162

Setelah 18 Tahun, Album Media Distorsi Dirilis Digital

Media Distorsi
Setelah 18 tahun, album Media Distorsi dirilis kembali / foto: dok. Indra7

Album pertama dan satu-satunya Chapter 01: The Beginning milik duo Agus Sasongko dan Indra7 atau dikenal dengan nama Media Distorsi dirilis ulang secara digital oleh Anoa Records pada 1 Mei 2020. Setelah 18 tahun yang lalu beredar dalam format CD 1.000 keping dan ludes terjual. Kini album bisa didengarkan melalui layanan musik streaming.

Chapter 01: The Beginning berisi sepuluh lagu yang direkam sekitar tahun 2000-2001. Proses penggarapannya berlangsung di dua tempat yaitu Studio Venus, Depok milik Bongky ‘BIP’ dan Studio 18 milik Levi ‘The Fly’.

Didit Saad (dulu membentuk band Plastik – kini memperkuat Stars and Rabbit) sosok yang sudah cukup lama mereka kenal baik di dunia musik maupun pertemanan dipercaya untuk mixing dan mastering. Media Distorsi merasa punya satu visi yang sama dengan Didit tentang arah sound album ini harus dibawa ke mana.

Baca juga:  Slank dan Alipjon 'Mandi Cat' di Video Klip “Jangan Marah”

“Dalam proses mixing dan mastering, Didit banyak memberikan masukan ke kami tentang gimana sound atau mixing- nya harus seperti apa. Dan kami memang memberikan kebebasan penuh ke Didit untuk bereksperimen dalam mengolah sound design dari album tersebut,” kata Indra.

Media Distorsi / dok facebook com/indra.isa

Ketika TV dan radio sedang asyik mempromosikan materi ’07 Des’ Sheila on 7 atau ‘Cintailah Cinta’ Dewa. Album Chapter 01: The Beginning tetap mendapat tempat di hati pendengar musik Indonesia. Video musik “Confession, Pt. 2” masuk high rotation MTV Indonesia berbarengan dengan video milik Koil “Mendekati Surga” dan The Milo “Malaikat”.

Berbicara soal judul albumnya, seakan Media Distorsi mau berlanjut merilis yang lainnya. Indra pun mengatakan, “Kalau dilihat dari judulnya, seharusnya memang ada Chapter 02, Chapter 03, dst. Konsep awalnya memang seperti itu tadinya. Rilisannya dibuat berseri. Namun apa daya, di tengah-tengah perjalanan muncul ketidakcocokan secara musikalitas dan kehidupan personal antara saya dan partner band saya saat itu.”

Baca juga:  Tepat Setahun, Bin Idris Merilis CD Anjing Tua

Media Distorsi sempat mengisi beberapa album kompilasi seperti Jakarta Movement ’05 (2005) lagu “In Between”, Mesin Waktu: Teman-Teman Menyanyikan Lagu NAIF (2006) lagu “Selalu”, dan OST Janji Joni (2005) lagu “The Army Returns”. Mereka pernah mempersiapkan beberapa materi yang siap digarap. Sayang, Indra dan partner- nya di tengah jalan tak lagi menemukan chemistry.

Indra mengungkapkan keputusan untuk merilis ulang dalam format digital sebenarnya sudah dirancang sejak lama namun belum ketemu pihak aggregator yang cocok. Sampai akhirnya beberapa bulan lalu, ia memberitahukan tentang idenya ke Ritchie (Founder Anoa Records). Ide tersebut direspon positif. Prosesnya lumayan cepat sekitar satu bulan.

Indra 7 / foto: Michael Audiano Assa)

Mengapa baru dirilis secara digital karena dalam kurun waktu 18 tahun belum ada satu pun aggregator yang menawarkan diri. “Anoa Records itu bagus dan sangat proper dalam mengelola roster-rosternya. Gak cuma asal diterima lalu diedarkan rilisannya, tapi sampai hal-hal kecil (namun penting) layaknya sebuah record label dalam memberikan sebuah rilisan pers, liner notes, dan lainnya pun ada. Mereka benar-benar paham apa yang harus dilakukan dengan produk yang akan dirilisnya. Itu keren banget sih buat saya,” jelas Indra.

Baca juga:  Mocca dan Nasionalisme "Aku & Kamu"

Ritchie angkat bicara mengenai kerjasama mereka. Pihak Anoa Records excited begitu Indra punya rencana mengeluarkan versi digital album “Gue langsung discuss sama Peter (Anoa Records) dan karena klik sama visinya Anoa yang mau arsipin rilisan lokal yang kuat di era-nya jadilah project ini. Akhirnya dateng juga hari di mana bisa dengerin Media Distorsi di Spotify, secara dari akhir 2019 kita udah ngobrolin plan ini,” kata Richie.