Wawancara Mendalam: Selamat Datang di Kejanggalan Laze

846
Laze

Kalau sedang berada di wilayah Cipete, Jakarta Selatan, mungkin bisa coba mampir ke Stufa Eat & Brew. Berlokasi di sebelah sekolah fesyen ESMOD, kedai ini memang tampak sederhana dengan beberapa meja di balik dinding kacanya. Tapi kalau kamu beruntung, mungkin kamu akan menemukan sosok yang familier di sana. Dialah Havie Parkasya alias rapper dengan nama panggung Laze.

“Gue memulai tempat ini gara-gara pandemi,” katanya dari balik masker yang sudah menjadi bagian wajib dari kehidupan era COVID-19. Anak ketiga dari empat bersaudara ini mengelola Stufa Eat & Brew – sebuah permainan kata dari stufa (kompor dalam bahasa Italia) dan “stuff I eat” – bersama kakaknya yang tinggal bersama suaminya di rumah persis di seberang kedai tersebut. “Tadinya ini tempat mengopi, terus gue pikir tempat mengopi sudah banyak, makanya gue ingin ubah sedikit. Gue jualan ayam goreng dan wafel di sini, dan setelah pindah jadi ayam dan wafel, lebih ramai.”

Laze pun hadir dua hari tiap minggu di Stufa untuk menangani berbagai hal, dan di dua hari itu ia menempuh perjalanan ke Cipete dari Depok yang kini menjadi tempat domisilinya sejak menikahi Intan, teman masa kuliahnya yang juga inspirasi lagu “Pertanda Baik”, pada Agustus lalu. “Akhirnya mengurus tempat ini juga menjadi passion gue yang lain. Selain musik, gue suka masak juga kadang-kadang. Enggak serius banget, tapi yang penting gue senang. Gue mengurus dekorasi dan desain juga,” kata rapper berusia 28 tahun tersebut. “Jadi ketika gue sudah capek banget mengurus permusikan, gue ada kegiatan lain yang bikin senang juga, walaupun memenuhi jadwal juga sebenarnya.”

Mudah-mudahan kesibukannya sebagai pengusaha makanan tidak terlalu menyita waktu dan tenaganya dalam bermusik. Sejak mulai serius berkecimpung sebagai rapper ketika masih kuliah di Institut Teknologi Bandung, lalu di tahun 2015 menjadi bagian dari kolektif rapper, musisi dan insan kreatif yang bernama Onar, Laze dikenal sebagai rapper yang mahir menceritakan kisah sehari-hari dengan penuh empati serta detail yang setajam permainan katanya yang berbahasa Indonesia. Di awal 2018 ia melepas Waktu Bicara, album solo perdana dengan balutan musik elegan yang kebanyakan hasil produksi Laze sendiri dan membuatnya terdengar semakin berbeda dibanding musik hip-hop Indonesia pada umumnya.

Baca juga:  Wawancara Khusus Nadin Amizah: Hidup Aku Tidak Hanya untuk Bernyanyi

Kini Laze kembali dengan Puncak Janggal, album penuh kedua yang dirilis pada pertengahan November lalu. Diiringi musik mewah hasil produksi Randy Mohammad Pradipta alias Randy MP yang sebelumnya menggarap album Teza Sumendra dan juga telah merilis beberapa single disko Indonesia di bawah nama proyek Parlemen Pop, Laze menawarkan berbagai observasi yang didapat dari dinamika kehidupannya selama beberapa tahun terakhir dengan segala perasaannya yang campur aduk. Selain Randy, Puncak Janggal juga menampilkan kontribusi produksi dari Riza Rinanto, Monty Hasan dan Marcellino Nugraha alias m-Tunes.

Puncak Janggal juga merupakan bagian dari upaya Laze untuk membuat musik hip-hop bisa lebih diterima oleh pendengar di Indonesia, dan itulah sebabnya ia mengajak berbagai kolaborator yang lebih dikenal dari luar ranah hip-hop, termasuk Hindia, Petra Sihombing, Ben Sihombing, dan bahkan Mono, mantan anggota Alexa yang sudah mengeluarkan dua album di bawah nama Neurotic.

Sambil menyantap ayam goreng dan wafel hasil eksperimen racikan Laze di dapur, kami menelusuri perjalanannya menuju ke puncak yang janggal itu beberapa hari setelah album barunya beredar.

 

Pertama kali suka musik rap karena dicekoki kakaknya atau ketemu sendiri?

Awal-awalnya kurang lebih sama kayak nasib anak-anak yang tumbuh di tahun ’90-an akhir. Di masa itu kakak gue lagi suka-sukanya nonton MTV, terus gue lihat Eminem di situ: “Ini orang kayaknya keren banget. Dia sedang apa, sih?” Terus gue ikuti gayanya di depan TV. Gue belum tahu itu sedang apa. Sampai akhirnya gue suka Linkin Park, terus gue dengar Mike Shinoda. Baru gue tahu, “Oh, itu namanya ngerap?” Oke, gue pelajari lagu-lagunya Linkin Park. Gue bisa ikuti Mike Shinoda.

Habis itu gue nonton TV lagi. Gue lumayan korban TV. Lihat MTV Cribs: “Ini rumah mewah-mewah, mobil gede-gede. Ini orang kerjaannya apa, sih?” Ternyata rapper. Terus dari situ gue langsung kayak, “Oh, rapper? Ya sudah, gue ngerapaja. Kayaknya bisa deh, gue.” Nonton 8 Mile, jadi terinspirasi buat ikut battle rap. Gara-gara gue menang battle rapwaktu masih kecil, gue jadi lumayan yakin kalau itu jalan gue, gue jagonya di situ. Karena gue sudah coba berbagai hal. Main skate, gue enggak jago-jago banget. Gue coba belajar di sekolah, enggak pintar-pintar banget juga. Tapi waktu gue coba ngerap, gue langsung menang, dapat piala dan sebagainya. Gue langsung merasa, “Oh, di sini, kali.”

Baca juga:  Wawancara Bottlesmoker: Siap Menghibur Tanaman Di Konser Plantasia
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments