110

Resensi: Sir Dandy – Intermediate

Artis: Sir Dandy
Album: Intermediate
Label: Lucky Me Music

 

Sir Dandy adalah anomali dalam khazanah musik folk Indonesia saat ini. Dan jika mengacu pada definisinya baik itu sebagai musik rakyat ataupun definisi “folk indie” jaman sekarang yaitu kopi, senja dan kerinduan, album ini membuktikan kalau Sir Dandy justru sama sekali tidak ada di kedua area tersebut. Eh sebentar, bagaimana maksudnya?

Mari kita bicarakan dulu kemunculan desainer/seniman/vokalis Teenage Death Star ini sebagai singer/songwriter di awal 2010an dengan gitar akustik. Sebelum fenomena musik folk muncul di Indonesia dan melibas tren melayu yang melanda sebelumnya, Sir Dandy sudah muncul dengan album perdananya Lesson #1. Tidak berlebihan kalau kemudian melabeli dirinya sebagai salah satu pelopor aksi solois folk Indonesia era 2000an, persis sewindu yang lalu.

Tapi jangan samakan dirinya dengan Tulus. Karena ia tidak berbicara romantisme, keindahan lirik puitis dan kemerduan suaranya. Justru sebaliknya, ia menawarkan realita kehidupan sehari-hari yang apa adanya dan dibungkus dengan lirik yang humoris dan musik yang ke sana ke sini. Uniknya semua kombinasi itu justru jadi membuatnya mempunyai bahasa sendiri untuk menyampaikan isi kepalanya. Yang di album ini kembali hadir bak sosok pengamat kehidupan perkotaan masa kini yang sudah berbalut internet dan teknologi.

Baca juga:  Resensi : Lair - Kiser Kenamaan

Hal ini juga jadi menarik mengingat ia tidak lahir di Ibu kota. Lulusan Desain Produk  Desain Itenas, Bandung ini adalah putera daerah dari kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Darah seniman Jawa Barat yang selama ini kita kenal humoris (Kang Ibing, Serieus band, Kuburan) ini pula yang agaknya membuat dirinya piawai bercerita dengan kadar humor yang tidak kira-kira. Dan lagi-lagi sang Mutiara dari Priangan Timur ini begitu lihay menangkap fenomena-fenomena ibu kota ini.

Dari lagu yang temanya sangat kini “Mudah-mudahan Rame Terus (MRT)”, kita sudah bisa menduga isi album ini. Lagu berdurasi hampir 6 menit ini separuh terakhirnya diisi oleh tanya jawab yang tidak penting antara Sir Dandy dengan Soleh Solihun. Dijamin membuat senyum-senyum sendiri. Antara lucu atau tidak lucu, tapi saking tidak lucunya sehingga membuat jadi tersenyum kecut. Dilanjutkan dengan ceritanya soal kawannya Risa Saraswati yang memiliki channel Youtube bertema mistis berjudul “Jurnal Risa”. Kejelian Sir Dandy yang bukan dari Inggris dalam mengamati fenomena sosial langsung tampak melalui liriknya,

Baca juga:  Resensi: Elephant Kind – The Greatest Ever

“Kontennya tentang setan tapi tak pernah ada penampakan / oh aku heran penggemarnya bisa jutaan”

Kemudian ada tema yang sebenarnya sudah agak basi yaitu tentang film seri Game of Thrones. Tidak cukup satu, ada dua lagu. “Kisah GoT” yang liriknya tidak jelas ke sana ke sini. Lalu berikutnya “Jon Snow” yang meringkas kisah seluruh serial Game of Thrones dari season 1 hingga selesai di season 8. Namun dengan aransemen lengkap dengan gitar fuzz, vokal berdistorsi dan iringan seksi tiup, lagu ini menjadi spesial.

Lalu ada lagu yang sentimentil “Navigasi” yang liriknya tidak romantis sama sekali. Ditambah lagi vokal tamu penyanyi Chevrina Anayang (Dekat/Hondo) bernyanyi mendesah basah manja dan ultra-merdu ala penyanyi pop wanita di era 80an. Liriknya? tentang transportasi on-line.

Album ditutup dengan musikalitas puisi karya Yudishtira ANM Massardi, ayah dari Iga Massardi. Sebelumnya Sir Dandy memang diminta oleh Iga untuk terlibat dalam musikalisasi puisi ayahnya yang penyair itu.

Baca juga:  Resensi: Barasuara – Pikiran dan Perjalanan

Lalu dari sini saya menduga kalau ada unsur nepotisme yang kental di album ini. Karena album ini bertabur banyak bintang. Dari Riko Prayitno, Indra Massad, Petra Sihombing, Iga Massardi, Vincent Rompies, Christianto Ario (Kurosuke), Achi Hardjakusumah, Rizky Indrayadi, Widi Puradiredja hingga Kamga dan Chevrina Anayang semua terlibat di dalam mini album ini.