Tolong, Mainkan Lagu Ini: 8 Harta Karun Netral

Nov 11, 2017

Membicarakan ultah band atau kapan pastinya sebuah band berdiri menjadi permasalahan klasik, sesuatu yang mungkin saja ‘penting gak penting’ bagi mereka. Semua band mesti bingung jika ditanyakan kapan resminya band ini berdiri atau berapa tahun usia band ini. Band sebesar NTRL adalah salah satunya.

Meski belum telat, netral – yang kini berubah menjadi NTRL – baru saja merayakan hari jadinya, persis hari ini pada 11 November. Tulisan ini berawal dari sebuah percakapan saya dengan Bagus Dhanar Dhana, vokalis NTRL yang akrab disapa om Bagus, pada suatu siang di sela-sela soundcheck band ini untuk sebuah acara rock di penghujung tahun Oktober 2015 bertempat di Lapangan Parkir stadion Kolam Renang Senayan.

“Mengapa Netral jarang membawakan lagu-lagu lamanya seperti ‘Walah’, ‘Pelangi, ‘Desaku’ atau yang lainnya?” tanya saya. 

“Masalahnya begini, kami sih oke-oke aja bawain lagu yang lama, bahkan kami pengen banget. Namun banyak fans yang nggak ngerti, ketika kami bawain lagu ‘Walah’, apalagi
‘Pelangi’. Fans-fans seperti loe (ketika itu saya menyebutkan tentang betapa 3 album Netral pertama, sangat mempengaruhi kehidupan bermusik saya), itu gue yakin nggak banyak ketimbang Netralizer (fans Netral-red) yang ada sekarang, yang rata-rata masih usia muda,” aku om Bagus.

Foto: dok. Om Bagus

Iya juga sih, saya pikir dalam hati. beberapa kali saya menyaksikan konser Netral, mereka selalu terbatas dengan set-set seperti “Haru Biru”, “Pertempuran Hati”, “Terbang Tenggelam”, atau anthem semacam “Garuda di Dadaku” yang pastinya menjadi lagu yang ditunggu-tunggu oleh fans mereka hari ini.

“Tapi om kan bisa membuat, katakanlah, konser kecil, yang khusus untuk menampung fans-fans anda yang besar di tahun 90-an bersama kalian,” tanya saya kemudian.

“Ya, bisa sih, namun itu belum kejadian aja,” ujarnya sambil tersenyum. Dan pembicaraan kami terputus ketika om Bagus harus melanjutkan soundcheck-nya.

Saya kembali ke rumah dan merenungkan pembicaraan ini sampai beberapa minggu ke depan, sampai kemudian saya berniat membuat tulisan kecil tentang mereka. Sebuah daftar lagu dari berbagai album Netral yang saya ingin sekali mereka mainkan.


 

Bulan (dari album: Wa..lah – 1995)

Aroma The Cure bertemu Evan Dando tercium harum di lagu ini pop lurus yang terjalin tanpa basa-basi. Lirik yang puitis, disekap melodi, riff –riff serta hentakan drum minim-teknik, menciptakan suatu buaian komposisi yang diibaratkan sebagai perempuan desa cantik tanpa gincu.

 

Ombak (dari album: Tidak Enak – 1997)

Jika ada musisi-musisi pop alternatif atau indierock hari ini yang berharap mereka bisa menulis lagu yang bagus, maka “Ombak” bisa jadi referensi. Sebuah lagu pop alternatif lurus, tanpa improvisasi neko-neko, seolah Netral sudah mengenyam semua pelajaran dasar tentang pop alternatif, indierock atau apapun kids jaman now ini sebut.

 

Bobo (dari album: Tidak Enak – 1997)

Bukan maksud berlebih, namun jika ada daftar 10 lagu alternatif pop Indonesia terbaik sepanjang masa, maka “Bobo” sudah pasti masuk. Guru pop alternatif pun tidak ragu menulis angka sepuluh untuk lagu ini. Aransirnya apik, ramuanya jempolan: Sejumput kesederhanaan, namun abadi adanya.

 

Pucat Pedih Serang (dari: Album Minggu Ini – 1998)

Album Minggu Ini menurut saya mahakarya eksplorasi Netral. Momen Sgt Peppers-nya Netral ya di album ini. Mereka mengupas habis semua plastik, isi kulkas, dapur-dapur referensi dan memasak musik yang keluar dengan sangat berisik namun megah. Dekor-mendekor, rombak merombak, trumpet disusup – susupkan, ketukan drum dikencangkan.

 

Pinbol (dari Album Minggu Ini – 1998)

Sekali lagi, Netral membuktikan bahwa kata ‘alternatif’ ibarat permen karet yang bisa ditarik sana-sini,  tak mengenal batas dan aturan. Ini dibuktikannya dari ketukan yang tidak terduga, yang bisa jadi tak ada buku primbon rock alternatif. Siapapun yang mendengar pasti kesengsem, atau paling tidak goyang-goyang kepala.

 

Selamat Datang (Si Licik) (dari Album Minggu Ini – 1998)

Selamat datang ibarat lelaki tampan yang tengah memacu kendaraannya (Baiknya motor Harley Davidson) dengan jaket dan helm, memacu cepat di jalan bebas hambatan. Visualnya begitu. Cocok jadi pengiring film cult tentang lika-liku anak muda, seperti Janji Joni dan sejenis, saya pikir grup semacam The Adams dan Sentimental Moods layak diajak berkolaborasi untuk membawakan ulang lagu ini.  

 

Rilex (dari: Hitam – 2003)

https://www.youtube.com/watch?v=0SV_rbcSBNA

Masuknya gitaris Christopher ‘Coki’ Bollemeyer dengan gaya bermain yang memang beda dengan Miten, membuat band ini lebih segar. “Rilex” satu potongan terbaik dari album Hitam. Dari permainan gitar Coki, dan gebukan Eno ini mengingatkan kita akan karya-karya Netral di album kedua mereka, seperti “Ombak”, “Bulan”, dan kawan-kawannya namun dengan sound yang berbeda.

 

Bidadari (dari 9th – 2007)

Benang merah tak hanya berhenti sampai di album Hitam, di tahun-tahun 2007, Netral kembali menjelajah ke belakang, memainkan pop alternatif yang mungkin saja terpengaruh kuat oleh gaya Robert Smith dkk. Ini tersirat dari bassline om bagus yang somehow mengingatkan akan Simon Gallup. Megah!

 

____

Penulis
Wahyu Acum Nugroho
Wahyu “Acum” Nugroho Musisi; penulis buku #Gilavinyl. Menempuh studi bidang Ornitologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menjadi kontributor beberapa media seperti Maximum RocknRoll, Matabaca, dan sempat menjabat redaktur pelaksana di Trax Magazine. Waktu luang dihabiskannya bersama bangkutaman, band yang 'mengutuknya' sampai membuat dua album.

Eksplor konten lain Pophariini

Dari Belanda Hingga Jerman, Voice of Baceprot Umumkan Jadwal Tur Eropa!

Trio nu-metal beranggotakan Marsya, Widi dan Sitti ini baru saja mengumumkan jadwal tur Eropa Voice of Baceprot yang nantinya akan melewati beberapa negara.

Holy City Rollers Bocorkan Single Baru “Blister”. Dengarkan Perdana di Sini

Holy City Rollers (HCR), akan merilis lagu terbaru mereka yang berjudul “Blister”. Pophariini beruntung mendapatkan ijin buat kasih denger duluan.