294

Resensi: Pijar – Antologi Rasa

Artist: Pijar
Album: Antologi Rasa
Label: Orca Music
Peringkat Indonesia: 8/10

Ketika saya terjebak harus menonton film adaptasi dari novel laris yang berjudul sama Antologi Rasa, satu-satunya hal yang paling menyita perhatian adalah musik yang menyelamatkan saya dari filmnya itu yang yaa.. bolehlah.

Tapi ajaibnya musik itu bukan datang dari nama-nama band besar yang terlibat di soundtrack filmnya seperti Nidji, D’Massiv dan Geisha yang cenderung bermain aman di area feel musik blantika. Musik itu dimainkan oleh band dengan karakter vokal yang khas dalam balutan musik new wave/dance 80an yang kental ber-synthesizer dan dengan irama yang mampu membuat badan bergoyang. Sehingga musiknya berhasil mewarnai dengan sempurna adegan demi adegan filmnya yang bersetting urban yang digambarkan melalui visual warna-warna, fesyen dan gaya hidup anak muda, dan para pemerannya yang serba tampan dan cantik.

Musik itu justru datang dari grup musik trio asal Medan, Pijar yang terdiri dari vokalis/gitaris flamboyan J. Alfredo, gitaris Ican dan Aul pada drum. Dan paska menonton anehnya saya tidak banyak menemukan info Pijar sebagai pengisi soundtrack Antologi Rasa. Satu-satunya petunjuk adalah singel “Antologi Rasa” yang dirilis secara bersamaan dengan filmnya. Agak ironis karena bagi saya kemunculan musik Pijar sangat berperan menyempurnakan film ini. Namun rasa penasaran saya tidak lama karena pada akhir Februari kemarin Pijar merilis album mini yang berisi lagu-lagu dalam film Antologi Rasa.

Baca juga:  Resensi: Lightcraft - Us Is All

Lucunya lagi album mini Pijar ini tidak masuk di dalam kompilasi resmi OST. Antologi Rasa bersama 3 nama besar di atas. Mungkin karena pertimbangan label (ketiga nama tersebut ada di bawah label Musica). Pun Pijar tidak menyertakan embel-embel OST/Soundtrack pada judul album mini Antologi Rasa ini. Padahal pada credit title filmnya, 5 lagu Pijar mendominasi lebih banyak dari band lain. Itu juga mungkin yang jadi penyebab ketika banyak resensi film Antologi Rasa di blog-blog film lokal yang membahas musiknya, nama Pijar tidak terlalu dapat sorotan banyak.

Poster film Antologi Rasa.

Album mini Antologi Rasa memuat 3 lagu baru dengan 2 lagu lama yang diambil dari album mini sebelumnya seperti “Lunar Biru” (Pijar, 2018) dan Akhir Pekan” (Ekstase, 2017). Dan 3 lagu baru itu adalah “Antologi Rasa” yang dirilis terlebih dulu sebagai singel album, “Perspektif Ketiga” dan “Embun” yang ditulis khusus bersama produser Stevesmith yang turut mengisi di dalam lagu. Stevesmith sendiri adalah produser yang terdiri dari duo kakak beradik Randy Danishta (kibordis Nidji) dan Nara Anindyaguna. Mereka selain menjadi produser Pijar sejak 3 album terakhir ini, juga berjasa mengajak Pijar untuk terlibat di dalam film Antologi Rasa.

Baca juga:  Resensi Duo Kribo – OST. Duo Kribo (1979)
Pijar dan Stevesmith. Foto: Twitter.com/Pijarmusic

Setelah menemukan produser yang sudah terbukti tepat untuk 3 album bisa dibilang Antologi Rasa adalah pencapaian terbaik Pijar. Selain juga sebuah kesempatan emas bisa menjadi bagian penting dari film garapan Rizal Mantovani adaptasi dari novel laris ini. Keterlibatan Pijar di film ini juga mensahkan musik mereka yang naik kelas dan cocok untuk menjadi latar kisah drama romantis muda-mudi di kehidupan kota besar yang didominasi oleh adegan melamun di apartemen dan/atau berkendara di malam hari di antara gedung-gedung tinggi.

Ditambah sejak terbentuk di 2014, Pijar sangat aktif merilis mini album dan singel, sehingga nyaris absen dari penggemarnya. Sehingga perkembangan musik Pijar bisa terbaca ke arah yang menyenangkan. Dari eksplorasi yang rumit seperti lagu “Tropis” di 2017, maupun lagu berapi-api di era awal terbentuknya mereka yang berjudul, “Boogie Night” (2014). Di lagu itu nuansa band post-punk yang sangat guitar driven, salah satunya Franz Ferdinand cukup kental terasa. Sehingga stempel “Franz Ferdinand Indonesia” yang sempat menempel ini sempat membuat gerah mereka. Dan album ini kemudian menjadi pembuktian kalau mereka berhasil keluar dari bayang-bayang itu.