Stop Melabeli Musik Lawas Indonesia Dengan “City Pop Indonesia”

5162

Namun perihal pelabelan ini tidak selamanya salah. Ada beberapa musisi jaman sekarang yang dilabeli city pop; Mondo Gascoro, Kurosuke, Coldiac, serta Tokyolite, Ikubarru dan Spring Summer. Nama-nama yang terakhir mengakui dipengaruhi musik Jepang 80an itu. Jadi bila pelabelan city pop Indonesia itu harus terjadi, ini adalah contoh yang tepat. Sementara apakah Fariz RM, Chrisye, Chaseiro dan Candra Darusman apakah mereka pernah mendengarkan genre yang dikomandoi oleh Tatsuro Yamashita, dkk ini?

“Ngga sih, karena ini kan istilah jaman sekarang. Om Fariz bisa fasih nyeritain musik pop Indonesia dan pengalamannya di era 80an. Tapi tentang city pop mungkin beliau ngga terlau paham. Lagian juga refrensi yang dia dengarkan itu Gino Vannelli, Chic/Nile Rodgers dan Lionel Richie. Mereka itu musisi-musisi Amerika yang dulu juga didengarkan musisi city pop Jepang itu juga. Jadi intinya musisi Jepang dan musisi kita itu sama-sama dengerin musik yang sama. Musik jazz funk boogie aja”, begitu pendapat Merdi soal hal ini.

Terlepas dari salah-betulnya city pop Indonesia, fenomena ini menarik. Bahwa ada kebutuhan untuk melabeli musik lawas lokal bernuansa kota dengan label city pop Indonesia. Selain itu para penikmat musik Indonesia ini begitu bangga dengan musik lawasnya dan juga ingin menjadi bagian dari tren global yang tengah ramai di internet ini. Soal pelabelan ini juga ditambahkan oleh Merdi,

“Mungkin mereka belum punya pengetahuan utuh apa itu city pop. Lebih ke pemujaan unsur nostalgia sih. Dan unsur ini menarik banget. Kalau musik up-tempo jelas, disebutnya disko. Ini musiknya pop, asal iramanya groovy, enak buat goyang, mid-tempo yang ngga terlalu disko, langsung disebutnya city pop”

gempita city pop di Indonesia itu lebih dari sekedar genre semata. Lebih ke perayaan musik lawas Indonesia

Perihal nostalgia ini juga menarik dan ganjil sekaligus. Bagaimana generasi muda saat ini bisa merasa terhubung saat mendengarkan city pop 80an, 90an dan merasakan perasaan nostalgia yang sebenernya nihil. Karena mereka belum lahir dan tidak merasakan langsung bagaimana lagu itu berjaya pada masanya.

Baca juga:  PP No. 56/2021 dan Murahnya Musik Indonesia di Mata Warganetnya

Perihal nostalgia, rasa memiliki, sehingga bebas melabeli ini sah terjadi tanpa perlu memahami esensi musik city pop sendiri. Contoh lainnya adalah sebuah podcast yang mengundang biduan belia, Vira Talissa untuk berbicara tentang city pop. Karena musik Vira sempat dilabeli city pop, karena lagu “Down in Vieux Cannes”. Mungkin karena kental bernuansa musik barat (Prancis). Padahal Prancis memiliki areanya sendiri, French pop. Meskipun kalau ditilik masih sesuai definisinya karena secera umum city pop adalah respon terhadap musik barat dari persepsi kacamata Jepang (Asia).

Perihal city pop sebagai persepsi Asia akan dunia barat dan modernisme ini juga menarik. Label city pop semata ditemui pada negara-negara Asia saja. Karena sekali lagi, city pop Jepang sebagai empunya lahir dari respon mereka terhadap moderinitas barat yang tak terbendung di era tersebut. Karena selain “city pop Indonesia” ada juga “city pop Thailand”, “city pop Filipina” dan “city pop Malaysia”.

Pada akhirnya city pop hadir sebagai respon dan perpektif Asia terhadap musik barat dengan modernisasinya

Selain di luar negara Asia kita tidak akan menemukan fenomena city pop terlebih di negara barat. Pengecualian untuk negara Brazil yang punya nama sendiri, Música Popular Brasileira (MPB). Musik urban pop perkotaan Brazil era post bossa nova dengan sentuhan musik lawas Brazil seperti samba, bossa nova dengan pengaruh Amerika seperti jazz dan rock.

Ini membawa pada kenyataan kalau ternyata gempita city pop di Indonesia itu lebih dari sekedar genre semata. Lebih ke perayaan musik lawas Indonesia. Seperti ditambahkan Merdi, “Di kita anak sekarang itu lagi gelora nostalgia back 80s, 90s dan terekspos lagi musisi lama Indonesia, terus terpengaruh. Mengesankan city pop naik lagi. Padahal city pop versi kita lebih ke Fariz RM, Chrisye dan musik pop groovy lainnya. Buka mengacu ke Tatsuro Yamashita, Mariya Takeuchi dkk.”

Pada akhirnya city pop hadir sebagai respon dan perpektif Asia terhadap musik barat dengan modernisasinya. Karena tidak ada city pop di luar Asia. Lantas apakah pelabelan city pop Indonesia ini patut? Mengingat musisi lawas Indonesia seperti Fariz RM dkk. dan musisi city pop Jepang, Tatsuro dkk. sama-sama merespon modernisasi Barat lengkap dengan musik funk, jazz, disko dan boogie dari Amerika.

Baca juga:  Debut Album ROXX dan Perayaan Metal Indonesia
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments