The Jansen – Banal Semakin Binal

Aug 1, 2022

Semesta sedang mengamini apa yang The Jansen (mungkin) harapkan di tiap langkahnya. Dibarengi dengan usaha yang dilakukan secara konsisten dan militan, memang sudah semestinya mereka mendapatkan hasil akhir yang diimpikan, yakni sebuah apresiasi tiada henti.

Apresiasi yang dimaksud adalah riuh gegap gempita dari kehadiran Banal Semakin Binal, album penuh ketiga mereka. Bukti jelasnya? Silakan tengok panggung-panggung mereka belakangan ini. Walau (hingga penghujung Juli) sang album baru dirilis dirilis dalam format kaset pita, namun kerumunan yang hadir di bibir panggung selalu kompak bernyanyi penuh energi di sepanjang durasi.

Jika dicermati, di sepanjang tahun ini kilau lampu sorot sedang menyinari trio asal Bogor ini dengan terang yang paling maksimal. Cerita yang bisa dibilang dimulai di bulan Maret ketika mereka memperdengarkan single “Mereguk Anti Depresan Lagi”.

Masih di bulan yang sama, The Jansen menjadi satu dari tiga nama favorit dalam program Jameson Connects Indonesia. Bentuk apresiasinya? Sang single berkesempatan untuk dibuatkan video musiknya yang disutradarai oleh Yustinus Kristianto (Gerombolan Struzzo), berujung kepada meluasnya pendengar dari sang trio.

 

Setelahnya, The Jansen resmi melepas album ketiga, Banal Semakin Binal, menyusul kehadiran dua album sebelumnya, Present Continous (2017) dan Say Say Say (2019). Pertama kali diperdengarkan dalam format kaset pita, kini format digital serta CD dan NFT juga sudah mereka lepas bersama demajors di penghujung bulan Juli.

Jadi, apa yang membuat Banal Semakin Binal mendapat tempat di hati para pendengar baru (dan lama) mereka?

Tentu jawaban yang didapat dari pertanyaan tersebut akan banyak berbeda, namun dari kacamata saya, muatan lirik penuh keluh kesah di usia remaja – menuju dua lima dan setelahnya –  yang relevan dengan kehidupan para pendengarnya, dibalut dengan musik yang dibuat ‘se-ringan’ mungkin, menjadi dua dari sekian poin yang mereka suguhkan dalam dua belas nomor di album.

The Jansen masih ‘marah-marah’ di album ini walau temponya kini tidak se-‘ngebut’ album sebelumnya. Di album ini mereka (masih) mempertanyakan banyak hal, seperti sejarah-sejarah di tanah air yang terasa dipelintir dari fakta aslinya, langit yang menurut mereka tak seharusnya biru (ini favorit saya, hai Themilo!), hingga narasi-narasi yang mungkin saja hanya hinggap di kepala para personel.

 

Bahkan, mereka juga menyisipkan sebuah lagu cinta ala mereka dalam nomor pembuka, “Dua Bilah Mata Pedang” yang selama durasi lagu tampak sangat amat menyiksa lengan sang drummer dengan tempo super ngebut ketika dibawakan secara langsung.

Beberapa eksplorasi pun mereka lakukan di album ini. Keseluruhan materi yang dinyanyikan dengan lirik-lirik bahasa Indonesia menjadi salah satunya, sebuah perubahan yang terbilang cukup signifikan mengingat di album sebelumnya mereka bernyanyi dengan dominasi bahasa Inggris.

Dari segi musik, mereka masih mempertahankan karakter sound yang ‘raw’ namun terdengar lebih matang dari segala sisi. Dengan porsi yang pas, mereka membagi dua belas nomor tersebut dengan mid-tempo hingga high-tempo. Tidak melulu ngebut, masih ada ruang bagi Tata (sang vokalis) dan para penonton untuk mengambil nafas di sela-sela sing-a-long yang massal.

Sebagai kesimpulan, Banal Semakin Binal patut untuk diperhitungkan sebagai rilisan penting di tahun ini. The Jansen masih bersenang-senang di album ketiganya, kini dengan cara paling modern tanpa meninggalkan karakter ‘lawas’ yang sudah mereka bentuk sejak sekian tahun silam.


 

Penulis
Raka Dewangkara
"Bergegas terburu dan tergesa, menjadi hafalan di luar kepala."
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Jadi Vokalis DeadSquad, Vicky Mono: Jalani Saja Dulu

DeadSquad mengaku Vicky sosok vokalis yang mereka cari. Selain berkualitas, ia dianggap memiliki kemampuan untuk menguasai panggung sebagai stage performer.

Dzee Rilis Video Musik “Epik”, Simak Langsung di PHI Eksklusif

Di PHI Eksklusif kali ini, saksikan lebih dulu video musik “Epik”, salah satu single dari album debut Dzee sebelum tayang di berbagai platform.