Sirati Dharma – Transcendental

117

Musisi: Sirati Dharma
Album: Transcendental
Label: Palm House Records

Dari sekian banyak musik yang bisa dinikmati di layanan streaming digital, ternyata tidak sepenuhnya dari mereka bisa menyenangkan untuk didengarkan secara kasual (baca: di kereta, sambil berbelanja, atau sambil bersepeda).

Di salah satu layanan streaming favorit, saya bahkan punya playlist khusus Minggu pagi. Isinya sudah pasti lagu-lagu yang memang nyaman didengarkan di waktu senggang, biasanya saya pakai untuk mencuci Vespa atau sekadar memompa ban sepeda dan mencuci sepatu. Bentuk kasual ini juga sering dilakukan orang banyak ketika mereka punya playlist tertentu untuk menemani lari pagi mereka.

Musik hari ini memang demikian, jarang orang yang sebegitu ingin mendengar musik seperti musik ingin didengarkan. Misalnya membuat orang bertanya-tanya tentang komposisinya, atau tentang liriknya yang menusuk. Ada juga lagu yang sebetulnya ingin diperlakukan khusus, terutama ketika mereka berkumpul, tersusun rapih dalam sebuah album misalnya.

Malam ini, saya memiliki waktu sekian jam sebelum tidur untuk mendengarkan, menyimak dan mengamati lebih dalam lagu-lagu yang ada dalam Transcendental, album debut dari grup asal Jakarta, Sirati Dharma.

Sebagai sebuah grup, Sirati Dharma konsisten dengan musik psikedelik noise rock yang menjadi manifestonya. Jenis musik ini menurut saya layak diberikan tempat dan waktu khusus untuk mendengarkannya. Dan sekadar tambahan, dengan perangkat khusus yang mumpuni.

Setidaknya, earphone Marshall kecil adalah persiapan paling maksimal saya untuk menikmati album ini. Dan benar saja, begitu saya tekan “into the sun”, track pertama di album Transcendental, desis distorsi tipis merambat pelan-pelan, memutar kiri dan kanan kemudian menjadi jelas dan bising. Bam! wajah saya terasa tertampar bantal halus, saya menyerah dan melemaskan tubuh ini ke beanbag, menyerahkan nyala lampu 5 watt menjaga saya ketimbang lampu putih yang terlalu menyilaukan.

Dan selama puluhan menit ke depan, saya bak berenang dalam lautan distorsi terdalam. Gelombang-gelombang sonik menonjok bertubi-tubi, dram yang menggebu-gebu membuat emosi saya berputar-putar.

Saking terkaparnya, saya bahkan tak sempat mencatat judul-judul lagu apa saja yang sudah didengar. Yang saya rasakan, sepertinya ada banyak kemarahan yang terjadi di album ini. Hawa panasnya terdengar jelas.

Meski demikian, di balik kemarahan itu, Transcendental ternyata juga menawarkan suasana sinematik yang menarik.  Setidaknya itu tergambar jelas di lagu seperti “Sonar Echoes” dan “Reality Bites”, satu-satunya lagu ‘sesi istirahat’ menjelang penutup yang nyaman.

Saya menilai, Transcendental adalah misi sukses Sirati Dharma dalam mengorkestrasikan bebunyian menjadi sebuah rangkaian perjalanan musik yang menarik. Saya tak bisa membayangkan bagaimana intensnya mereka dalam menggarap album ini. Menghabiskan waktu puluhan shift demi menggabungkan varian efek bunyi menjadi sebuah harmonisasi maksimal bukan pekerjaan yang mudah.

Bagaimana menempatkan riuh rendah bunyi-bunyian tersebut di ruangan-ruangan kosong di kiri kanan telinga pendengar, butuh banyak pengalaman serta sensibilitas berlebih. Sirati Dharma lewat Transcendental adalah sebuah pembuktian.

______