Rekomendasi: Sundancer – Suvenir

156
Sundancer
Suvenir, Mini album dari Sundancer

Album: Suvenir
Artist: Sundancer
Label: La Munai
Tahun Rilis: 2021
Penulis: Bagus Wiratomo, Decky Jaguar, Rahmat Tribowo

Suvenir, mini album kedua dari unit surf punk dari Lombok, Sundancer menambah satu lagi kumpulan rekaman yang dirilis di masa pandemi. Acung jempol buat usaha mereka untuk tetap stay productive di masa-masa sulit ini.

Dirilis di La Munai, label yang terkenal mengorbitkan nama-nama estetik tanah air. Tanpa bermaksud membandingkan, di format musik yang sama, La Munai juga pernah sukses mengorbitkan The Panturas. Meskipun mengulangi kesuksesan yang sama dengan band yang berbeda nampaknya bukan jadi agenda utama bagi label ini, namun atensi ke arah situ mungkin ada di benak mereka.

Apa yang menarik dari Suvenir? Banyak sekali. Salah satunya adalah aksen musik dan produksi musik yang cocok dengan identitas dengan Sundancer. Suvenir sukses mengangkat kelas Sundancer dari Musim Bercinta yang ugal-ugalan jadi sosok musisi matang yang sopan dan amat memperhatikan setiap jengkal musik dan liriknya.

Tengok “Kemarau”, sebuah praktik musik garasi pop pantai bergaya musim panas enampuluhan ditingkahi unsur melayu dengan vokal Decky Jaguar yang sopan, sama sopannya dengan rapihnya petikan gitar psikedelia Om Robo.

Atau “Purnama Kudamba” yang mengingatkan akan pesta dansa di pinggir pantai, membayangkan semilir angin berhembus bersama musik pantai dan anggur yang disruput di gelas anggur yang mahal, bukan tipikal anggur murah yang dibungkus botol dan plastik hitam.

Track lainnya seperti “Tabir Surya” punya kesan yang sama. Sebuah iringan kepada dansa-dansa pinggir pantai pesta prom-night sekolah Ivy League yang mahal.

Sepintas, menyimak keseluruhan tujuh track dari EP ini, kesan saya adalah: Apakah ini sebuah paket naik kelas dari Sundancer? Apakah perubahan ini sangat perlu untuk ditunjukan di mini album kedua? Mengingat Musim Bercinta, debut EP mereka mencetak sukses mematrikan citra mereka sebagai grup surf rock ugal-ugalan. Apakah fans berat Sundancer siap dengan perubahan ini?

Jujur saja, saya juga mungkin banyak fans yang mendengar rekaman terbaru ini sama sekali tidak merasakan nuansa ugal-ugalan fuzz ala Musim Bercinta yang saya rindukan, di mini album Suvenir yang teramat sopan ini. Saya juga ragu apakah lagu-lagu terbaru mereka kali ini bisa dibawakan segahar mereka membawakan “Musibah” atau “Baur Bersama”. Saya tidak yakin.

Baca juga:  Attracts - Asam Haram

Namun semua anggapan miring saya ini ditepis ketika melihat fakta bahwa kumpulan rekaman ini ternyata bukan murni milik Decky dan Om Robo yang saya kenal binal di atas panggung. Ini justu adalah rekaman pre-Sundancer yang ditulis oleh mendiang Bagus ‘Jalang’ Wiratomo. Bagus Jalang dikenal sebagai vokalis band power violence Mortal Combat, pemerhati musik garage sekaligus pendiri Yes No Wave, label yang sangat dihormati di skena musik bawah tanah kota Jogja.

Bagus menulis lagu-lagu di sela-sela lawatannya ke Lombok bersama Om Robo. Niatan untuk meneruskan lagu ini sampai matang pudar ketika dirinya dipanggil yang Maha Kuasa. Untuk itulah, Om Robo dan Decky mengolah lagu-lagu yang kerangkanya ditulis oleh Bagus menjadi sebuah persembahan yang manis untuk almarhum. Sangat dimengerti dan bisa dibayangkan bahwa proses mengolah ulang, mendengarkannya kemudian merilisnya saja adalah sebuah pekerjaan yang sedih bagi Om Robo juga Decky.  Bagi yang mengenal sosok Bagus secara dalam seperti saya, album ini jadi terdengar begitu personal. Saya jadi paham mengapa saya sedih mendengarkan “Firasat”.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments