116

Wonderland

Memoar
Wonderland: Memoar dari Selatan Yogyakarta karya Aris Setyawan.

Sepengamatan saya, sosok Aris Setyawan bisa jadi adalah musisi ketiga yang menulis sesuatu tentang perjalanan musik, lebih spesifik musik yang ditulis dan digubahnya dalam sebuah grup.

Sebelumnya, meski tak plek-ketiplek sama, buku Living in Harmony milik Fariz RM atau Perjalanan Sebuah Lagu-nya Candra Darusman atau Ucok Homicide dalam beberapa bukunya sudah membuka jalan terlebih dahulu.

Oiya, bagi yang belum mengenal siapa Aris, musisi kelahiran Karanganyar ini adalah seorang etnomusikolog jebolan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Di ranah literasi, ia dikenal sebagai co-founder dari Serunai.co, situs bacaan seni dan budaya serta dari buku yang bertajuk Pias: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya (2017). Namun di skena ‘ben-benan’, beliau cukup populer sebagai orang dibelakang drum juga penulis lirik dari grup bernama Auretté and The Polska Seeking Carnival.

Mencoba Mekar kembali: AATPSC, 2018 / dok. AATPSC.

Saya yakin pasti pecinta musik satu Indonesia belum pernah mendengar band ini, lebih khusus lagi semua anak muda di Jakarta atau Bandung belum pernah mendengar mereka. Musik mereka jauh dari musik populer. Jika anda mampir ke sebuah panggung kecil misalnya, anda tak langsung tahu musik mereka yang ternyata teramat ‘kosmopolit’ tersebut.

Baca juga:  Resensi: Seringai - Seperti Api

Saya, yang sudah mengenal band ini dari tahun-tahun awal mereka melempar musiknya di Soundcloud, terkadang berpikir mereka ‘salah tempat’. Jika band ini berdiri di satu kota di Paris, Italia atau somewhere di Eropa, mungkin akan sangat masuk akal.

Saya mungkin adalah satu dari sekian kecil populasi penikmat band asal Sewon ini, sebagian kecil mungkin dari kota asal mereka, sebagian lagi di Jakarta (terimakasih untuk Secret Agents karena mengundang mereka di Superbad di Jayapub) dan sisanya mungkin di Bandung, mungkin beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Entah mengapa, iklim dingin sepertinya cocok menikmati musik band yang disingkat AATPSC ini.

Baca juga:  Resensi: Isyana Sarasvati - LEXICON  

Yang lebih gila lagi adalah sosok Taufiq Rahman, pendengar band ini yang saking kesengsemnya sampai kemudian merilis kumpulan rekaman debut album ke dalam format piringan hitam lewat label milik Taufiq sendiri, Elevation Records. Saya tak habis pikir!

Namun mungkin itu hebatnya ‘orang label’ seperti Taufiq, yang lama telah menerapkan prinsip ‘seen the unseen’ terhadap musisi. Banyak rekaman band di bawah labelnya yang kemudian menjadi ‘collectibles’ dan sekarang banyak dicari.

Kembali ke buku Wonderland ini, lewat gaya bahasa yang jujur dan sederhana, Aris mengurai satu demi satu sejarah dari band ini, dari situasi dan tempat pada saat berdirinya, tantangan-tantangan di tahun-tahun awal, cerita-cerita inspiratif, semua yang mungkin tidak cukup ditemui di banyak link berita atau di laman Wikipedia Indonesia band ini.

Di beberapa bagian di Wonderland, Aris mengupas habis lagu per lagu di album debutnya dari intro sampai track terakhir. Dan ya, akhirnya lewat buku ini saya mendapat penjelasan isi lagu “I Love You More Than Pizza” yang liriknya dinyanyikan dalam bahasa Perancis ini.

Baca juga:  Resensi: Kelompok Penerbang Roket – Galaksi Palapa

Spoiler sedikit, ada bagian menarik ketika band ini sempat mendapat kritik dari seorang penulis musik lewat media sosial. Aris menjelaskan peristiwa itu dengan baik. Bagian menarik lainnya ketika terjadi konflik antar personel. Bagaimana konflik itu muncul dan bagaimana mereka menghadapinya, ini menjadi kisah yang menarik dan inspiratif.

Terlepas dari Auretté dan buku Wonderland-nya Aris, menurut saya memoar-memoar seperti ini harus lebih banyak ditulis dan didokumentasikan. Jangankan Aurette, masih banyak band-band ‘arus pinggir’ lain di ibu pertiwi ini yang menarik untuk disimak perjalanan hidupnya, baik yang hari ini masih eksis, terlebih yang sudah bubar.