementara 4 sisa jarinya bermain mengisi ritem ataupun bermain licks gitar blues merespon celetukan vokal Made.

Liriknya Meski hanya berteman dengan gitar akustik saja mampu mengisi ruang kosong serta memberi nyawa sehingga aransemennya terasa penuh dan lengkap

Album Merdeka 100% ini dibuka dengan lagu berjudul sama bergaya boogie woogie yang joget-able. Made yang sehari-harinya seorang chef lalu membicarakan makanan Meksiko, Jalapeno di “Jalapeno Blues”. Dan bukan lagu blues namanya bila ujung-ujungnya ternyata ia bernyanyi tentang perempuan dan suasana hatinya. Nakal! Ia juga meng-cover lagu keroncong tempo dulu “Di Bawah Sinar Bulan Purnama” yang dihadirkan dengan nuansa blues tapi dengan tidak menghilangkan nyawa lagunya. Kejutan pertama: usaha ini sangat berhasil. Dengan penyederhanaan kord dan cara bernyanyi Made yang malas (bluesy) tapi syahdu, Ia berhasil membuat lagu ini menjadi miliknya.

Keragaman materi delta blues ini kembali hadir melalui “Sesat” balada tentang cinta yang upbeat dan penuh amarah. Bagian reff yang meninggalkan pakem blues pun terasa nikmat sebelum lagunya kembali ke dalam struktur blues 12 bar pada verse-nya. Lalu ada “Paceklik” yang musiknya begitu spiritual bagaikan pelajaran sejarah esensi musik blues dan perbudakan. Dan album ditutup dengan kejutan di lagu super-catchy, “Terlena” yang hadir lebih festive dengan ditemani oleh bass betot dan instrumen perkusi tipis di belakang. Ditambah progresi kord bagian reff yang lari dari pakem blues dan berhasil enak, menjadikan lagu ini sebagai penutup album yang manis dan meriah.

Mari bicara liriknya. Meski hanya berteman dengan gitar akustik saja, lirik-lirik yang ditulisnya mampu mengisi ruang kosong serta memberi nyawa sehingga aransemennya terasa penuh dan lengkap. Terlebih ketika Made mampu memilih notasi vokal blues dan memadukan dengan bahasa Indonesia dengan baik sehingga tidak terdengar ganjil. Ditambah tidak lupa Ia memperlakukan liriknya bak syair lama. Di sini kepiawaiannya bermain-main dengan rima di lagu-lagunya pun tampak. Seperti ketika ia mempertanyakan soal kemerdekan di lagu “Merdeka 100%” dengan patuh berima:

“Terkutuklah jika kupanggil kau sayang / Lepas dari api, kau lempar aku ke jurang / Siapa yang rela berkata cinta, bedil di kepala / Lekas kau puas, buas ku ucap walau terpaksa

“Merdeka, merdeka, seratus persen / Gilakah ku bila merdeka seratus persen?

Lalu ia mengritik sistem pendidikan di lagu “Lingkaran Setan”:

“Lulus SMA lanjut kuliah / Demi ijasah jadi cinderamata / Sarjana robot tak bernyawa / lingkaran setan pendidikan slalu begitu sampai sekarang”

Lalu ada “Blues Belum Mandi” yang dikira berbicara soal malas mandi, padahal di ujungnya berbicara soal air bersih, yang dimonopoli oleh para hotel:

“Tadi pagi aku nggak mandi / Begitu juga pagi kemarin / Bukannya ku malas tapi gak ada air / Air kini hari barang yang mahal / Air bersih barang yang langka / Air dikuasai para pengusaha”

“Air dari gunung turun kelembah / Mengalir genangi sawah / Dari gunung hingga ke lembah / Habis sudah, habis sudah oleh hotel mewah”

lirik blues Indonesia belum pernah terdengar sebegitu menarik ini

Pada lagu “Paceklik” yang bernuansa spiritual dan penuh perenungan Made kembali mengritik negeri jamrud katulistiwa yang kaya tapi miskin dan seringkali paceklik:

“Nenek moyang pelaut / Kakek moyang petani / Jangan kaget mendengar / Beras diimpor
Garam diimpor”.

Bila itu tidak cukup simak kenakalan Made menyentil soal setan masa kini yaitu sistem peminjaman uang alias kredit:

“Hanya ada receh di kantongku / Oh tagihan sudah menunggu / Kusibak jalan mencari kerja / Upah seadanya tanpa sisa / Berpikul mimpi yang tak perlu / Ragaku merdeka, pikiran terblengu”

“Oh setan kredit sungguh menggoda / Buat ku rela lakukan dosa”

Musik blues tidak lengkap bila tidak berbicara tentang blues dan tentunya hal itu ditangkap dalam lirik lagu “Blues Hari Ini”. Dan lagi-lagi liriknya menarik:

“Hari demi hari baru kusadari / Esok mungkin tak lebih dari yang t’lah kulalui / Jika rasakan hatimu tergerus / Hidup tangguh, sudahlah mengeluh”

“Bagai anak kecil rakus makan lolipop / Kadar menipis lantas menjadi sewot”

“”Blues datang bagai hujan / Basuhi jiwaku yang gersang”

Koreksi jika saya salah, namun lirik blues Indonesia belum pernah terdengar sebegitu menarik ini. Bagaikan mendengar Benyamin S bernyanyi blues tentang keseharian dengan gitar dobro dan besi slide di tangan. Bisa puitis dan jenaka tapi namun tetap kritis. Dan bila bicara kritik untuk album ini, kekurangannya adalah pengucapan artikulasi lirik Made yang kadang tidak jelas saat menyanyikan lirik bahasa Indonesia yang ia suarakan.

Sayangnya lagi liriknya pun tidak tersedia di dalam CD nya, bahkan juga belum tersedia di internet. Setelah mengangguk-angguk menikmati blues mawut dan tergelitik dengan liriknya rasa penasaran itu dibuat menggantung karena tidak sepenuhnya memahami kata-katanya. Tapi hal itu termaafkan karena album ini direkam secara live (seperti seharusnya album blues) demi untuk mendapatkan kadar soulful-nya Made Mawut yang memang seru. Dan pada akhirnya hasilnya pun album Merdeka 100% ini pun sangat memuaskan.

Made Mawut / dok. pribadi

 

____

Penulis
Anto Arief
Suka membaca tentang musik, subkultur anak muda dan gemar menonton film. Pernah bermain gitar untuk Tulus nyaris sewindu, lalu bernyanyi dan bermain gitar untuk 70sOC.

Eksplor konten lain Pophariini

Pembuktian Sheila on 7 di Kisah Klasik Untuk Masa Depan

Dalam berbagai aspek, album kedua Sheila on 7, Kisah Klasik untuk Masa Depan dapat dianggap sebagai arketipe album kedua yang baik

6 Produser Musik Indonesia Pilihan Oslo Ibrahim

Sambil menanti lagu-lagu terbaru dari seorang Oslo Ibrahim, mari simak siapa saja produser-produser musik pilihannya berikut ini.