Satu Dasawarsa Berkelana, Kini Duo Senyawa Membumi 

Jan 13, 2022
Senyawa

Duo genius Wukir Suryadi dan Rully Shabara yang bersepakat meleburkan identitas mereka dalam Senyawa telah melewati satu dasawarsa berkarya. Tepat di tahun ke sepuluh, pandemi justru menghantam tanpa ragu-ragu.

Maka, waktu yang tepat pula lah Alkisah lahir dengan memberikan solusi paling mujarab di tengah kehancuran sendi-sendi ekosistem musik. Mereka dengan lantang mengusung gagasan desentralisasi. Seluruh karya yang dirilis diberikan hak seluas-luasnya bagi yang ingin memanfaatkan. Tak hanya musik, bentuk lain pun dipersilahkan.

Hal itu mereka lakukan bukan dalam mencari sensasi atau simpati. Mengingat saat itu banyak “malaikat-malaikat” mendadak terbang ke sana-sini dengan berbagai bentuknya. Ini tujuan yang sederhana, konsep pengalaman yang harus mereka lakukan setelah satu dasawarsa bergumul dengan karya-karya Senyawa.

“Dasawarsa berikutnya dimulai dengan bentuk pengalaman, salah satunya lewat album Alkisah yang menawarkan gagasan desentralisasi merupakan wujud dari kemandirian,” ungkap Rully yang fasih merancang Senyawa dengan agenda-agenda jelasnya.

Senyawa kini dengan siap dan sadar membaladakan 12 lagu terpilih dari perjalanan karya mereka salama satu dasawarsa sebelumnya. “Selama pandemi main musik berisik ga enak. Kami ingin main dalam situasi apapun tanpa harus keluar uang, kalau ada yang mau ngajak main jadi gampang,” jelas Rully singkat.

“Dasawarsa berikutnya dimulai dengan bentuk pengalaman, salah satunya lewat album Alkisah yang menawarkan gagasan desentralisasi merupakan wujud dari kemandirian”

Seperti kita ketahui, secara musikal, Senyawa punya eksplorasi menjelajah teritori yang tidak lazim. Mulai dari notasi, bunyi, dan sebagainya. Hal yang menarik untuk diperbincangkan adalah bagaimana jika semua itu dihilangkan? Apakah tetap manjadi Senyawa?

“Ini eksperimen barunya. Mengedepankan yang tidak terbaca oleh orang awam, yaitu syair dan lagunya. Kedua elemen ini adalah balada,” lanjut Rully.

Tentu kita sebagai si jago menilai, punya banyak opini. Inilah kesempatan yang baik untuk menghakimi mereka! Karena penghakiman kita akan lebih jelas lewat lirik-lirik yang bisa diamati. Untuk kemudian secara perlahan berubah dari penghakiman menjadi penikmatan yang lebih bijak untuk diapresiasi.

Secara lugas mereka katakan, Senyawa bukanlah sesuatu yang harus dianggap rumit. Walaupun sebagaian orang senang berada dalam koridor itu untuk dianggap menjadi beda. Namun Senyawa sudah memilih masuk ke dalam fase “pengamalan” dimana punya konsekuensi untuk membuat ruang kekecewaan.

“Selama pandemi main musik berisik ga enak. Kami ingin main dalam situasi apapun tanpa harus keluar uang, kalau ada yang mau ngajak main jadi gampang”

“Dari situ semoga mereka bisa melihat lebih besar perjalanan dari album, lirik, dan temanya agar bisa tau apa yang diperjuangkan Senyawa. Setelah narasi Alkisah, setelah kiamat itu apa? banyak yang selamat dan banyak yang gugur, ini untuk tribute bagi yang gugur,” jelas Rully.

 

LINI MASA SENYAWA

Senyawa membagi perjuangannya dalam dasawarsa. Dasawarsa pertama, mereka fokus untuk eksplorasi internal; kolaborasi Wukir dan Rully. Untuk itu di album perdana mereka memberi nama Senyawa. Masih dua orang yang berkolaborasi di tahun 2010.

Lalu di tahun 2013 album Acaraki (ilmu meracik jamu) rilis dan bicara tentang mereka berdua yang mencari formula. Kemudian di tahun 2015 album lahir album Menjadi. Fase peramuan yang telah dilalui lantas ditransformasi menjadi karya baru.

Secara lugas mereka katakan, Senyawa bukanlah sesuatu yang harus dianggap rumit

Selanjutnya baru 2016 album Puncak lahir. “Kami punya pernyataan formulanya sudah tercapai di tahun itu tapi digarap dengan tidak ada persiapan, di Denmark, dadakan dan merekam secara spontan, improvisasi tanpa di mixing. Kemurnian tanpa konteks. Bahkan ini tidak bisa dibawa di panggung dan tidak direncanakan untuk dirilis,” kenang Rully dan Wukir bersahutan.

Setelah Puncak lalu apa? Titik tertinggi ini ternyata membawa mereka untuk kembali ke bawah, bersujud! Maka mereka namai album Sujud (2018), “setelah tinggi ya kembali ke Tanah. dari lagu pertama sampai terakhir itu proses bersujud, satu gestur manusia yang paling sakral adalah gerakan bersujud, bukan menyembah. Sujud: meletakkan diri kita dengan rasa hormat dan humble, kita tidak ada apa-apanya. Musiknya lebih spiritual dan dalam, albumnya menyimbolkan hal ini. Di luar negeri tanah itu istilahnya banyak, tapi di Indonesia ya ‘tanah’, dengan beragam tafsiran,” lanjut Rully.

Setelah Sujud, Senyawa menyadari masa satu dasawarsa paripurna. Lantas setelah ini mau apa? Jika kita tengkok kembali, lagu terakhir di album Sujud berjudul Kembali Ke Dunia.

Setelah 10 tahun bereksplorasi bersama, rasanya mereka sudah menyelesaikan perjalanan dan perjuangan sebagai sebuah grup duo. Alih-allih berhenti, mereka justru mempertanyakan fungsi.

Setelah 10 tahun bereksplorasi bersama, rasanya mereka sudah menyelesaikan perjalanan dan perjuangan dengan diri sendiri sebagai sebuah grup duo. Alih-allih berhenti, mereka justru mempertanyakan fungsi.

“Sekarang sudah saatnya kami amalkan kemudian disebarkan di dasawarsa kedua. Kami simpulkan dari permulaan dasawarsa kedua adalah kemandirian, seperti kembali ke dunia baru. setelah 10 tahun baru nyadar belajar untuk mandiri!” Pungkas Rully.

Akhirnya Alkisah yang dimunculkan pertama kali, sangat kuat! Inilah perjuangan sesungguhnya yang baru dimulai. Bukan melawan tatanan yang sudah ada, melainkan memberikan alternatif atas kesadaran untuk memaksimalkan pengembangan potensi diri sendiri.

Apa yang bisa kita harapkan dari Senyawa dengan Membaladakan Keselamatan? Tur enam kota dan sembilan lokasi sudah rampung dilakukan

Mereka menutup satu dasawarsa sebelumnya dengan rilisan album Rehearsal dan membuat tur Dasawarsa Pertama di Jakarta, Bandung, dan Jatiwangi sejak bulan Januari 2020. Sekaligus memperkenalkan Senyawa Mandiri. Selang dua minggu kemudian dilanjutkan dengan Tur Nusantara (chapter 1) Sulawesi (Makassar), Jawa (Bantul), Bali (Denpasar), dan Kalimantan (Pontianak) untuk menyasar kolektif yang kuat, tujuannya untuk membentuk jaringan grassroot yang saling menginspirasi.

Apa yang bisa kita harapkan dari Senyawa dengan Membaladakan Keselamatan? Tur enam kota dan sembilan lokasi sudah rampung dilakukan. Seperti apa kejutannya? Seorang fotografer Yose Riandi akan menuliskan dan memberikan visualnya untuk kamu.

Bagi saya, mereka tak hanya membawa karya, tapi gagasan yang menjadi juru selamat kita!

 


 

Penulis
Dzulfikri Putra Malawi
Jurnalis yang sudah tidak bekerja di media lagi dan sedang menikmati hari-hari menjadi Sr. Content pada salah satu agency digital. Menulis buku LOKANANTA bersama dua kawan dan masih aktif bermusik. Karyanya dapat dikunjungi di https://putramalawi.wordpress.com/ dan https://www.youtube.com/user/soulonsound
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Rekomendasi: Dinamika – Bangkutaman

Menariknya di album Dinamika ini dengan masih mengusung musik retro folk rock, Acum dkk. terlihat tidak kehabisan bahan bakar dan justru terdengar fresh.

Jambi: Di Bawah Radar Musik Arus Utama, dan Independen

Sepertinya bukan rahasia umum bahwa Jambi tidak pernah masuk di radar skena musik, terlebih musik independen.