Rock Indonesia Telah Mati dan Tak akan Terulang Lagi

Dec 16, 2021
Rock Indonesia Mati

Sebelum membahas rock Indonesia yang telah mati, pernahkah bertanya-tanya tentang ini: berapa banyak musisi Indonesia ternama saat ini yang membawakan musik rock? Siapakah musisi atau band yang saat ini bisa dijadikan patokan musik rock di skala nasional? Jika dilontarkan pertanyaan ini pada saya, maka jawabannya: kurang tahu.

Sebagai anak kelahiran 1991 yang menjalani masa remaja di pertengahan 2000, suguhan musik rock yang saya terima sudah berbeda dari pendengar musik di era sebelumnya. Di masa SD, disambet oleh banyak musik luar ala Red Hot Chili Peppers yang disodorkan oleh MTV. Jika pun mendapati yang lokal, itu pun adalah Dewa 19, Netral, sampai Jamrud.

Apabila ditanya band rock Indonesia apa yang paling mengenang di telinga, maka jawabannya adalah /Rif. Itu berkat kakak yang mendapat kaset the Best of mereka saat manggung di Colors Pub Surabaya dan memutarnya tiap pagi sebelum beranjak ke sekolah ataupun sore hari menjelang magrib.

Namun semenjak era awal 2000, saya merasa tak pernah lagi mendengar rock yang benar-benar menyentuh hati. Terakhir yang paling diingat begitu unik dan begitu rock pada era 2000an adalah Seurieus lewat single-nya “Rocker Juga Manusia”. Suara tinggi Candil dan video klip lucu “Rocker Juga Manusia” yang tersaji kala itu cukup menggerakkan untuk menyisihkan uang untuk membeli kaset mereka. Setelah itu, tak pernah lagi tergerak mencari suatu album rock lokal.

Semenjak era awal 2000, saya merasa tak pernah lagi mendengar rock yang benar-benar menyentuh hati. Terakhir yang paling diingat begitu unik dan begitu rock pada era 2000an adalah Seurieus lewat single-nya “Rocker Juga Manusia”

Barulah masuk di atas era 2010, saya mendapati The SIGIT, Seringai, dan Kelompok Penerbang Roket (KPR) masuk kembali sebagai perwakilan genre rock atas telinga ini. Untuk KPR, saya pernah menulis review album perdananya Teriakan Bocah setelah menunggu dan terus bertanya selama satu tahun lebih.

Kembali ke pertanyaan pertama, yaitu “Siapakah musisi atau band yang saat ini bisa dijadikan patokan musik rock di skala nasional?” Satu-satunya yang bisa jawab hanyalah KPR. Tak lebih dari itu. Bahkan Barasuara pun masih saya pertanyakan posisinya sebagai ikon rock Indonesia.

Dari sinilah saya mulai berpikir, mungkin memang benar pernyataan beberapa kawan bahwa: musik rock Indonesia sudah mati.

 

Rock Sebagai Jalan Pengabdi Setan

Prof. Dr. Dieter Mack lewat buku Apresiasi Musik: Musik Populer sempat menjabarkan definisi musik rock. Buku yang sebenarnya ditujukan untuk kurikulum SMU 1994 itu menyebut rock seperti ini:

“… merupakan sebuah jenis musik yang kebanyakan menggunakan vokal dan alat musik elektronis. Musik ini adalah fenomena yang khas untuk lingkungan metropolitan modern, sedangkan banyak sumber musikal berasal dari budaya Amerika, yaitu dari para imigran dulu serta kaum kulit hitam sendiri. Untuk produksi musik rock perlu semua gejala modern yang khas bagi masyarakat industri, baik secara teknis maupun secara sosiologis.”

Dari sini Dieter Mack melanjutkan bahwa rock pun berakhir memiliki gaya sendiri-sendiri. Yang menjadi menarik dan juga menjadi masalah tersendiri dalam mengenali musik rock adalah musik rock “… tidak punya sebuah sejarah atau perkembangan gaya yang berkesinambungan.”

Dieter Mack menyetujui kekuatan musik rock terletak pada sound atau warna suaranya. Yang pertama dijabarkan jika sebagian besar musik rock akan selalu punya warna suara yang up-to-date mengingat musisinya sendiri selalu menginginkan peralatan yang lebih canggih

Pendeskripsian musik rock dari buku itu tak berhenti sampai di situ saja. Dieter Mack menyetujui kekuatan musik rock terletak pada sound atau warna suaranya. Yang pertama dijabarkan jika sebagian besar musik rock akan selalu punya warna suara yang up-to-date mengingat musisinya sendiri selalu menginginkan peralatan yang lebih canggih.

Yang kedua, rata-rata musik rock akan mempertahankan warna musik gaung atau reverb dalam lagu-lagunya. Hal ini sudah dilakukan semenjak era rock n roll 50an. Kalaupun ada variasi warna musik lainnya, itu pun adalah distorsi (fuzz). Menggunakan pedal-pedal canggih, musik rock hampir selalu mencoba “melamunkan dan melayangkan” pendengarnya

Yang ketiga, satu kekhasan musik rock yang selalu menarik perhatian hingga saat ini adalah adanya momen solo atau bermain sendiri, dengan kondisi instrumen pengiring lain mengurangi porsi permainan mereka. Permainan solo ini datang dari lead guitar, bassist, ataupun drummer, seakan mereka unjuk gigi menampilkan kemampuan permainan instrumen mereka. “Ini lho kemampuanku. Mana punyamu?”

untuk pendengar yang lain, musik rock juga bisa menjadi sesuatu yang bising dan mengganggu mengingat sering pula sang musisi membesarkan volume sound-nya hingga ke titik yang tidak masuk akal untuk telinga orang

Alhasil, musik rock selalu terdengar lebih garang daripada musik-musik lain bagi penggemarnya. Namun untuk pendengar yang lain, musik rock juga bisa menjadi sesuatu yang bising dan mengganggu mengingat sering pula sang musisi membesarkan volume sound-nya hingga ke titik yang tidak masuk akal untuk telinga orang.

Dari segi lirik, situasi urban yang mana menjadi tempat tinggal musisi menjuruskan penggarapan lirik dalam isu-isu sosial. Ekspresi hingga kegelisahan akan kondisi sekitar menjadi bumbu penguat pemilihan diksi bahasa. Maka dari itu tidak jarang lirik-lirik yang ditulis untuk pesan lagu bertentangan dengan norma masyarakat pada zamannya atau sampai mengkritisi sesuatu yang berbau kekuasaan dan pemerintahan. Atau malahan di suatu titik, pesan itu membawa tidak adanya pesan.

Dengan digabungkannya dua unsur ini: lirik yang melawan norma serta warna suara yang cadas, mau tidak mau untuk menikmatinya para pendengarnya sering kali memerlukan substansi pendukung. Satu kritik menarik akan musik rock dari buku tersebut datang dari Tibor Kneif:

“Musik semacam ini punya fungsi seperti ‘kertas dinding’ atau seperti latar belakang yang kita dapat menyadari dalam sadar benam saja. Maka musik semacam itu baru dapat dirasakan saat musik itu berhenti! Musik semacam itu sangat cocok untuk seorang pendengar yang ‘tidak mendengar’. Musik tanpa substansi ini membutuhkan seorang pendengar yang sama sekali tidak memperhatikan musik tersebut, namun musik itu sendiri tidak punya nilai dan arti pula.”

Dengan digabungkannya dua unsur ini: lirik yang melawan norma serta warna suara yang cadas, mau tidak mau untuk menikmatinya para pendengarnya sering kali memerlukan substansi pendukung

Secara mudahnya Tibor Kneif menjabarkan musik rock sebagai musik sampah. Tapi pernyataan itu tidak bisa dipungkiri pula mengingat penikmat musik rock rata-rata merayakan musik kesukaan mereka dengan “baku hantam” atau angguk-angguk tanpa terlalu peduli apa yang dimainkan oleh para musisinya.

Tidak mengagetkan dalam perkembangan sejarah musik rock, para pendengar dan musisinya sering dicap sebagai berandal hingga pengikut ajaran sesat dan setan. Penolakan-penolakan bukanlah hal asing untuk terjadi ketika sekelompok musisi rock bermain dalam suatu konser atau gigs. Jika tidak dipercaya, silakan melihat acara musik rock yang terjadi di kotamu!

Tidak kaget juga bila seorang Nuran Wibisono berakhir membuat buku kumpulan essay-nya yang kebanyakan bercerita cintanya kepada musik hair rock dengan judul Nice Boys Don’t Write Rock n Roll.

dalam perkembangan sejarah musik rock, para pendengar dan musisinya sering dicap sebagai berandal hingga pengikut ajaran sesat dan setan.

Rock Indonesia zaman dulu versus zaman sekarang

Mengingat lahir di 90an, saya tidak berani berbicara lebih lanjut tentang musik rock di era sebelum lahir. Memang ada catatan sejarah tentang Dara Puspita, band rock perempuan paling populer di era 60an ataupun sejarah pelarangan musik “ngak ngik ngok”, tetapi alangkah baiknya bila yang bercerita akan hal itu adalah mereka yang hidup pada era tersebut.

Jika dari era saya, musik rock mau tidak mau dihembuskan dari satu orang ke orang lain lewat obrolan serta tontonan televisi kala era 90an. Mulai dari SCTV, RCTI, semuanya pasti menyematkan hiburan musik klip yang sedikit banyak membawa nama-nama besar musisi rock. MTV pun ambil pengaruh besar akan hal itu. Tidak bisa dipungkiri, dari nama internasional sampai nama lokal pun, semua referensi musik didapat dari sana.

Musik rock di era 90an didominasi rock alternatif dan pop rock. Bukan hal yang mengagetkan karena dua jenis gaya rock itulah yang paling menjual di layar kaca. Nama-nama seperti Dewa 19, Padi, Jingga, Nike Ardilla, sampai /rif, semua itulah nama-nama yang menghiasi televisimu.

Tren musik rock berubah ketika masuk ke era 2000an. Label-label mayor mulai beralih dari rock menuju pop dan perlahan-lahan meninggalkan kontrak kerja sama kepada band-band cadas itu

Untuk masalah konser, satu acara yang begitu dibanggakan membawa musik rock ke tingkat nasional adalah Log Zhelebour. Acara yang diselenggarakan di Surabaya itu mengadu kemampuan band rock menjadi yang terbaik untuk memenangkan beragam hadiah. Ketimbang disandingkan dengan Sychronize, festival Log Zhelebour lebih seperti ajang Indonesian Idol yang memfokuskan musiknya pada rock.

Tren musik rock berubah ketika masuk ke era 2000an. Label-label mayor mulai beralih dari rock menuju pop dan perlahan-lahan meninggalkan kontrak kerja sama kepada band-band cadas itu. Malahan saat itu musik yang mencuat keluar dan ternyata disukai masyarakat arus utama adalah melayu. Maka di situlah pergeseran musik rock di era 2000. Unsur rock pun berakhir hanya menjadi sekedar pemanis dari lagu-lagu pop ataupun melayu yang lalu lalang di radio dan televisi.

Tidak tampak di permukaan, band-band rock mulai memilih mengambil jalur independen yang tidak menggantungkan diri kepada manajemen mayor label. Satu band rock yang berhasil membuktikan kesuksesannya lewat jalur indie itu adalah the SIGIT yang bahkan menggelar turnya sendiri ke Australia.

pergeseran musik rock di era 2000: unsur rock pun berakhir hanya menjadi sekedar pemanis dari lagu-lagu pop ataupun melayu yang lalu lalang di radio dan televisi.

Di sisi lain, beragam acara kompetisi yang mengatas namakan indie turut bermunculan pada era ini. Satu nama yang terus mencuat di kepala saya adalah L.A. Lights Indiefest lantaran di acara ini pulalah pengalaman menonton konser besar untuk pertama kali. Pada era ini pula, bermunculan label-label independen yang mau menaungi beragam genre, termasuk rock. Yes//No Wave, FFWD, DeMajors, adalah beberapa nama label yang mencuat.

Perjuangan musik rock di ranah independen seakan diturunkan kepada generasi selanjutnya. Musisi-musisi rock yang hidup di era 2010 masih tetap percaya mereka bisa populer lewat jalur susah yang mereka tempuh. Satu nama band rock indie yang paling fenomenal dan terbukti bisa terkenal di era ini tentu saja tidak lain dan tidak bukan adalah KPR.

Beberapa konser besar pun mulai membawa nama-nama rock ke dalamnya. Tengok saja Rock in Celebes, Rock in Solo, Jogjarockarta. Akan tetapi entah kenapa gaung acara ini masih tidak bisa disandingkan dengan Log Zhelebour yang sampai saat ini masih bisa terus dibicarakan. Kalaupun ada konser besar yang membawa band rock, maka itu pun adalah Synchronize walaupun acara tersebut tidak sepenuhnya diisi band-band cadas.

Pandemik yang membunuh hingga tren musik yang menua

Tidak bisa dipungkiri ledakan pandemik COVID-19 dari awal 2020 hingga akhir 2021 ini membunuh industri hiburan, termasuk di sektor musik. Para musisi yang seharusnya berkesempatan memamerkan karya-karya mereka di dalam suatu konser harus mengurung semangatnya tersebut selama dua tahun lamanya. Bukan hanya menghilangkan momen, pandemik bahkan “membunuh” gairah musik.

Saya teringat akan satu obrolan di tengah malam tahun ini bersama seorang rekan yang juga aktif di ranah musik. Ditemani sepiring rawon yang telah kehabisan lauknya, kami berbicara ngalor ngidul tentang kondisi musik saat ini.

Dari pembicaraan di malam yang gerah kala itu, ada satu pernyataan yang bisa kami iyakan bersama-sama: kita semua sudah terlalu capek untuk bertahan hidup di situasi pandemik ini. Demi menghibur diri dari kondisi melelahkan tersebut, alih-alih mendengarkan musik garang yang membakar jiwa, telinga lebih memilih mendengarkan musik-musik easy listening yang menenangkan demi mengalihkan pikiran.

Bagi saya, transisi selera musik ini menjadi penanda akan adanya perubahan tren bermusik dan sepertinya ini tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di dunia. Hal itu dibuktikan dengan keberadaan tulisan Chuck Arnold di New York Post yang berjudul “How Rock Ruled in 1991 – and Why It’s Dead 30 Years Later.”

Demi menghibur diri dari kondisi pandemi melelahkan, alih-alih mendengarkan musik garang yang membakar jiwa, telinga lebih memilih mendengarkan musik-musik easy listening yang menenangkan demi mengalihkan pikiran.

Secara gamblangnya, Chuck menulis bahwa era keemasan rock berada di awal dekade 90an dengan hadirnya berbagai album legendaris yang sebagian besar kamu pasti sudah tahu. Namun sekarang ketenaran musik rock tertutup oleh keberadaan pop dan hip-hop. Tak ada lagi album rock yang mampu mengguncang dunia dan mengembalikan posisinya sebagai juara dalam industri musik.

Lebih-lebih, saat ini musik rock terkesan sebagai musik tua di mata mayoritas Gen Z dan milenial. Mari ambil kasus lewat satu album lokal rock yang hingga saat ini masih cukup ramai didengarkan untuk dianalisis, yaitu Teriakan Bocah dari KPR.

Ketika pertama kali mendengarkan lagu-lagu di album tersebut, jaminan 100 persen kamu akan berkomentar, “Ini lawas (retro) banget ya.” Salah satu alasan utama munculnya pikiran itu jelas ada di komposisi solo gitar yang hampir muncul di setiap lagu. Menariknya, solo gitar itu pula yang menegaskan Teriakan Bocah sebagai salah satu album rock paling mengerikan pada dekade ini.

Ketika mendengarkan lagu-lagu .Feast dan Barasuara kamu bisa menyetujui lagu-lagu mereka adalah lagu rock. Akan tetapi, di satu sisi kamu juga tidak bisa memberikan tanda hand-horns karena kamu juga sadar itu juga bukan musik rock

Kalaupun ada upaya untuk memodernisasi musik rock menjadi musik yang lebih mengikuti zaman, jalannya adalah melakukan crossover atau pencampuran genre. Namun dengan mengikuti alur tersebut, identitas musik rock seakan menjadi semakin kabur, membuat seseorang bertanya-tanya apakah musik yang dia dengarkan adalah musik rock atau bukan.

Kaburnya identitas rock dalam bentuk crossover ini bisa kamu dengarkan pada lagu-lagu yang diciptakan .Feast hingga Barasuara. Ketika mendengarkan lagu-lagunya, kamu bisa menyetujui lagu-lagu mereka adalah lagu rock. Akan tetapi, di satu sisi kamu juga tidak bisa memberikan tanda hand-horns karena kamu juga sadar itu juga bukan musik rock.

Pada akhirnya, tidak bisa dipungkiri memang rock semakin menua sebagai sebuah tren musik.

 

Rock lokal kembali ke akar

Lantas bagaimana? Apakah masih mempercayai musik rock Indonesia sudah mati?

Iya, saya percaya. Musik rock Indonesia sudah mati… untuk yang berada di permukaan. Untuk jalur bawah tanah? Tidak sama sekali.

Bisa mengatakan demikian karena saya melihat sendiri bagaimana di tiap skena lokal terus bermunculan band-band rock baru dan keren yang bermain dalam venue kecil. Ini  beberapa contoh berdasarkan lokasi tempat saya tinggal: Surabaya.

Di kota utama Jawa Timur, hampir tidak bisa dihitung berapa banyak teman-teman dari generasi baru yang membawakan musik rock. Sebagai contoh ada Electric Bird, trio garage rock yang kemarin baru saja merilis video musik animasi super keren. Ada Eisen, unit stoner/hard rock/psychedelic, yang beberapa waktu belakangan tak terdengar kabarnya, tetapi tiba-tiba saja bergabung dalam kompilasi Bless This Year.

Ada bejubel band rock yang hidup di bawah tanah Surabaya dan datang dari berbagai golongan

Lalu beberapa tak lama berselang dari penulisan essay ini, Dhurma yang kencang dengan sentuhan doom / stoner-nya merilis single bertajuk “666ml Substansi”. Masih kurang? Di 17 Agustus kemarin, band yang berisi personil dari generasi lama dan membawa gaya southern rock, X60 Jaran (baca: ping suwidak jaran) merilis debut albumnya berjudul Dreamer. Ada bejubel band rock yang hidup di bawah tanah Surabaya dan datang dari berbagai golongan.

Untuk tambahan, Timeless menelurkan album Jaguar di bawah label Greedy Dust yang dapat dianggap sebagai salah satu album rock terbaik di 2021. Hampir bersamaan dengan mereka, pendatang baru Automatic Terror Machine muncul membawa EP bertajuk Pikir Pendek yang sangat brengsek tak karuan.

Saya juga percaya di tiap kota kecil maupun kabupaten yang biasanya tak pernah terdeteksi radar musik juga memiliki segudang amunisi rock. Saya bisa mengatakan ini karena sempat meluangkan waktu berkunjung ke mereka. Kabupaten Purwosari contohnya. Area yang hanya menjadi titik peristirahatan perjalanan Surabaya—Malang ini punya unit stoner bernama Berbisa.

lebih tepat menyebut musik rock Indonesia kembali ke akarnya, yaitu ke ranah bawah tanah. Yang tetap mati hanyalah eranya

Di kota Malang sendiri, ada Remissa dan Noose yang membumbui musiknya dengan suara grungy. Menuju Jogja, ada Temaram yang sempat merilis lagu bernama Oilslamicstate dan berakhir membuat album bernama Praise the Darkness. Semarang, ada Olly Oxen yang entah apakah mereka masih aktif sampai sekarang. Jangan lupakan Bali yang punya Jangar dan Rollfast. Bandung dan Jakarta? Jangan ditanya. Untuk dua kota itu, baiknya kamu telusuri sendiri

Gigs spesial rock? Banyak juga. Di Surabaya, ada acara Heavy Room Fest. Acara ini semacam dikhususkan mengambil band-band rock yang ada kota saya dan untuk menerima tamu dari luar. Di Bandung pada 2018 lalu saya juga sempat melihat launching album band Haze yang acaranya dipenuhi rock yang cadas. Mulai dari Gaung sampai Gaham.

Dari sini saya percaya, ketimbang memberi pernyataan musik rock Indonesia telah mati, mungkin akan lebih tepat menyebut musik rock Indonesia kembali ke akarnya, yaitu ke ranah bawah tanah. Yang tetap meninggal hanyalah eranya.

Kalau pun era itu hadir kembali, itu pun bukan sebagai era musik rock yang biasa kita kenal, tetapi sebagai era rock yang baru, yang tidak pernah terdengar dan tidak pernah ada sebelumnya

Saya juga percaya kematian musik rock Indonesia tidak akan datang dua kali mengingat ia tidak akan pernah bisa bangkit lagi. Kalau pun era itu hadir kembali, itu pun bukan sebagai era musik rock yang biasa kita kenal, tetapi sebagai era rock yang baru, yang tidak pernah terdengar dan tidak pernah ada sebelumnya.

Pada akhirnya, rock hanya kembali bersembunyi dari gemerlap cahaya permukaan dan menunggu waktu untuk meledak layaknya lava yang terkumpul di gunung berapi aktif. Entah kapan, di mana, dan seperti apa bentuknya, tidak ada yang tahu akan hal itu.

Jika saja genre rock bisa bernyanyi layaknya para musisinya dan dapat mendendangkan madah-madah ganas kepada pemujanya, mungkin bukan lagu rock legendaris yang mereka bawakan. Mungkin malah mereka akan menyanyikan dendang cinta dari Naif:

Jikalau telah datang waktu yang dinanti / ‘Ku pasti bahagiakan dirimu seorang / Kuharap dikau sabar menunggu / ‘Ku pasti akan datang untukmu

 

 


 

Penulis
Abraham
Menghabiskan 30 tahun hidupnya untuk tinggal di Surabaya dan masih ingin tahu skena kota lain. Selera musik yang aneh dan pemikiran yang tidak populer menjebaknya untuk sering overthinking.
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
Rafli Akbar F
Rafli Akbar F
5 months ago

Keren banget si ini tulisan, gw setuju banget njir

Eksplor konten lain Pophariini

Monita Tahalea Tebus Kerinduan dengan “Berlalu”

Monita Tahalea juga mengungkapkan bahwa “Berlalu” memuat sebuah cerita mengenai kerinduan serta keputusan untuk menjadi pribadi yang berbahagia.

Adrian Adioetomo Lepas Video Musik “Volatile Love”

Album self-titled dari Adrian Adioetomo masih bisa didapatkan di seluruh jaringan distribusi demajors dan situs resmi mereka.