998

Tolong, Mainkan Lagu Ini: 8 Harta Karun Netral

foto: dok. NTRL

Membicarakan ultah band atau kapan pastinya sebuah band berdiri menjadi permasalahan klasik, sesuatu yang mungkin saja ‘penting gak penting’ bagi mereka. Semua band mesti bingung jika ditanyakan kapan resminya band ini berdiri atau berapa tahun usia band ini. Band sebesar NTRL adalah salah satunya.

Meski belum telat, netral – yang kini berubah menjadi NTRL – baru saja merayakan hari jadinya, persis hari ini pada 11 November. Tulisan ini berawal dari sebuah percakapan saya dengan Bagus Dhanar Dhana, vokalis NTRL yang akrab disapa om Bagus, pada suatu siang di sela-sela soundcheck band ini untuk sebuah acara rock di penghujung tahun Oktober 2015 bertempat di Lapangan Parkir stadion Kolam Renang Senayan.

“Mengapa Netral jarang membawakan lagu-lagu lamanya seperti “Walah”, “Pelangi”, “Desaku” atau yang lainnya?”  tanya saya. 

“Masalahnya begini, kami sih oke-oke aja bawain lagu yang lama, bahkan kami pengen banget. Namun banyak fans yang nggak ngerti, ketika kami bawain lagu “Walah”, apalagi
“Pelangi”. Fans-fans seperti lo (ketika itu saya menyebutkan tentang betapa 3 album Netral pertama, sangat mempengaruhi kehidupan bermusik saya), itu gue yakin nggak banyak ketimbang Netralizer (fans Netral-red) yang ada sekarang, yang rata-rata masih usia muda,” aku om Bagus.

Baca juga:  5 Album Rock Indonesia Penting 20 Tahun yang Lalu
Foto: dok. Om Bagus

Iya juga sih, saya pikir dalam hati. beberapa kali saya menyaksikan konser Netral, mereka selalu terbatas dengan set-set seperti “Haru Biru”, “Pertempuran Hati”, “Terbang Tenggelam”, atau anthem semacam “Garuda di Dadaku” yang pastinya menjadi lagu yang ditunggu-tunggu oleh fans mereka hari ini.

“Tapi om kan bisa membuat, katakanlah, konser kecil, yang khusus untuk menampung fans-fans anda yang besar di tahun 90-an bersama kalian,” tanya saya kemudian.

“Ya, bisa sih, namun itu belum kejadian aja,” ujarnya sambil tersenyum. Dan pembicaraan kami terputus ketika om Bagus harus melanjutkan soundcheck-nya.

Saya kembali ke rumah dan merenungkan pembicaraan ini sampai beberapa minggu ke depan, sampai kemudian saya berniat membuat tulisan kecil tentang mereka. Sebuah daftar lagu dari berbagai album Netral yang saya ingin sekali mereka mainkan.

 

Bulan (dari album: Wa..lah – 1995)

Aroma The Cure bertemu Evan Dando tercium harum di lagu ini pop lurus yang terjalin tanpa basa-basi. Lirik yang puitis, disekap melodi, riff –riff serta hentakan drum minim-teknik, menciptakan suatu buaian komposisi yang diibaratkan sebagai perempuan desa cantik tanpa gincu.

 

Ombak (dari Tidak Enak – 1997)

Jika ada musisi-musisi pop alternatif atau indierock hari ini yang berharap mereka bisa menulis lagu yang bagus, maka “Ombak” bisa jadi referensi. Sebuah lagu pop alternatif lurus, tanpa improvisasi neko-neko, seolah Netral sudah mengenyam semua pelajaran dasar tentang pop alternatif, indierock atau apapun kids jaman now ini sebut.

 

Baca juga:  12 Rahasia Di Balik "Album Minggu Ini" Milik Netral

Bobo (dari album: Tidak Enak – 1997)

Bukan maksud berlebih, namun jika ada daftar 10 lagu alternatif pop Indonesia terbaik sepanjang masa, maka “Bobo” sudah pasti masuk. Guru pop alternatif pun tidak ragu menulis angka sepuluh untuk lagu ini. Aransirnya apik, ramuanya jempolan: Sejumput kesederhanaan, namun abadi adanya.

 

Pucat Pedih Serang (dari: Album Minggu Ini – 1998)

Album Minggu Ini menurut saya mahakarya eksplorasi Netral. Momen Sgt Peppers-nya Netral ya di album ini. Mereka mengupas habis semua plastik, isi kulkas, dapur-dapur referensi dan memasak musik yang keluar dengan sangat berisik namun megah. Dekor-mendekor, rombak merombak, trumpet disusup – susupkan, ketukan drum dikencangkan.

 

Pinbol (dari Album Minggu Ini – 1998)

Sekali lagi, Netral membuktikan bahwa kata ‘alternatif’ ibarat permen karet yang bisa ditarik sana-sini,  tak mengenal batas dan aturan. Ini dibuktikannya dari ketukan yang tidak terduga, yang bisa jadi tak ada buku primbon rock alternatif. Siapapun yang mendengar pasti kesengsem, atau paling tidak goyang-goyang kepala.

 

Baca juga:  Feast, Para Pembawa Pesan

Selamat Datang (Si Licik) (dari Album Minggu Ini – 1998)

Selamat datang ibarat lelaki tampan yang tengah memacu kendaraannya (Baiknya motor Harley Davidson) dengan jaket dan helm, memacu cepat di jalan bebas hambatan. Visualnya begitu. Cocok jadi pengiring film cult tentang lika-liku anak muda, seperti Janji Joni dan sejenis, saya pikir grup semacam The Adams dan Sentimental Moods layak diajak berkolaborasi untuk membawakan ulang lagu ini.  

 

Rilex (dari: Hitam – 2003)

Masuknya gitaris Christopher ‘Coki’ Bollemeyer dengan gaya bermain yang memang beda dengan Miten, membuat band ini lebih segar. “Rilex” satu potongan terbaik dari album Hitam. Dari permainan gitar Coki, dan gebukan Eno ini mengingatkan kita akan karya-karya Netral di album kedua mereka, seperti “Ombak”, “Bulan”, dan kawan-kawannya namun dengan sound yang berbeda.

 

Bidadari (dari 9th – 2007)

Benang merah tak hanya berhenti sampai di album Hitam, di tahun tahun 2007, Netral kembali menjelajah ke belakang, memainkan pop alternatif yang mungkin saja terpengaruh kuat oleh gaya Robert Smith dkk. Ini tersirat dari bassline om bagus yang somehow mengingatkan akan Simon Gallup. Megah!

 

____