164

Seluk Beluk Pelecehan Kaum Hawa Di Konser Musik

contoh tanda bahaya atas kekerasan seksual di konser musik yang dibuat oleh musisi | gambar dibuat ulang oleh PHI

Kasus pelecehan seksual terhadap kaum hawa di konser musik baru saja terjadi dan banyak dibicarakan netizen. Tepatnya pada saat Band .Feast sedang manggung di Summarecon Mall Bekasi pada Sabtu, 19 Oktober 2019 lalu. Kejadian ini diketahui setelah korban melaporkan kejadian lewat twitter. Fattwa Pujanggawati, mengalami pelecehan seksual saat menonton konser Feast. Saat itu, Fattwa mengatakan bahwa ada tangan yang merabanya berkali-kali dari bagian belakang. Untuk kronologis lengkapnya dapat dilihat di sini.

Baskara Putra, vokalis dari .Feast turun tangan dan mengutuk kejadian ini, begitupun dengan musisi lainnya, seperti Kunto Aji, The Panturas, Dipha Barus dan masih banyak lagi. Mereka saling menghimbau sesama penonton apabila terjadi kasus serupa dengan merilis video S.O.S yang dapat digunakan dalam keadaan terdesak pada saat menonton konser. Sesama musisi pun turut mendukung aksi Baskara ini dengan ramai-ramai memberikan video S.O.S ini agar penonton dapat menyelamatkan dirinya dalam keadan bahaya.

 

Baca juga:  PHI Kaleidospop: Cuplikan Promosi Band Indonesia 2018

Bukan yang pertama

Jika menilik sejarahnya, pelecehan pada saat konser cukup sering terjadi. Seperti dilansir tirto.id dalam artikelnya bertajuk Festival Musik: Neraka Kekerasan Seksual bagi Perempuan, Jurnalis Teen Vogue, Vera Papisova mewawancarai penonton yang hadir di Festival Musik Coachella. Sebanyak 54 perempuan yang diwawancarai Papisova mengaku mengalami pelecehan atau penyerangan seksual selama berada di Coachella pada 2018 lalu.

Badai buruk bagi konser K-Pop di Indonesia / dok. liputan6.com

Kejadian pelecehan seksual ini juga pernah terjadi di dalam negeri pada 2016 lalu, tepatnya pada saat boyband K-pop EXO menggelar konser di ICE BSD Tangerang. Pihak keamanan konser mengharuskan pemeriksaan badan bagi setiap penonton yang masuk dalam area konser. Penonton wanita dewasa merasa dilecehkan. Mereka tak terima dengan prosedur penggeledahan badan tersebut. Sebab petugas keamanan meraba dan meremas bagian vital tubuh mereka. Tak terkecuali bagi para penonton wanita yang masih anak-anak.

Baca juga:  Nasionalisme Seorang Pelaut Handal Bernama Rich Brian
kasus pelecehan seksual di skena musik independen / sumber: vice indonesia

Masih di tahun yang sama, seperti yang dilansir melalui Vice Indonesia, pada saat gelaran konser punk yang diadakan di Jogjakarta, Debby Selviana vokalis band hardcore punk SLOST lebih dikenal dengan nama panggung Janet, melakukan stage dive—aksi meloncat ke arah penonton yang khas dari subkultur hardcore punk. Ketika melompat ke kerumunan, tangan seseorang muncul dari sisi kanan tubuh Janet, meremas payudaranya.

Masih dilansir di tirto di judul yang sama, Vokalis Tika and The Dissidents, Kartika Jahja pernah bercerita bahwa ia juga mengalami pelecehan seksual ketika tampil di atas panggung. “Pernah lagi manggung tiba-tiba ada penonton yang masturbasi. Pernah juga saya lagi manggung terus berlutut [untuk] menyorong mike ke penonton itu pahanya dipegang beberapa orang,” katanya.

Baca juga:  Bukan City Pop Indo, Tapi Indo Pop Urban

 

Pilihan Solusi

Tentunya, korban menjadi yang paling dirugikan di sini. Namun, bagaimana sebenarnya cara kita untuk menghindari dan tentunya membasmi pelecehan seksual di konser ini? Menggunakan video S.O.S seperti yang dijelaskan di atas mungkin menjadi solusi tercepat saat ini, tapi inipun tak otomatis menutup kemungkinan jika para pelakunya malah bergerombol.

.Feast / foto: melina anggraini

Di luar negeri sendiri, pencegahan terhadap pelecehan seksual sudah pernah dilakukan oleh organisasi yang bernama Girl Against. Tujuan mereka adalah menyediakan ruang aman untuk berbicara dan membantu memulihkan kondisi korban pelecehan. Tidak hanya itu, mereka juga mempunyai agenda besar, yakni mengakhiri pelecehan seksual di acara musik.