Skena Musik Pontianak dalam Lima Tahun: Kolaborasi dalam Mengelaborasi Seni

May 16, 2024

Pontianak, sebagai ibukota provinsi Kalimantan Barat, telah menjadi pusat pertumbuhan dan perkembangan skena musik yang dinamis. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, skena musik Kota Khatulistiwa ini telah mengalami berbagai perubahan dan evolusi yang menarik untuk menjadi perhatian.

Lima tahun juga menjadikan skena musik Pontianak bertumbuh secara signifikan, baik dari segi kuantitas dan kualitas. Walaupun skena ini sempat tiarap dihantam pandemi, banyak musisi lokal yang mulai mendapatkan pengakuan di tingkat nasional hingga internasional. Sebut saja Manjakani yang menjadi penampil di festival musik nasional Synchronize Festival 2022; Nursalim Yadi Anugrah yang malang melintang ke beberapa negara demi memperkenalkan uniknya musik kontemporer eksperimentalnya; hingga baru-baru ini band musik ekstrem Circafaith yang turut menghantam panggung Hammersonic Festival 2024. Selain segelintir pencapaian tadi, genre musik yang hadir di ruang lingkup lokal Pontianak pun semakin beragam. Mulai dari rock, pop, hip-hop, alternative, psychedelic hingga musik kontemporer pun siap sedia bersenandung dari panggung ke panggung.

Saat Yellow Claw menggebrak halaman Grand Mahkota Hotel, Pontianak.

Beralih ke segmen seni pertunjukan, event musik dan festival di Pontianak juga semakin sering diadakan. Adalah Kosong-Kosong, sebuah ajang silaturahmi berbalut pertunjukan musik yang selalu diadakan setiap tahun di minggu pertama Idulfitri. Acara yang memiliki filosofi “saling memaafkan dan kembali ke (skor) kosong-kosong” ini menjadi cikal bakal rutinnya digelar festival musik 5 tahun belakangan. Baik itu festival skala lokal seperti Bless This Fest dan Kapuas Open Air, hingga festival skala nasional seperti Soundsation dan juga Latihan Pestapora. Tak berhenti sampai situ saja, artis internasional Yellow Claw juga pernah menyertakan Kota Pontianak sebagai salah satu titik turnya, walaupun, banyak yang menyayangkan panggung megahnya harus rela digelar di halaman parkiran hotel ternama Pontianak karena keterbatasan venue. Lucu memang, tapi tetap terbayarkan dengan antusiasme pengunjung yang tumpah ruah.

Dibandingkan dengan lima tahun yang lalu, skena musik Pontianak saat ini telah menjadi lebih matang dan profesional. Banyak musisi yang kini memiliki akses ke teknologi dan perangkat musik yang lebih canggih dan mumpuni, sehingga kualitas produksi musik pun jauh lebih meningkat. Terlebih, sumber daya pekerja panggung dan penyelenggara acara di Pontianak yang semakin lihai dalam menghadiahkan penikmat musik dengan tata panggung dan pengemasan acara yang lebih mutakhir. Semua melebur menjadi satu-kesatuan yang apik.

Skena: Soliter, Senioritas, atau Solidaritas?

“Skena musik Pontianak dalam lima tahun terakhir memang terus menggeliat,” ujar Arbian Octora, seorang music enthusiast dan pemilik Enamempat Records. Menurut Bian, walaupun (skena musik Pontianak) tidak laju bergerak, tapi akan terus ada.

“Sekarang (musik Pontianak) memang lebih variatif. Tapi setahun belakangan mulai muncul nama-nama baru yang kayak asyik sendiri. Banyak rilisan baru yang cuma berhenti di digital streaming platform dan unggahan media sosial aja,” ungkap Bian yang menyayangkan warna-warna baru di industri musik Pontianak yang kurang menggaung di khalayak luas.

Sedikit berbanding dengan opini Arbian, pada kenyataannya, tidak sedikit pula komunitas dan kolaborasi antar musisi yang saling membangun aliansi, saling bahu-membahu meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam musik Pontianak. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya kolaborasi musisi antar genre, hingga kolaborasi seniman antar disiplin ilmu yang dapat disaksikan dalam beberapa pementasan hingga pagelaran seni.

Gustri, seorang metalhead yang juga merangkap sebagai guru bimbingan konseling di salah satu SMA di Pontianak, mengamini fenomena ini.

“Skena musik di Pontianak situasinya jauh semakin progress, banyak hal positif dijumpai seperti ragam warna selera musik bisa duduk satu meja untuk saling memberi dan mengisi,” ujarnya. Tapi menurut Gustri, tak sedikit pula gesekan yang kurang nyaman terjadi.

“Ada saja yang merasa punya wewenang, menghakimi atau mengomentari selera, pendapat, hingga kebiasaan seseorang dalam menikmati dan menjalani musik. Siapa itu? Ya bisa saja saya, kamu dan kalian, baik disengaja atau tak disengaja,” ucap Gustri sembari menyayangkan fenomena senioritas yang di mana-mana mengakar. Menurut Gustri, ini dapat menjadi koreksi bersama, bukan salah satu pihak saja.

“Saling menghargai lebih baik. Kita memang berbeda, tapi kita rasanya sama-sama bodoh jika betombok hanya karena kita berbeda,“ ungkapnya via pesan singkat WhatsApp.

Salah satu adegan dalam “Pertunjukan Dalam Empat Babak” oleh Wai Rejected.

“Meriah dan menggairahkan.” Demikian jawaban Jaka Prakasa selaku CEO Volare Group apabila diminta menggambarkan geliat skena Pontianak dalam 5 tahun terakhir. Pria yang akrab disapa Jaka ini juga mengungkapkan bahwa ketersediaan gawai dan aplikasi serta meruahnya aksesibilitas informasi, memicu keseriusan dalam berkarya yang semakin intens antar musisi Pontianak.

“Yang harus terus diperjuangkan adalah ruang untuk saling berkolaborasi dan juga kesempatan untuk tampil membawakan karya di depan audiens. Perangai gatekeeping harus segera ditinggalkan agar tercapai tujuan akhir di mana istilah skena tidak lagi memisahkan tapi justru mempersatukan insan-insan kreatif,” pungkas Jaka.

Kumpolnyawe: Kolektif nan Kreatif, Impulsif nan Positif

BTS shooting unofficial videoklip “Home” milik Take It Easy di Kumpolnyawe.

Salah satu movement yang menarik perhatian dari skena musik Pontianak saat ini adalah Kumpolnyawe. Gerakan ini merupakan gerakan kolektifan yang terbentuk Ramadan lalu, dengan menghadirkan satu hari satu videoklip unofficial dari musisi lokal Pontianak, lintas genre dan generasi. Ide gila ini datang secara organik dari Fitro Dizianto, Eendruw, Ozzy Yunan, dan juga Surisman. Nama Kumpolnyawe sendiri secara simpel diambil dari kebiasaan orang Pontianak setelah bangun tidur selalu menceletuk bilang: “Ngumpulkan nyawe lok ye”.

Gerakan ini tak melulu berfokus pada musisi lokal saja, tetapi juga para kolaborator lintas disiplin ilmu yang terlibat seperti seniman visual, penulis, fotografer, penari, pixel artist, atlet beladiri dan masih banyak lainya. Ini menunjukkan bahwa musik Kota Pontianak tidak hanya berkembang dalam hal kualitas dan kuantitas, tetapi juga dalam hal kolaborasi dan integrasi dengan lintas disiplin ilmu. Kalau diibaratkan rumah makan, etalase video yang dibuat oleh Kumpolnyawe selama Ramadan kemarin sangat beragam untuk dinikmati. Mulai dari videoklip dengan storyline dan sinematografi yang ciamik, videoklip yang ‘disulap’ bak video karaoke era 2000-an, hingga videoklip yang memanfaatkan kecanggihan artificial intelligence, semua disajikan oleh Kumpolnyawe di kanal resmi YouTube mereka secara gratis.

Walaupun bisa dibilang ini adalah ‘proyek amal jariyah’, proyek ini digarap dengan penuh keseriusan dengan eksekusi ide yang matang. Selain itu, alasan movement ini dilakukan adalah untuk merespons geliat skena musik Pontianak hari ini yang sangat produktif dan juga menjadi ajang silaturahmi antara para musisi dengan visual artist lokal. Lebih jauh lagi Ozzy menambahkan, walaupun proyek ‘gila’ ini cukup melelahkan, sejatinya ini adalah wahana bermain yang sangat menyenangkan.

Konklusi Sebuah Diskusi

Kolaborasi dalam mengelaborasi seni. Mungkin kalimat inilah yang mampu menggambarkan skena musik Pontianak lima tahun terakhir. Tak hanya telah menunjukkan perkembangan yang signifikan, pertumbuhan yang pesat dalam hal kuantitas, kualitas, dan kolaborasi, menjadikan musik Pontianak semakin dikenal dan dihargai baik di tingkat lokal, nasional, hingga internasional.

Sejumlah panggung pentas yang digelar hingga gerakan yang digagas oleh Kumpolnyawe merupakan bukti nyata dari inovasi dan kreativitas yang ada di skena musik Pontianak saat ini. Dengan terus mendorong kolaborasi dan eksplorasi baru, skena musik Pontianak memiliki potensi yang besar untuk terus berkembang dan menjadi salah satu pusat musik terdepan. Setidaknya, untuk pulau Kalimantan. Semoga.

Eendruw dan Ozzy tengah mengarahkan model videoklip “Bahas Planet” Puckmude.

 

Penggunaan foto-foto di artikel ini sudah atas izin dari para pemiliknya. 

Penulis
Dicky Reno
Pria yang berdiri sejak 1989 ini gemar mengamati pergerakan industri musik. Selain sering ‘bersuara’ lewat jurnal musik lokal Pontianak bernama NoisyBae, ia juga memiliki hobi mencabik senar bass dalam kelompok bermusik bernama HYENAS.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

5 Musisi Indonesia Favorit Bambang Pamungkas

Pophariini berkesempatan untuk melakukan peliputan Prambanan Jazz tanggal 5-7 Juli lalu di Candi Prambanan, Jawa Tengah. Salah satu yang menarik perhatian kami saat itu melihat legenda penyerang Timnas Indonesia Bambang Pamungkas (Bepe) bersama keluarganya …

5 Pertunjukan yang Wajib Ditonton di We The Fest 2024

We The Fest akan berlangsung beberapa jam lagi. Festival garapan Ismaya Live ini menghadirkan sejumlah musisi lokal maupun internasional selama tanggal 19-21 Juli 2024 di GBK – Sports Complex, Jakarta Pusat.    View this …