Stars And Rabbit – On Different Days

• Jul 19, 2021

Tidak sengaja minggu itu saya mengulang-ulang terus album Waitress in Donut Shop dari Maria Muldaur. Sebuah album yang kaya tekstur dan rasa, dari jazz, roots, blues, gospel, dll, namun menariknya album bisa dinikmati kapan saja di segala suasana. Album ini juga yang menurut saya menunjukkan karakter vokal seorang Muldaur yang unik. Di satu sisi, effortless, fragile namun juga matang.

Entah mengapa saya sangat menggandrungi skena singer songwriter perempuan Amerika era 70-an. Nama-nama seperti Joni Mitchell, Muldaur, Laura Nyro, Carole King, Carly Simon, sampai yang muncul di era akhir 70-an seperti Kate Bush atau Ricky Lee Jones misalnya, semua membawa ciri khas masing-masing berbeda satu sama lain.

Di Indonesia mungkin ceritanya bisa dimulai hari ini, lewat Elda Suryani dan Didit Saad. Somehow, saya bisa menemukan benang merah antara apa dilakukan Elda bertahun-tahun bersama Stars and Rabbit, bagaimana ia mengolah vokalnya sedemikian rupa hingga sulit disamakan dengan penyanyi perempuan yang ada di tanah air yang terlebih penyanyi baru yang akhir-akhir ini tengah mengerucut menjadi pengikuti dari jenis vokal penyanyi tertentu.

 

Lewat On Different Days, sekali lagi saya kian memahami ketebalan Elda dalam mengolah koreografi suara hingga menjadi sebuah warna berbeda dan unik. Jikalau saya sedang berada di Austin di satu siang misalnya dan saya menyetel lagu folk rock kontemporer seperti “Merry Alone” di sebuah mobil bak terbuka dan berhenti di sebuah toko sepatu boots, akan sangat mungkin seseorang yang menyapa saya siang itu mengira ini adalah musisi dari Austin atau daerah Amerika lainnya. Itu hanya suasana yang bisa saya gambarkan setelah mendengar di lagu ini.

Siang itu saya membuka shield vinyl album pressing-an Jepang ini, lengkap dengan Obi-nya yang cantik. Berbekal kopi panas, saya panaskan ampli lalu terputarlah satu demi satu track side A dan Side B album ini.

Saya begitu larut dalam suasana album ini. Vokal Elda dan gitar Didit menjadi senjatanya. Tarikan vokal sesekali raspy, sekelebat lantang, kadang effortless ini membuat telinga saya dimanjakan, seperti  intro “One Foot”, satu menit emosional yang luar biasa.

Didit, on the other hand yang saya lihat sudah seperti kunci dan gembok yang seakan tahu benar bagaimana mengolah notasi-notasi musik, bukan sebagai pengiring belaka. Selain “Merry Alone”, nomor-nomor seperti “Moon Lone City” atau nomor roadtrip saya seperti “Pretty Anticipated” dan “Library of My Mind” menunjukkan kelihaian penulisan dan aransemen dari musisi senior sekaliber dia.

Terlepas dari tema besar yang disampaikan Elda di album ini soal bukan tentang memperbaiki sesuatu, namun melepaskan. Well, menurut saya pelan-pelan Elda mulai melepaskan cerita lamanya dan siap menggali pengalaman baru yang seru nantinya. Jika Rainbow Aisle memulainya terlalu tergesa-gesa, maka On Different Days saya jadi semakin tahu (atau sok tahu lebih tepatnya) duo ini akan dibawa kemana.

_____

Penulis
Wahyu Acum Nugroho
Wahyu “Acum” Nugroho Musisi; penulis buku #Gilavinyl. Menempuh studi bidang Ornitologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menjadi kontributor beberapa media seperti Maximum RocknRoll, Matabaca, dan sempat menjabat redaktur pelaksana di Trax Magazine. Waktu luang dihabiskannya bersama bangkutaman, band yang 'mengutuknya' sampai membuat dua album.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

16 Pertanyaan: Anya ‘Caccia’

Di edisi terbaru dari rubrik 16 Pertanyaan, kami ngobrol-ngobrol dengan 1/2 dari Caccia, Zefanya Siahaan!

Bersiap untuk Album, GANGGA Melepas Single Terakhir

Untuk penulisan lirik, GANGGA dibantu Petra Sihombing, musisi yang juga bertindak sebagai produser lagu dan juga dengan Kamga Mo sebagai pengarah vokal.