3936

Spotify dan Betapa Narsisnya Kita

Ilustrasi: @abkadakab

Betapa enaknya mencari musik di zaman sekarang. Tinggal buka Youtube, Spotify, Joox, atau piranti streaming services lainnya. Dalam hitungan detik, voila, musik yang Anda cari semudah menggeser telunjuk tangan Anda. Coba bayangkan saat saya remaja dulu. Untuk mencari musik yang diinginkan saya mesti blusukan ke loakan di Cihapit dan Dipati Ukur, bolak-balik mengamati senarai “thanks list” sebagai satu-satunya kanal informasi di kaset/CD, melihat daftar ulasan di majalah musik, mendengar radio setiap pagi, hingga nongkrongin MTV sepulang sekolah.

Itu pun tidak semua musik yang saya sukai itu ada. Kalau sedikit beruntung, kita menitip pada teman yang sering ke luar negeri. Selain lewat cara di atas, juga sudah mulai muncul “budaya berbagi”: saling pinjam meminjam kaset/CD, barter mixtape, memesan barang-barang cokro (hacking), MP3 traders, hingga menitipkan hard disk eksternal kita ke seorang teman untuk berbagi koleksi yang seringkali disisipkan berbagai “bonus” yang disukai Kaum Adam. Perlu banyak usaha untuk memuaskan hasrat keduniawian mengonsumsi musik.

di Indonesia, 88% responden mendengarkan musik melalui streaming service dan sekitar 51% di antaranya menghabiskan waktu satu sampai empat belas jam per minggu untuk memanfaatkan layanan tersebut

Segala sesuatu serba terbatas. Kalau Anda bukan orang yang “ngulik” dan punya pergaulan luas, maka konsumsi musik Anda hanya sebatas apa yang tersedia di radio, TV, atau toko-toko rekaman yang ada. Sungguh membosankan!

Baca juga:  Kampungan Versus Gedongan: Bagaimana Selera Musik Kelas Menengah di Indonesia Terbentuk?

Saat revolusi digital mulai memasuki industri musik, cara kita dalam memproduksi dan mengonsumsi musik ternyata turut berubah. Pada 1999, revolusi musik digital dimulai. Seorang anak muda Amerika bernama Shawn Fanning menciptakan Napster yang membuat semua orang di berbagai penjuru negara bisa saling berbagi lagu. Napster menandai suatu era baru bahwa secara radikal musik bisa didapatkan secara “gratis”. Akses terhadap konsumsi musik pun berubah. Industri musik kehilangan kontrolnya karena akses itu membuat siapapun (selama memiliki koneksi internet) bisa memperoleh musik secara cuma-cuma – saling berbagi lagu secara ilegal.

Genderang perang antara industri musik melawan pembajakan digital pun seolah dimulai. Puncaknya, ketika band Metallica menuntut hukum Napster. Bagi industri itu tindakan amoral karena melanggar hukum. Sedangkan, bagi kami yang saat itu haus dengan informasi dan konsumsi musik, kemunculan teknologi peer-to-peer seperti suatu berkah tersendiri. Pada akhirnya revolusi digital itu menciptakan akses demokratisasi.

Baca juga:  Kenapa Bandung Pop Darlings*?

Sejak saat itu kelindan antara industri musik dan teknologi digital kian berkembang. Beragam perangkat mulai muncul dari iPod, iPod Touch, MP3 players, smartphones, iTunes, dan lain-lain. Seiring perkembangan waktu, cara kita mengonsumsi musik kemudian dipengaruhi oleh kelindan teknologi digital: digital download, ringtone, ring back tone, dan yang saat ini sedang tren yaitu online streaming services.

Kita sebagai pendengar musik kemudian seperti terjebak pada satu labirin panjang yang diciptakan oleh berbagai penemuan teknologi digital.

Tak bisa kita pungkiri bahwa saat ini keberadaan piranti online streaming services semacam Spotify, Joox, dan Apple Music menjadi digdaya di industri musik digital. Keberadaan mereka merevolusi cara industri musik bekerja, termasuk juga mengendalikan pasar musik digital terbesar saat ini.

Baca juga:  PHI Kaleidospop: Potret Jurnalisme Musik di 2018

Secara global, Spotify telah memiliki 70 juta premium subscriber, diikuti Apple Music dengan 30 juta pelanggan di akhir 2017. Kemungkinan akan terus bertambahnya subscriber sangat masuk akal dengan makin banyaknya tawaran program, inovasi, dan kemudahan cara bayar dari setiap piranti streaming services tersebut. Untuk di Indonesia sendiri, berdasarkan Online Music Streaming Survey 2018 oleh Daily Social kepada hampir dua ribu responden di Indonesia, 88% responden sudah mendengarkan musik melalui streaming service dan sekitar 51% di antaranya menghabiskan waktu satu sampai empat belas jam per minggu untuk memanfaatkan layanan tersebut. JOOX menjadi layanan streaming terpopuler di Indonesia dengan angka 70,37% pengguna, disusul oleh Spotify (47,70%), LangitMusik (28,51%), SoundCloud (19,75%), dan Apple Music (16,50%).