Satu Per Empat – Lelucon Revivalis

Mar 11, 2022

Sebelum ini dimulai, saya setuju dengan semua yang Rio Tantomo sampaikan di paragraf pertama dari artikelnya tentang Satu Per Empat di situs Amvibe. Alasannya jelas, saya masuk dalam kategori snob medioker dan jurnalis (?) musik kompromis yang beliau tulis di paragraf tersebut. Melewatkan album perdana mereka, Pasca Falasi di tahun 2020 lalu dan baru menyimak keseluruhannya di beberapa bulan setelahnya adalah latar belakang dan juga sebuah penyesalan besar bagi saya.

Hal yang sama, tidak ingin saya ulangi kembali di Lelucon Revivalis, EP terbaru sang kuartet yang sebenarnya tidak baru-baru amat, mengingat empat materi di dalamnya adalah sebuah materi lawas yang sudah digarap di bangku SMP-SMA dahulu, yang kini kembali dipoles se-proper mungkin oleh mereka.

Sebentar, sejauh itu? Iya, kalian tidak salah baca. Mungkin kalian sudah tahu ini atau belum, tapi baik Bismo Triastirtoaji (vokal), Audi Adrianto (gitar), Levi Stanley (drum) dan Rigaskara (bas) ini memang sudah saling mengenal satu sama lain sejak bangku sekolah, belasan tahun lalu dan – tentu saja – awal dari perjalanan bermusik mereka.

Kembali ke masa kini, atas nama sentimentil dan historis, Lelucon Revivalis dihadirkan. Sebuah pengingat akan momen-momen yang hinggap di memori empat kepala selama rentang waktu tersebut, terangkum dalam “Blom 3x”, “Plaza”, “Raja” dan “Rindu Rebah di Rumput Hijau”. Juga, sang EP ini didapuk menjadi jembatan menuju album penuh kedua mereka.

Dengan fakta tersebut, maka bisa dibilang dengan lantang bahwa EP ini merupakan sebuah embrio dari seluruh materi-materi dari Satu Per Empat selanjutnya, sebuah gambaran terang akan bagaimana karakter musik dan chemistry yang sudah terbentuk sejak lama dengan segala macam dinamika dan perubahan yang melewatinya.

 

Sebelum berlanjut lagi, mari berbicara sebentar mengenai privilege – atau bahasa Indonesianya, hak istimewa atau kesempatan. Walau belakangan ini kata tersebut kerap mondar-mandir di Twitter dengan konotasi negatif penuh kedengkian yang berkaitan dengan ekonomi dan kekayaan, namun bukan itu yang akan disampaikan dalam beberapa paragraf ke depan.

Banyak hal yang bisa dikategorikan sebagai sebuah privilege, entah itu kesehatan, lingkungan pekerjaan yang menyenangkan hingga sebuah pertemanan yang melintasi zaman. Satu Per Empat, mempunyai sebuah privilege dari poin terakhir yang disebut.

Tidak banyak grup musik di Indonesia yang datang dari lingkaran pertemanan sejak umur belasan dan masih berlangsung langgeng hingga belasan kemudian, seperti apa yang dimiliki oleh Satu Per Empat. Formasi personel yang masih utuh dan tampak masih bersenang-senang dengan rencana jangka panjang, tentu itu merupakan sebuah privilege.

Oke, saya tidak akan membahas banyak mengenai musik di kesempatan ini karena toh, Satu Per Empat hanya ingin mengenang kembali perjalanan mereka dengan santai-santai saja dan tanpa tendensi apapun (tapi juga jangan lupakan kalimat terakhir dari paragraf keempat) dan siapa saya yang berani-beraninya merusak momen nostalgia mereka?

Namun, beberapa poin seperti ketukan-ketukan ganjil berubah tempo seenaknya di “Raja”, juga sahut-sahutan distorsi dari permainan instrumental dibarengi rintihan vokal Bismo yang ditempatkan di belakang nuansa lainnya di setengah durasi terakhir dari “Rindu Rebah di Rumput Hijau” yang hadir lebih panjang ketimbang materi lainnya menjadi dua hal yang mencuri perhatian saya.

Selain takdir, entah apa yang membuat Satu Per Empat tetap bersama jika bukan musik namanya.


 

Penulis
Raka Dewangkara
"Bergegas terburu dan tergesa, menjadi hafalan di luar kepala."
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

5 Pertanyaan: Kiki Ucup, Festival Director Pestapora

Kami berkesempatan berbincang singkat dengan Kiki Ucup, Festival Director dari Pestapora mengenai ragam aspek sebuah festival musik.

Morgensoll Terbang ke Belgia untuk dunk!fest 2023

Selain dua titik yang sudah disebutkan di awal, Morgensoll juga sedang merencanakan titik-titik lainnya dalam lawatan mereka ke Eropa.