Resensi: Pusakata – Dua Buku

600

Meskipun begitu eksplorasi dan progres album ini patut diacungi jempol. Tapi tetap buat fans Payung Teduh garis keras era Is seperti saya album Dua Buku ini terasa asing dan berbeda. Jika bicara move on, dengan berat hati saya emoh. Saya memilih untuk terjebak dan terbuai dengan masa lalu menikmati “Cemas” yang kontemplatif, “Lagu Pesisisir” yang meneduhkan, “Kumpul Famili dan Teman” yang meriah, meliuk dari melayu, menjadi cha-cha dan tango. Kalau pun harus memilih lagu yang nge-rock pilhan jatuh pada “Jalan Pulang”. Yang jadi transisi yang halus antara musisi akustik yang merupakan titik maksimal pencapaian rock seorang Is.

 

____