Album Favorit Pophariini Selama Setengah Tahun 2021

Jul 17, 2021

Sama seperti setengah tahun sebelumnya, kami merangkum beberapa rilisan-rilisan lokal favorit kami yang hadir di rentang waktu tersebut. Tidak usah kita berbicara mengenai kehidupan di setengah tahun ini karena situasi masih sama seperti tahun lalu – bahkan nampak lebih gelap.

Narasinya masih mirip-mirip dengan artikel ini di tahun lalu. Jika ada yang membawa terang, salah satunya adalah banyaknya nama-nama yang memutuskan untuk melepas materi terbarunya (dalam hal ini: album dan mini album) di tahun ini.

Cukup mengagetkan dan membuat kami senang, karena tentu saja semua materi tersebut hadir membawa warna dan geloranya masing-masing. Perkara pandemi ternyata tidak menyurutkan nama-nama tersebut untuk membawa kualitas bermusik terbaik dari mereka yang ditunjukkan melalui rilisan tersebut.

Agak berbeda dengan sebelumnya, kali ini masing-masing dari tim redaksi kami memberikan lima nama pilihannya untuk daftar ini. Sebagai penjelas, urutan album-album ini tidak sesuai peringkat. Tidak hanya album favorit, daftar ini juga termasuk beberapa mini album favorit kami di sepanjang setengah tahun ini.

Selamat menyimak.


Anto Arief

1. Sundancer – Suvenir (EP)

Menegaskan kalau instrumen gitar elektrik itu masih ultra-keren. Dan sound gitar fuzz basah, ber-ruangnya itu, ampun Omrobo! Kata siapa musik surf-rock gitu-gitu saja?

 

2. Gamaliel – Q1 (EP)

Vokalnya, musik orkestra mewahnya, ini album yang terlalu indah untuk telinga orang Indonesia.

 

3. Lomba Sihir – Selamat Datang di Ujung Dunia (Album)

Meski kurang PD dan memilih menari di bawah bayangannya Hindia, tapi ramuan lirik dan hibrida musik pop/rock/urban-nya belum ada lawannya di 2021 ini.

 

4. MALIQ & D’Essentials – RAYA (Mini Album)

Setelah tujuh album, mesin pop ini membuktikan mereka mampu melakukan apa saja. Album pop eksperimental jos, album pop ringan jos!

 

5. Koil – First & Second Installment

Saya fans berat grup lawak gothic ini, jadi pasti masuk. Meski CD 1 masih bingung, di CD 2 mulai seru. Konsisten dengan tema kegelapan dan kenyelenehannya. Kabarnya, akan ada Installment sampai ke sekian. Lama amat! Nggak sabar untuk album penuhnya. Semoga urusan mistisnya cepat kelar.


Wahyu Acum

1. Ametis – Ritus Hancur

Katalog baru, hasil join forces Grimloc dan Disaster. Sebuah ledakan experimental hardcore yang tebal dan bahaya.

 

2. Indra Lesmana – Sleepless Nights

What can I say, sejak hijrah ke Pulau Dewata, karyanya makin nakal dan liar saja. Two thumbs up!

 

3. MALIQ & D’Essentials – RAYA (Mini Album)

Mengobati rasa kangen akan aransemen-aransemen mereka pada waktu memulai band ini. Sweet motown-style, love it!

 

4. Gamaliel – Q1 (EP)

Fase barunya yang berjalan dengan tatanan yang lebih serius dalam memandang musik membuat Gamaliel berada di level yang lebih tinggi dari yang sudah-sudah.

 

5. Stars and Rabbit – On Different Days (Album)

Nyerah. Duo ini sukses menggetarkan hati dan telinga dengan aransemen dan vibrasi yang luar biasa. Mendengarnya dalam format vinyl dengan frekuensi yang lebar sangat direkomendasikan.

 


Pohan

1. Rayrocc. – Midnight Conscious (EP)

Di mana pun kota kita menetap akan menjadi tantangan era yang bisa terkubur dalam jiwa. Jadi, sebaiknya pergi ke mana agar masalah hidup bisa diselesaikan? Tidak pasti. Rayrocc. bercerita tentang kehidupan lalu. Sekarang, ia sudah pulang dari negeri lain. Dalam ketukan satu sloki minuman gin, iramanya lebih dari memabukkan. Terima kasih.

 

2. Pieter Anroputra – Incurable Romantic: Can I Talk To You? (EP)

Dunia tidak pernah baik-baik saja bagi para penakut. Kalau cuma menghadapi urusan perasaan, biar Pieter yang mengatasinya dengan lirik. Lagu-lagu di album ini tentang kamu, kamu, dan kebekuan yang perlahan mengeras dituturkan. Nafas Pieter menjamah tiap lirik yang ia atur sebagai dirinya sendiri dan mengendap di telinga. Kelar.

 

3. Ardhito Pramono – Semar & Pasukan Monyet (EP)

Tujuan Ardhito Pramono untuk membangkitkan kembali lagu-lagu anak yang sudah terbilang langka, cukup tepat dengan adanya album ini. Aransemen musik sekaligus suara khas Ardhito selalu berhasil membuat hidup ini baik-baik saja. Meskipun Indonesia tak memiliki salju, album ini seakan membawa kita benar-benar sedang bertualang. “We’re going sailing to Peru”.

 

4. Mikha Angelo – Lover (EP)

Saya merasa harus mengidolakan Mikha Angelo semenjak mini album ini hadir. Tak bisa membandingkannya dengan album penuh perdana, Amateur. Muncul dengan “Shot” yang hancur, perasaan seperti harus rela saja ditembak berkali-kali. Lover membuat saya tunduk untuk merayakan banyak hal tentang perasaan. Walau sebenarnya tak ada siapa yang menjadi tujuan.

 

5. Glyph Talk – No Music (EP)

Kadang tidak perlu ngerti-ngerti banget tentang jenis musik. Selagi pendengaran kita masih berfungsi, dan speaker bluetooth terisi 100% dayanya. Tanpa harus banyak menilai, apalagi menghafal lirik-liriknya karena mini album ini tidak butuh itu. Dengarkan “Fuck the Moon” sore hari. Lalu, biarkan “Nice One!” mengejar waktumu yang kini cuma bisa dihabiskan di satu ruangan saja.


Raka Dewangkara

1. Basboi – Adulting For Dummies (Album)

Sudah saya jelaskan di sini bagaimana Adulting For Dummies punya tempat di telinga saya hingga sisa tahun ini – atau bahkan mungkin hingga tahun-tahun ke depannya. Sebuah album debut dari seorang rapper yang bisa dibilang sebagai sebuah pencapaian yang membanggakan dan membahagiakan – untuk sang rapper sendiri maupun untuk para pendengarnya.

 

2. Swellow – Karet (EP)

Sebuah kejutan dari Bogor yang sebenarnya tidak kejutan-kejutan amat, mengingat si kota tersebut dan jalur indie-rock mempunyai hubungan yang manis selama beberapa tahun ke belakang – dan Swellow masuk dalam gerbong tersebut. EP debut mereka ini menyuguhkan lima lagu yang keseluruhannya manis sebagai sebuah debut. Nomor andalan saya? Tentu saja “Sukar” untuk menemani sesaknya peron di Tanah Abang, menunggu kereta arah pulang.

 

3. Gamaliel – Q1 (EP)

Sudah lama saya tidak mendengar musik dari nama lokal yang ‘seperti ini’ dalam beberapa waktu ke belakang – atau saya saja yang memang kurang ngulik? Tapi apapun alasannya, Gamaliel menyuguhkan hal yang sangat indah di mini albumnya ini. Belum lagi dengan iringan orkestra nan megah yang kerap mampir di nomor-nomor tersebut. Mengutip Anto Arief, “Ini album yang terlalu indah untuk telinga orang Indonesia.”

 

4. MALIQ & D’Essentials – RAYA (Mini Album)

Tolong beri tahu saya ketika sextet ini merilis sebuah materi yang tidak enak, karena Raya kembali menegaskan posisi mereka sebagai unit pop paling disegani di Indonesia saat ini – dan mungkin dalam waktu yang lama ke depannya.

 

5. Glyph Talk – No Music (EP)

Setelah kemunculan unit new-wave/post-punk Beta Daemon di penghujung tahun lalu, kali ini giliran duo Glyph Talk yang membawa nuansa serupa. Enam lagu dihadirkan, termasuk rilisan fisiknya dalam dua format – CD dan kaset. Kental dengan nuansa art-punk dengan balutan lirik-lirik nihilis, rasanya sebuah split-release dengan Beta Daemon di masa depan menjadi sebuah ide yang bagus.


 

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Makassar Bukan Lagi Hanya Sekadar Daerah

Tulisan kempat Bising Kota kali ini ditulis langsung oleh Brandon Hilton dari Makassar

Portree Saling Menguatkan di Single “Jingga”

Portree mendedikasikan lagu “Jingga” untuk teman dan sahabat yang berada di lingkaran mereka, yang selalu hadir dan terlibat di setiap langkah Portree.