Ihwal Kesehatan Mental di Blantika Musik Nusantara

1430
Ilustrasi: Rio Adiwaluyo

“Bung, bisa menulis tentang isu kesehatan mental dan musik lokal?,” ujar Anto Arief, redaktur Pop Hari Ini bulan lalu lewat WhatsApp. Walaupun saya belum kepikiran akan menulis seperti apa untuk isu ini—karena sebelumnya saya pernah menuliskan topik yang sama—tapi saya iyakan saja todongan Bung Anto itu. Kenapa? Karena menurut saya bicara ihwal kesehatan mental, serta irisannya dengan musik itu sungguh penting.

Bicara mengenai kesehatan mental bak bicara tentang hantu. Ia tak kasat mata. Tapi ada. Dan lazimnya hantu, eksistensinya sering bikin geger orang seantero kampung [global].

Ambil contoh saat film Joker tayang, jagad media sosial langsung riuh dengan ihwal kesehatan mental. Ada yang melakukan self-diagnosed bahwa dirinya adalah ODGJ (baca: Orang Dengan Gangguan Jiwa). Ada yang bilang self-diagnosed itu berbahaya, beberapa orang tiba-tiba menjadi pakar karbitan yang secara simultan mengunggah posting-an tentang mental health. Sampai buntutnya beberapa pakar beneran harus turun gunung untuk meredam kegegeran ini.

Itu baru dipicu kisah malih rupa Arthur Fleck menjadi Joker. Di—penghujung—tahun 2019 ini, isu kesehatan mental juga menjadi perhatian yang cukup intens di Indonesia karena ada sekian musisi yang menjadi palu penggetok tentang pentingnya melek isu mental health. Ini dapat dilihat dari bagaimana beberapa musisi lokal menggubah musik yang sedikit banyak dan secara langsung atau tidak langsung bicara isu tersebut.

Beberapa musisi yang mengangkat isu kesehatan mental di musiknya, sebut saja di antaranya ada Hindia, Tulus, Barasuara, Kunto Aji, Isyana Sarasvati, dan Auretté and The Polska Seeking Carnival.

Menurut hemat saya, sepanjang sejarah blantika musik Indonesia, baru tahun ini akhirnya ada begitu banyak musisi yang menggunakan musik gubahannya sebagai media untuk lebih meningkatkan awareness alias kesadaran publik akan pentingnya kita peduli dengan ihwal kesehatan mental.

Sepenting apa bicara tentang kesehatan mental? Penting sekali. Ini adalah masalah serius. Statistik sudah berbicara bahwa gangguan mental adalah salah satu ancaman kesehatan yang paling nyata dan berbahaya di kehidupan manusia modern ini. Organisasi kesehatan dunia WHO mencatat setidaknya ada 350 Juta orang di seluruh dunia mengidap depresi, depresi adalah salah satu gangguan kejiwaan yang tergolong berat dan berbahaya. Sementara itu, wabilkhusus di Indonesia, pengidap depresi mencapai angka 3.7 persen, atau sekitar 9 juta orang dari total 260 Juta jiwa penduduk Indonesia.

Jumlah pengidap gangguan kejiwaan sebesar ini tidak sebanding dengan jumlah pakar atau profesional yang bergerak di bidang psikiatri atau penanganan gangguan kejiwaan. Di Indonesia, dengan jumlah penduduk sebesar 260 Juta jiwa, hanya ada sekitar 773 Psikiater dan 451 Psikolog Klinis.

Selain kurangnya tenaga medis kesehatan mental, rendahnya awareness atau kesadaran, serta stigma juga adalah salah satu ‘duri dalam daging’ di ihwal kesehatan mental ini. Stigma bahwa pengidap gangguan mental itu gila, dan gila berkonotasi negatif, makin memperparah kondisi ini.

Dalam rangka meningkatkan kesadaran publik tentang kesehatan mental, beberapa musisi di blantika musik Indonesia menyelipkan pesan-pesan edukatif dalam musiknya. Kunto Aji misalnya. Lewat album keduanya dengan tajuk Mantra Mantra, MZKUN secara serius menggarap album itu agar benar-benar ramah terhadap mental para pendengarnya. Misalnya dalam lagu “Rehat” ia menyelipkan frekuensi 396 Hz yang menurut penelitian dapat mengenyahkan pikiran negatif, dan menyehatkan mental.

Gagasan Kunto Aji menyisipkan frekuensi 396 Hz ke dalam lagunya memunculkan sebuah pertanyaan: apakah musik memang bisa memengaruhi kondisi mental seseorang?