The Jadugar

593

Selain nama Oomleo yang sangat dikenal dengan karaoke-nya, rasanya sangsi para pembaca paham betul siapa nama-nama itu. Kecuali jika mereka pernah bersinggungan dengan skena seni rupa/IKJ/independen  Hal ini tidak membaik di bagian terakhir, “Lokasi dari Narasi” ketika total 48 cerita tentang proses pembuatan video musik ditulis sekenanya dan tanggung, serta tidak jelas yang mana karya yang dibuat bersama atas nama The Jadugar atau atas nama sendiri-sendiri. Semuanya bercampur-aduk.

Mungkin lebih menarik jika bab terakhir spesifik membedah video The Jadugar yang benar-benar berpengaruh. Tentunya dengan sisipan halaman berwarna. Juga di bab sebelumnya akan lebih menarik jika digali dari luar lingkaran The Jadugar. Seperti mewawancarai bu Acin “Musica” secara langsung. Demi menuntaskan rasa penasaran benarkah beliau setuju dengan pilihan estetika The Jadugar ketika menggarap video Peterpan? (menjawab pertanyaan Taufiq Rahman di halaman 27). Begitu pula apa komentar Rizal Mantovani, karena Oomleo menyatakan kalau Jadugar sempat berusaha jadi antitesis dari sutradara video musik yang sangat populer saat itu (halaman 82). Juga apakah BIP, Slank, Nidji puas dengan video musik mereka?

Buku ini seperti kebablasan membahas betapa kontemporernya kehadiran The Jadugar di arus utama sampai akhirnya asik sendiri. Ya mungkin bisa diandaikan seperti karir mereka yang berakhir cukup singkat di 2006. Tapi toh sepertinya Betmen dan Anggun tidak pernah ambil pusing. Karena mereka hanya ingin bersenang-senang saja, tanpa ada tendesi. Hal yang juga menjadi alasan mundurnya Nana dari Jadugar. Yang sempat ingin meninggalkan kerjaan kantornya dan fokus membesarkan The Jadugar, namun ketika dibicarakan responnya tidak sesuai harapan.

Pun mengagumkan bagaimana The Jadugar bisa membuat penerbit sebesar Gramedia bisa menerbitkan buku yang lebih mengedepankan opini subjektif yang sentimentil ini. Tentunya akan sangat menyenangkan buat mereka yang pernah mengalam era ini, dan saya sendiri adalah salah satunya. Tapi buat yang tidak mengalami? Entah.

Sesungguhnya buku ini berpotensi hadir sebagai pembacaan zaman dan sebuah generasi. Bagaimana tsunami informasi melalui internet mampu merubuhkan batasan kaku untuk para pekerja kreatif dengan latar belakang jauh berbeda. Bagaimana sebuah generasi bisa menjadi siapa saja yang mereka inginkan tanpa terpaku jurusan yang telah ditekuni sedari di bangku kuliah. Berbeda dengan yang angkatan sebelumnya alami.

Jadi benarkah the Jadugar mengobrak-abrik video musik Indonesia? Seperti ucapan Betmen yang menegasikan bahwa Jadugar itu adalah “perlawanan”, kemudian disambung oleh gelak tawa menertawakan dirinya sendiri (di halaman 25 dalam esai M.Hilmi), sepertinya kalau buku ini bisa mengeluarkan suara, pasti ada gelak tawa di belakang judulnya yang provokatif dan percaya diri ini. Karena bisa jadi kita semua adalah korban kejahilan The Jadugar.

____