Stop Melabeli Musik Lawas Indonesia Dengan “City Pop Indonesia”

4703
Stop Melabeli Musik Lawas Indonesia Dengan
Ilustrasi @abkadakab

Label “city pop Indonesia” adalah bola liar yang tengah menggelinding di antara anak muda trendi pecinta musik terutama musik lawas Indonesia 80/90an. Lucunya hal ini menggembirakan sekaligus juga memprihatinkan.

Sebelumnya Pophariini sempat membahas perihal “city pop Indonesia” ini. Musik pop Jepang 80an sarat nostalgia dan nuansa perkotaan yang terfusi oleh genre funk, jazz, disko, boogie cocok untuk diputar di mobil menemani jalan-jalan di bawah lampu kota.

Ide tulisan ini muncul dari rutinitas mengulik musik lawas Indonesia yang tiap minggu kerap diperbaharui katalognya di digital streaming provider (DSP) Spotify. Selain perlahan semakin lengkap, penemuan lainnya adalah kini begitu banyak playlist lokal berlabel “city pop Indonesia” yang menggembirakan, namun juga memprihatinkan.

Menggembirakan karena kita bisa ambil bagian dari tren city pop yang menjangkiti dunia sejak 2010 kemarin. Dan juga katalog musik lawas Indonesia kini terdokumentasikan dengan baik, dan para penikmat musik berbagai usia menjadi lebih mawas pada katalog musik lawas Indonesia.

Di sisi lain mengherankan karena ada pergeseran signifikan dalam pemahaman city pop itu sendiri. Selain menemukan nama-nama yang lazim dilabeli city pop, saya juga menemukan nama yang membuat tertawa karena menemukan nama lintas genre yang melenceng dari konteks city pop, dan cenderung salah kaprah.

Di sisi lain mengherankan karena ada pergeseran signifikan dalam pemahaman city pop itu sendiri

Dalam playlist city pop Indonesia kita lazim menemukan nama besar seperti Fariz RM, Chrisye, Candra Darusman dan Utha Likumahuwa. Ini masih sah bila mengacu kepada definisi city pop sebagai musik pop 80an dengan nuansa funk, jazz, disko, boogie. Tapi tidak seberapa dibandingkan nama-nama yang ditemukan berikut. Siap?

Ini nama-nama lintas genre yang saya temukan dalam salah satu playlist city pop Indonesia di Spotify: Koes Plus, Base Jam, Dewa 19, Yuni Shara, Stinky dan, unit SKA, Tipe-X. Bila itu belum cukup, ada unit hardrock 90/2000an, Edane dan unit emo-rock ibu kota, Killing Me Inside. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat pada mereka, saya tak kuasa untuk tidak berdecak, wow.

Cukup absurd melihat nama itu masuk dalam kriteria city pop. Bayangkan jika ada pecinta musik mancanegara ingin mengetahui city pop Indonesia dan menemukan band metal, ska, hardrock dan bahkan grup proto pop-melayu, Stinky di dalam kategori ini. Semoga ia bisa baik-baik saja menerima definisi city pop yang bisa berbeda sendiri di Indonesia ini.

Sebetulnya tidak sepenuhnya salah bila melihat ini terjadi di era informasi tanpa batas seperti sekarang. Di era media sosial siapapun sah dan bisa menjadi kurator atas seleranya sendiri. Apalagi dengan terminologi genre musik yang sudah semakin kabur seperti jaman sekarang. Perihal kurasi tanpa batas ini juga terjadi di Youtube, ketika semua orang bebas meng upload mixtape nya sendiri dengan label “city pop Indonesia”.

Perihal pelabelan city pop ini juga sempat mengusik benak duo Diskoria. Melalui obrolan via aplikasi Zoom, salah satu personilnya, Merdi Simanjuntak heran Diskoria dikategorikan city pop.

“Diskoria sih secara sadar pengen bikin disko ngepop lawas yang groovy plus visual retro aja. Tapi terus semua orang bilang ‘wah ini city pop revival Indonesia!’ Gue sih cuma bisa ketawa aja”,  ujar Merdi sambil tergelak.

Ditambahkan olehnya “City pop itu di luar saklek banget sih. Kalau diundang untuk bahas city pop kayanya gue juga ngga segitunya tau deh, gue prefer ngomong disko aja ketimbang city pop yang udah kaya agama, cult banget kalau di luar negri sana”

menemukan nama lintas genre yang melenceng dari konteks city pop, dan cenderung salah kaprah

Meskipun diakuinya Diskoria tetap memperhatikan dan mengikuti secara mendalam genre musik 80an Jepang ini, sebagai bagian pekerjaan mereka sebagai DJ.

Namun kenapa city pop bisa begitu diterima. Hingga media sebesar Dagelan pun merasa perlu membuat playlist city pop Indonesia di Spotify?

“City pop itu bisa cocok karena peralihan adaptasi sama budaya modern perkotaan. Jadi orang kita masih butuh musik-musik urban. Walaupun nge-funk, tapi slightly ada mellow, chill, ada sentuhan galau melayunya jadi mungkin itu yang membuat city pop masuk di orang kita”, dijelaskan Merdi lagi.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments