Sosok Oslan Husein, Penyanyi Pertama Lagu “Lebaran” Termashyur Itu

• May 14, 2021
Sosok Oslan Husein, Penyanyi Pertama Lagu "Lebaran" Termashyur Itu

Karya-karya populer memiliki caranya sendiri untuk bisa menjadi legendaris. Dalam konteks lagu, dapat melalui berbagai rekaman cover version, terus dimainkan di panggung-panggung perhelatan musik, diputar oleh alat-alat transportasi dan ruang-ruang seperti supermarket dan pertokoan, radio, hingga acara televisi. Apalagi di Indonesia, terutama era sebelum ada hingga masa-masa pertama internet dipasang, ketika tak semudah itu untuk mendapat pengetahuan akan katalog lama dari musik negeri sendiri.

Seperti lagu “Lebaran” karya cipta M. Jusuf yang selalu terdengar setiap menjelang lebaran. Lagu yang begitu terkenal, meskipun hari ini versi rekaman aslinya tak sepopuler itu, termasuk nama penyanyi pertamanya: Oslan Husein. Untuk memudahkan lagu yang saya maksud, berikut saya lampirkan cuplikan liriknya, mungkin langsung terbit notasinya pada ingatan Anda.

Selamat hari lebaran / Minal ‘aidin  wal faizin / Mari bersalam-salaman / Saling memaaf-maafkan / Ikhlaskanlah dirimu / Sucikanlah hatimu / Sebulan berpuasa / Jalankan perintah agama

Oslan Husein dikenal luas pada 1950 dan 1960an, melalui musik dan film, tapi tak terasa “anginnya” bagi saya, generasi berikutnya, yang tidak menemukan rekaman-rekaman albumnya di toko kaset. Pengetahuan dan ketertarikan saya pada Oslan Husein datang di kemudian hari dari seorang yang kerap dijuluki teman-teman sebagai “kamus musik berjalan”: David Tarigan.

Pada awal 2000an, David bekerja dan bertanggungjawab pada section musik toko buku Aksara di Jakarta. Rak di sana dipenuhi Compact Disc, banyak di antaranya berupa rilisan yang tidak umum ditemukan pada toko-toko musik lainnya, menarik hati dan membuat anak-anak muda ngiler melihatnya.

Tapi ada hobi tambahan David Tarigan pada ruang-ruang kosong di atas rak itu: menaruh dan mengganti-ganti piringan hitam Indonesia koleksi pribadinya. Sampul-sampul piringan hitam yang membelalak mata; datang dari masa lalu untuk menjadi pengalaman visual baru!

Saya bahkan sampai meminta David untuk sudi meminjamkan beberapa koleksinya untuk kebutuhan pemotretan sebagi pendukung tulisan saya membahas sampul-sampul album Indonesia lama untuk sebuah majalah. Hari itu, pada paruh pertama 2000an, melihat sampul album Cruel Side of the Suez War, rilisan 1974 dari kelompok musik AKA, misalnya, adalah sensasi luar biasa bagi saya.

Dari David juga saya mengenal sampul album berwarna kuning dengan wajah pria kumisan tersenyum berseri dan tangannya memberi kode lambang “ok” (jari telunjuk dan jempol membentuk semacam lingkaran) beserta ejaan dan tipografi nama penyanyi yang sangat khas dari desain masa lalu: Hanja Ada Satu….. Oslan Husein.

Ketika mendengar musiknya, minat itu sudah tumpah dan ingin mendekapnya, menyimpannya sebagai musik kesukaan. Musik mambo-cha-cha dari suasana tropis Amerika Latin bertemu vokal Oslan yang merdu sekaligus berlogat jenaka, dengan lagu pertama di piringan hitam itu berjudul “Es Mambo”—sesuatu yang mengagetkan bagi saya!

Di era yang jauh dari mengenal rekaman Oslan Husein, pada sekitar akhir 1990an-awal 2000an, saya pernah spontan mengarang dan menyanyikan lagu berjudul “Es Mambo Kacang Ijo”, hanya untuk iseng-iseng bernyanyi bersama teman-teman di kendaraan pada sebuah perjalanan malam hari. Tidak pernah terpikir bahwa pernah ada lagu berjudul dan bertema serupa pada album rekaman di Indonesia era 1960an. Penemuan rekaman “Es Mambo’ dari Oslan Husein, beserta “tema-tema bebas” pada lirik lagu-lagu Indonesia dari masa lalu, sepertinya telah menginspirasi saya untuk cuek merekam lagu bertema jajanan “Es Mambo Kacang Ijo”, termuat dalam album Operasi Kecil, dirilis pada 2017.

Tentu ada konteks yang berbeda di antara dua es mambo itu. Terlebih, ini juga yang seru bagi saya: ada racikan musik mambo dalam rekaman “Es Mambo” dari Oslan Husein!

Pada era 1950an dan 1960an, invansi Rock and Roll, Mambo dan Cha-Cha sudah dirayakan muda-mudi di Indonesia. Akan tetapi kita tahu suhu politik saat itu dan bagaimana Bung Karno mengecam musik-musik tersebut dengan istilah “ngak-ngik-ngok”. Bagi para musisi Indonesia, perlu cara tertentu untuk tetap bisa memainkan musik “Kebarat-baratan” itu, yaitu dengan menggunakannya sebagai aransemen baru dalam menyanyikan lagu daerah atau dimainkan bersama lirik-lirik yang sesuai simpati negara atau yang dikategorikan sebagai kepribadian bangsa.

Penulis
Harlan Boer
Lahir 9 Mei 1977. Sekarang bekerja di sebuah digital advertising agency di Jakarta. Sempat jadi anak band, diantaranya keyboardist The Upstairs dan vokalis C’mon Lennon. Sempat jadi manager band Efek Rumah Kaca. Suka menulis, aneka formatnya . Masih suka dan sempat merilis rekaman karya musiknya yaitu Sakit Generik (2012) Jajan Rock (2013), Sentuhan Minimal (2013) dan Kopi Kaleng (2016)
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Resensi: Sunwich – Storage

jika anda penyuka katalog gelombang baru band indiepop vokalis perempuan, anda harus memberikan Sunwich kesempatan untuk dipasang kencang-kencang.

Mau Tau Banget?: Mentor Interview – Laleilmanino

Selamat datang di edisi perdana Mentor Interview! Sekilas mengenai Mentor Interview, kami berkeliling menemui nama-nama yang sudah tidak asing lagi di industri musik Indonesia saat ini. Nama-nama yang kami temui, mempunyai keahliannya masing-masing di …