Wawancara Eksklusif: Dekonstruksi, Bekal Penyutradaraan Anton Ismael

Dec 22, 2021
Anton Ismael

Mendengar nama yang satu ini begitu lekat dengan sebuah wadah fotografi yang saya anggap cukup memiliki konsep sangat berbeda dari tempat belajar lainnya. Kelas fotografi yang bisa diikuti tanpa harus mengeluarkan biaya alias gratis, yang mana beberapa teman fotografer di lapangan yang saya kenal pernah menimba pengetahuan di sana.

Anton Ismael atau orang akrab menyapanya Pa’e membangun Kelas Pagi lima belas tahun yang lalu. Ketika saya hanya mengenalnya sebagai fotografer, atau tiba-tiba melihatnya sebagai juru masak di camp festival musik besar di Bali pada 2017 lalu. Sebenarnya, catatan perjalanan beliau memang sudah cukup panjang.

Namanya sekitar dua tahun ini kembali mencuat untuk banyak karya visual. Satu yang menarik perhatian, Pa’e mengerjakan enam video musik sekaligus untuk satu nama, MALIQ & D’Essentials. Video lain yang saya ketahui “Don’t Touch Me” yang menampilkan tiga penyanyi solo wanita; Marion Jola, Danilla, Ramengvrl, serta terbaru “Pepatah” milik Rizky Febian.

Hari Jumat (17/12) lalu, saya berkesempatan menemui Pa’e di markasnya bilangan Cipete Utara, Jakarta Selatan. Menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan perjalanan kariernya. Bagi Pa’e bekerja sama dengan siapa pun, intinya orang-orangnya kudu bisa enak diajak kerja sama.

Saat itu Pa’e hanya menggunakan handycam dan handphone untuk proses syuting enam video musik MALIQ. Saat ditanya, apa yang ingin diungkapkan sebenarnya. Ia menjawab, “Gue selalu percaya bahwa kalau enggak bisa buat yang bagus banget, gue pengin jelek banget. Kalau loe enggak bisa alat yang bagus banget, pakai alat yang jelek banget karena itu pasti akan diingat.”

 

“Makanya loe presentasi, membuatnya sebagus mungkin atau sejelek mungkin dalam tanda kutip ya agar itu bisa diingat. Tapi yang selalu harus diperhatikan yang kuat di dalam kontennya. Dan juga berikutnya adalah kamera itu selalu menjadi orang ketiga. Saya orang pertama, loe orang kedua, orang ketiga. Semakin loe pakai ini, semakin loe menjadi diri loe sendiri. Semakin enggak terlihat kameranya, loe menjadi diri loe sendiri. Kalau cita-cita gue apa, gue pengin nyangkok kamera di mata gue sebenarnya.”

Sosok Anton Ismael selalu fokus dengan apa yang sudah menjadi keahliannya. Selebihnya, ia akan membiarkan orang lain mengerjakan tugasnya masing-masing.

“Jadi, gue menyiapkan kolamnya. Kemudian membentuk sebuah keadaan. Silakan berinteraksi di dalamnya, gue cuma capture aja. Tapi, compund ini wadah ini sudah gue atur sedemikian rupa. Sehingga dia berinteraksi sesuai dengan pattern-nya. Mungkin lebih bijaksananya adalah gue tidak ingin membentuk orang menjadi orang lain,” ungkap Pa’e.

Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini pasti memiliki awalan, meskipun tak pernah bisa diprediksi apa yang bakal terjadi di ujungnya nanti. Dalam Kaleidospop Pophariini kali ini, penting sekali menanyakan lagi untuk mengenal lebih dalam tentang sosok yang penting dan berpengaruh di tahun 2021. Dan inilah hasil wawancara eksklusif saya bersama Anton Ismael:


Bagaimana awal mulanya Anton Ismael dipanggil dengan sebutan Pa’e?

Dulu saya adalah seorang pelacur laki-laki yang nongkrong di Blok M, enggak deh [tertawa]. Pa’e itu, jadi saya memulai satu bisnis itu pada saat kebanyakan teman-teman saya masih kuliah. Saya sudah mulai bekerja, karena saya itu secara ketidakbetulan atau kebetulan, saya enggak tau. Support dari orang tua enggak ada, orang tua meninggal semua, dari SMA itu kelas 2, Ibu enggak ada. Kemudian setelah itu, Bapak enggak ada, dan di situ pada saat teman-teman masih kuliah gue harus bekerja. Bekerja sebagai apa saja pokoknya.

Dulu itu, pertama kali dipasrahin sebuah menjaga ruang editing, yang pada dasarnya, saya sebenarnya edukasinya fotografi. Nah, karena saya bekerjanya itu cepat dan akhirnya teman-teman saya bekerja sama dengan saya. Nah, di situ saya dipanggil Pak sebagai atasan. Tapi saya enggak mau, “Elu manggil gue Pak, lu kayak gue gaji”. Gue bilangnya. Tapi mereka pengin menghormati gue. Gue bilang, “Lu jangan manggil gue Pak, panggil nama gue saja”. Gue bilang kayak gitu kan. Sudah berapa kali gue paksa kayak gitu, enggak mau dan akhirnya. Dia nge-twisted-nya Pa’e. Terus gue bilang, “Terserah loe deh”.

 

Tapi digaji tuh?

Tetap gue gaji karena kan order-nya pertama kali. Gue bilang, “Jangan manggil Pak”. Anjing, tai banget loe. Akhirnya manggil gue, “Pa’e, Pa’e”. Mulainya di situ, ya karena mungkin latar belakang gue Jawa juga. “Pa’e. Pa’e, Pa’e”, “Pa’e iki loh mau ini, mau kayak gini” atau “Pa’e. Meeting sama Pa’e”. Mulai deh itu, orang mulai ikut sampai sekarang. Ya, gue sih enggak. Kesannya tua banget ya, “Pa’e, Pa’e”. Tapi, kejadiannya kayak gitu.

Gue merasa bahwa kita sepantaran lah. Ya, kita kerja sama bareng tapi di lain pihak sana, pengin ya sudah, ya loe mimpin di sini. Gue harus, ya respect sama loe. Ya, tapi sebenarnya ya enggak kayak gitu juga, gue merasa bahwa bareng-bareng semua, satu perusahaan itu. Kantornya di Jakarta, di Kebayoran. Gue masih ngontrak tempat di Kebayoran Lama.

Kemudian sampai tahun 2009 gue pindah sini (Cipete Utara). Kemudian gue baru ngebangun tempat ini, strukturnya tinggi-tinggi kayak gini, tahun 2012. Dulu tempat gue itu, sebenarnya kayak jalan buntu masuk pada saat hujan pasti banjir. Kalau misalkan hujan tuh pasti langsung, “Kamar mandi langsung sumpelin”. Semua disumpelin kamar mandi. Jadi, itu sudah jadi kayak tempat yang, bukan suka ya, tapi duka. Duka, tempat duka yang tempat kontrakan yang setiap kali banjir itu, setiap kali hujan tuh banjir, dan bocor.

Jadi pernah ada klien pas hujan itu, mereka harus naik kapal untuk bisa sampai ke studio gue, Kebayoran Lama, namanya Velbak (2005) di belakang Koran Tempo.

 

Pa’e berapa bersaudara?

Tiga bersaudara. Gue tengah, ada kakak gue laki-laki yang gue enggak pernah ketemu sampai sekarang. Sama satu adik perempuan.

 

Kalau adik masih suka bertemu? Adik di Jakarta? Berbeda bidang dengan Pa’e?

Masih. Telfon-telfonan juga. Di Jakarta, Pulogadung. Sangat berbeda, adik gue tuh, ya gue lahir dari keluarga tentara yang biasa-biasa saja dengan penuh perjuangan, tapi gue tidak pernah melihat bahwa, hal yang gue perjuangkan gitu adalah suatu yang harus dikasihanin atau kalau orang mau sukses tuh harus sengsara dulu, bukan itu.

Tapi gue tidak pernah menceritakan ke orang dan tidak pernah mau menceritakan tentang bagaimana perjuangan orang itu. Kayak pernah gue sekali cerita, bahwa ya untuk bisa hidup gue dulu jual sepatu di Barito. Di Barito pernah kayak beberapa tahun lalu.

Tahun lalu, kayak gue ketemu teman gue pas di situ. Dia pas hujan-hujan kayak gini, hujan deras. Terus ada Gojek kayak gini, “Nton!”. Anjing loe orang lama. Anjing, maksudnya kayak gue dulu sama dia, gitu kan.

Sebenarnya pesan gue, mau apapun loe, ya loe syukuri pekerjaan loe dan kalau loe jalan dengan rasa tidak suka, loe pasti enggak akan betah di situ.

 

Jadi, Pa’e tumbuh dewasa di mana?

Macam-macam. Jadi, gue tumbuh dewasa sebagai seorang anak tentara. Di mana-mana. Jawa Tengah, di Magelang, di Bogor.

 

Sampai orang tua meninggal. Pa’e keluar dari rumah?

Rumah gue dijual. Ya sudah, gue sempat pindah di Bogor. Terus gue ngontrak di Blok A, di Jalan Benda. Ada paviliun kecil. Yang lucunya dulu, part pada saat itu gue, pada saat hujan tuh (lokasinya) yang langsung jadi selokan juga. Langsung jadi apa ya, saluran air.

 

Kapan tepatnya Pa’e memulai karier di bidang fotografi?

Pendidikan gue, fotografi di Melbourne tapi enggak lulus karena krismon (krisis moneter). Mereka itu, orang tua gue, “Pak, gue bisa nerusin enggak?”. “Loe balik dulu”. Setelah itu, ya akhirnya gue tau bahwa gue enggak bisa balik ke Australia karena keadaan tertentu.

Kalau misalnya seorang tentara, enggak di-support apapun, enggak bakal bisa nyekolahin gue kan. Bokap gue termasuk yang jujur, kenapa dia bisa nyekolahin gue karena dia buka jualan limun yang dianterin ke Parung. Yang kayak botol-botol limun. Gue sempat ngejualin juga, 150 satu botol itu. Dan dia mulai bisnis, itu lho billiar di pasar-pasar yang pakai koin 1000 Rupiah. Nah, gue bisa pergi ke Australia dari uang receh itu.

Habis itu gue balik, kemudian yang tadi gue bilang, gue disuruh jaga tempat editing dulu karena adanya itu kerjaan. Di situ gue cuma mikir, “Anjing, belajar gue fotografi tapi kok gue end up-nya di sini nih”. End up-nya tuh jagain, nyiapin ruangan editing video.

Akhirnya gue diam-diam. Editornya di depan, gue di belakang nungguin, loe butuh apa-apa, gue ngelayanin. Nah itu yang membuat gue jadi director, cikal bakalnya. Itu bukan edukasi gue, tapi gue ngejagain ruang editing itu sehingga, “Eh, Nton boleh enggak, gue mau tidur sebentar ya”. Di tron paling yang ngeditnya dua hari enggak tidur. Kayak gitu kan. Terus ya sudah gue nyoba-nyoba ah. Makanya gue belajar. Belajar editing tuh dari situ.

 

Berarti waktu itu Pa’e lulusan Melbourne?

RMIT (Royal Melbourne Institute of Technology), dan belum lulus. Gue ninggalin karena enggak mampu. Terus mulai motret setelah akhirnya gue cabut tahun 2000. Tahun 2000 gue cabut. Tadinya tahun 98 deh, 99 gue kerja di tempat editing itu. Mulai kenal beberapa artis tuh, karena ngeditin, jagain.

Ya, di saat itu mereka ada yang tau bahwa gue sukanya motret. Akhirnya, ada teman artis. “Gue kenalin, Nton. Teman gue fotografer komersial. Dia bagus”. Namanya Lilo dari KLA Project. Gue dikenalin sama satu orang fotografer, namanya Sam Nugroho. Terus akhirnya dikenalin masuk, loe tau enggak sih pada saat loe enggak punya apa-apa dan loe berusaha tampil, ini baju terbaik loe?

Gue ingat, gue yang kayak gini, gue berusaha pakai sepatu kulit pantofel lah. Kayak selayaknya orang kayak ngelamar kerja, pakai celana bahan. Terus akhirnya gue menghadap dia. Terus pas gue masuk, si Sam Nugroho ini ngeliatin gue dari atas sampai bawah. Tau enggak sih kayak loe, belonging loe bukan berpakaian kayak gitu. Tapi kayak loe memaksakan, karena ingin menghargai orang. Terus dia ngeliatin. Terus kemudian. “Anjing”. Terus kemudian gue ngeliat, “Bau apa nih?”. Dia juga bilang, “Bau apa ya?”. Ternyata gue sudah sebegitu ingin rapihnya, kaki gue nginjek tai kucing, anjing. “Bau tai kucing sih?”. “Anjing”, batin gue. Jadi gue bersihin.

Dia kan dari Amerika, lama di Amerika gitu lah. “Client-based loe apa?”, dia nanya.

Enggak ada gue bilang. Gue enggak ada client, gue enggak ada pengalaman di sini. Ya sudah, gue disuruh ngikut dulu lah. Akhirnya gue jadi asisten dulu. Jadi asisten tuh apapun lah, disuruh motret, disuruh apa lah, mau gulung kabel, gulung kabel lah, apapun itu. Tapi di situ gue belajar banyak banget. Mengenal manusia ya. Akhirnya, gue diangkat jadi fotografer associate dia. Itu dari tahun 2000 sampai akhir 2004.

Sampai saatnya gue bilang, “Gue pengin keluar, Sam. Gue pengin ngumpulin banyak orang”. Gue bilang kayak gitu. Dia bilang, “Sudah di sini saja”. Gue bilang, “Enggak, Sam. Loe enggak akan kebayang berapa banyak orang yang akan gue kumpulin”. Itu lah Kelas Pagi. Gue mau ngumpulin anak-anak. Mulai dari situ, gue pindah. Mulai ngumpulin, pertama kali 3 orang. Jadi, 6 orang. Jadi, 11 orang. Jadi, 24 orang. 32 orang, 100 orang, 250 orang sampai ribuan. Sampai sekarang.

 

Apa yang terpikirkan oleh Pa’e saat itu untuk mengumpulkan orang?

Enggak kepikiran. Jadi, gue selalu suka berada di tengah teman-teman, dan ketidakselesaian gue di sekolah, itu selalu pengin menimba ilmu di mana pun. Gue suka banget namanya kumpul, diskusi dan menemukan hal-hal baru di situ. Bukan gue sebagai seorang guru tapi sebagai part of peserta. Di situ mulai lah ada diskusi kan, tapi dibandingkan teman-teman yang lain, gue yang lebih dulu tau motret. Jadi berkembang dari situ. Ya keinginan untuk belajar karena rasa, “Anjing nanggung banget gue enggak sekolah. Ada yang belum gue tau nih”.

Dan satu lagi, kayak gue selalu enggak setuju dengan sistem pendidikan di Indonesia. Mungkin bukan di Indonesia saja ya. Dulu gue sebagai anak muda yang pemabuk, idealis, enggak mau tau apapun itu, bahwa kalau loe enggak setuju dengan satu hal, artinya sistem itu enggak benar. Saat itu gue enggak setuju sama sistem di Indonesia karena mereka tidak melihat secara personal, manusia ini kebutuhannya apa.

Dari dulu gue enggak pernah jadi ranking yang cukup dibanggakan oleh orang tua. Gue selalu nomor dua dari belakang. Tapi gue yakin bahwa gue tuh tau apa yang loe omongin. Tapi gue tidak pernah membuktikan karena gue enggak suka pelajaran-pelajaran itu.

Ya, tapi pada akhirnya pada saat nyokap gue bilang bahwa, “Loe jangan complaint doang, Nyet”. Kasarnya gitu. “Ya kalau loe complaint, loe akan jadi orang yang kalah”. “Terus gimana dong?”. Dia cuma bilang, “Ya buat basis teman sendiri”. Jadi di mana pun loe kerja atau sekolah, jangan sampai loe tuh mengeluh. Ya loe berada di bawah sistem itu.

Loe mau kerja di mana, sistemnya kayak gitu. Ya sudah. Loe mungkin berpendapat boleh, tapi kalau misalkan sistem itu kan dibentuk untuk banyak orang. Kalau loe enggak setuju, buktikan. Loe buat sistem loe sendiri. Makanya ada Kelas Pagi. Akhirnya gue coba dengan sistem pendidikan yang gue jalankan. Itu membuat gue bijaksana. Kenapa? Anjing, nyet, nyet. Ternyata susah juga ya ngurusin orang.

Ternyata negara membutuhkan sebuah keseragaman untuk ngatur semua orang sebanyak ini. Kalau mikir satu orang, ya tai banget gitu. Itu saja sih.

 

Apa visi dan misi saat membangun wadah belajar fotografi bernama Kelas Pagi?

Gue tidak percaya bahwa setiap aturan tuh harus punya visi dan misi, dan itu yang terjadi di Kelas Pagi. Sembilan tahun gue ngajar tanpa bantuan siapapun. Gue sendiri, ngeluarin kredit gue sendiri, jam 6 pagi, setiap Rabu dan Jumat. Gue selesai syuting kelar jam 5 pagi, jam 6 gue langsung jalan ngajar lagi. Sembilan tahun. Visi misi gue apa sih? Kagak ada, anjing. Tapi, itu sudah jadi kayak satu kepercayaan gue bahwa itu tuh ditungguin anak-anak. Gue tuh harus ngasih apa yang pengin dia tau. Sesederhana itu. Artinya kayak, gue tipe orang enggak mikir sebenarnya. Tapi, gue tipe orang yang melakukan. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi. Kenapa ya kok gue bisa segitunya. Atau karena gue punya kepercayaan bahwa edukasi itu penting, I think it’s bullshit ya kalau misalkan loe punya hati semulia itu.

Tapi, yang gue membuat gue bergerak itu adalah setiap bangun pagi, ngajar, gue selalu mendapatkan hal baru dari pertanyaan anak-anak, dari anak-anak duduk aja kayak dia diam nunggu. Gue ngeliat binar matanya kayak, “Pa’e, gue pengin tau kayak gini”. Gue tuh kayak, apa ya. Gue recharge banget tuh. Terus kayak gue liat ada anak yang datang dari Bandung jam 3 pagi berangkat. Kemudian sampai sini jam 6. Dari Cirebon, dari Serang. Ya, gila saja kalau misalkan ada orang yang tinggal di Manggarai, setiap kali dia ke sini selalu jalan kaki atau ngempet-ngempet naik Metromini atau angkot. Yang tadinya, sampai keneknya sudah males lagi karena dia lagi, dia lagi. Itu yang, gila ya ngebela-belain segitunya. Gue harus lebih semangat dong.

Dan itu kayak pada satu ucapan dari gue, once you start you can’t stop. Itu sudah kayak bergulir kayak bola salju saja. Kayak loe bohong sama orang, loe harus menutupi kebohongan itu dengan hal yang lain. Kayak bola salju gitu. Ya, ini juga kayak gitu. Loe mulai Kelas Pagi. Itu bergulir saja, kayak bola salju. Terus saja. Kalau berhenti enggak bisa. Gue mau berhenti nih kegulung juga nih. Muter saja terus karena anak-anak. Jadi yang bergerak tuh anak-anak terus yang membuat gue bergerak, bukan guenya.

Secara personal dengan tujuan menemukan solusi kreatif, mempunyai dampak terukur melalui proses edukasi dan empowerment atau pemberdayaan publik. Kalau bisa disimpulkan kayak gitu.

 

Proses edukasi di Kelas Pagi seperti apa sih?

Kelas Pagi tuh gratis karena gue sangat yakin bahwa edukasi tuh seharusnya jadi hak semua orang kan. Kalau gue bisa, kenapa gue enggak ngasih. Gitu. Terus nyeleksinya gimana ya? Ya sudah, gue buat pagi saja. Jadi orang yang benar-benar mau ikut. Ya sudah datang saja. Kalau loe niat, loe datang.

“Gue saja bisa nyet”, gue bilang. Kenapa loe enggak bisa Gue saja yang dealing dengan pertanyaan-pertanyaan yang gitu-gitu saja terus setiap tahun, setiap hari. “Loe saja pasti mau nanya kayak gini”. Gue saja bisa, kenapa loe enggak bisa?

Kalau misalkan strength, yes and no. Rada strength hal-hal tertentu karena mau apapun yang loe lakukan, loe butuh disiplin kan? Kayak misalkan loe telat, hitungnya pakai menit. Kalau 5 menit, loe push-up berapa kali. Kalau 10 menit, push-up-nya berapa kali. Mau cewek atau cowok sekalipun sikat. Biar loe push-up dan pada saat loe push-up, itu membuat kita semua push-up termasuk gue.

Jadi misalnya cewek atau cowok telat, ya sudah. OK, dicatat tuh. Telatnya 5 menit, telatnya 10 menit. Ya sudah gitu. Jadi menit tuh berapa kali, katakan 20 kali atau 10 kali. Kalau yang 10 menit, katakan push-up-nya 30 kali dan itu membuat gue dan anak-anak lain yang enggak telat tetap push-up. Tapi dengan jumlah yang lebih sedikit. Artinya apa, ya kalau loe buat salah, loe mencelakakan kelompok loe. Hal-hal kayak begitu sih, termasuk gue.

 

Berarti sebenarnya enggak ada persyaratan. Tapi lebih ke mau ikut aturan kedisplinan atau enggak?

Iya, tapi sekarang dipilih. Dari pertama kali kan kalau sekali kelas itu kan sampai bisa ratusan orang. Sekarang dipilih menjadi 20 saja. Sejak sekitar empat tahun lalu. Sejak itu enggak apa-apa, gue pilih 20 saja. Tapi kayak kita mengembangkan platform digitalnya biar bagaimana semua orang bisa tau.

Dua puluh ini cara menyeleksinya orang nanya, enggak pernah dapat jawaban yang jelas dari gue dan dari pengurus juga. Yang dipilih bagaimana sih? Gue juga enggak ngerti. Kita kumpulin dulu dari sebanyak orang itu, yang datang siapa.

Mungkin kita lihat nih, karena kita tidak percaya akan keseragaman tadi. Kita percaya akan, “OK, loe kerja di mana? Background loe apa? Karakter loe seperti apa?” Itu gue campur adukin. Ada yang Dokter Jantung, ada yang Tukang Masak, ada yang ngeyel banget, ada yang nurut banget, ada yang pintar banget, ada yang blo’on banget. Itu semua harus ada, faktor-faktor itu di dalam kelas, karena apa? Pada saat kita keluar ke masyarakat, loe enggak bisa milih dan loe akan menghadapi orang-orang yang kayak gitu.

Di Kelas Pagi, pada saat ada angkatan baru, semua jadi goblok. Gue pun jadi goblok. Mereka jadi goblok karena gue ngajar kayak bagaimana mempresentasikan diri mereka masing-masing dan selalu mempertanggungjawabkan apa yang mau ingin mereka sampaikan dan mengapa? Jadi, ya pasti ada hal teknis ya. Hal teknis yang S1 Fotografi tuh gue bawa ke sini, mereka tuh kayak jadi bodoh dan gue juga jadi bodoh karena gue selalu belajar hal baru dari angkatan baru.

It’s like kayak loe menunggu present di Hari Natal atau Lebaran, loe enggak akan tau dapat apa, tapi loe selalu tau bahwa itu akan membahagiakan.

 

Kemudian ada Third Eye Space. Bisa diceritakan?

Third Eye Space sekarang sudah berubah menjadi Test Lab ya. Eye Space Lab (Laboratorium). Third Eye Space tadinya itu adalah sebuah production house yang kita selalu kepikiran bahwa ada sebuah idealisme itu harus selalu berkompromi dan didukung oleh hal yang cukup bisa men-support apa yang kita lakukan ini.

Kalau Kelas Pagi itu kan non-profit. Kita ada satu hal, kekuatan yang bisa men-support hal-hal ideologi kita itu. Jadi lah Test Lab. Kita mengerjakan banyak hal yang berbau komersial. Nah, Test Lab sekarang non-commercial lagi. Itu kayak baru dua bulan lalu gue cut operasionalnya karena gue sudah, kayak saatnya untuk, bukan berhenti ya.

Ini menjadi satu laboratorium yang lebih ingin gue ulik untuk gue mendapatkan penemuan-penemuan baru ini. Yang tadinya Test Lab itu sebagai production house yang di mana gue membentuk ini sebuah brand. Nah, di sini gue pengin mencari kebalikannya nih. Kayak gue kan, dari 20 tahun gue ngerjain iklan atau mengomunikasikan visual ini menjadi satu hal yang menggiring persepsi manusia. Pikiran gue adalah, kalau gue pakai kekuatan ini untuk membangun visinya Kelas Pagi, Third Eye sendiri bagaimana? Ya sudah, gue korbankan hal yang berbau duit, berhenti sebentar dan saatnya gue mikirin diri gue sendiri sama anak-anak.

 

Pa’e lebih senang dikenal sebagai apa saat ini?

Seorang pengajar dan pembimbing, pendamping. Seorang pendamping not even guru, tapi pendamping. Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani. Ing Madyo Mbangun Karso itu di tengah dan mendampingi. Tut Wuri Handayani, di belakang mengikuti. Gue bukan di depan, gue bukan di samping, tapi gue di belakang karena kalau gue di depan artinya orang ini tidak akan memiliki sikap dan kepercayaan sendiri karena gue selalu di depan dia. Kalau gue di samping, anak ini akan menjadi lemah karena selalu merasa, “OK someone menjaga gue”.

Tapi, gue di belakang. Biar lah dia enggak tau, bahwa gue di belakang dia. Tapi, kalau dia mau jatuh, gue akan tangkap dia. Jadi gue akan encourage setiap anak, setiap manusia untuk menjadi dirinya sendiri. Mau ke mana pun, kamu mau berjalan dan edukasi yang gue terapkan di sini itu bukan mengarahkan kepercayaan gue, tetapi memberikan sebuah pilihan-pilihan yang nantinya disesuaikan dengan apa yang sesuai dengan hidup mereka.

Kadang kan ada orang, “OK kamu harusnya kayak gini”. Tapi ya saya bahaya banget kalau saya menjadi seorang guru yang seperti itu. Pilihannya ada A, B, C, D, E. Ada banyak opsi nih. Yang cocok yang mana, monggo, silakan. Taunya salah apa gimana ya. Salah benerin gimana, ya dicoba.

Sebelum mengenal fotografi, apa yang sebenarnya Pa’e cita-citakan?

Fotografer, selalu. Bini gue selalu bilang, “You are very lucky person. Cita-cita loe jadi fotografer, hobi loe motret, hidup loe dari kamera”. Sebenarnya, tidak secara spesifik tapi kayak gue sangat senang bereksplor di visual.

 

Pa’e tertarik fotografi karena apa?

Darwis Triadi. Kembang Setaman, pameran pertama dia yang buat gue, “Anjing, tai banget nih orang”. Dia membuat gue envy. Envy tuh kayak iri hati. “Kok bagus banget ya?”. Sampai masih ada tuh klipingnya. Masih ada kok bukunya. Gue coret-coret, “fuck you” gue bilang karena saking gue ngeliatnya bisa kayak gini ya foto. Bagaimana dia menggabungkan antara, dia ada foto dia print gede. Kemudian dia taruh bunga-bunga, kemudian difoto lagi. Bagus banget ya. Yang sekarang menurut saya sih, ya it’s in the past ya dengan style yang zaman dulu.

Tapi pada saat saya pertama kali melihat itu adalah sebuah experience yang membuat saya sampai sekarang ini ke sini. Terus pernah satu panggung bersama Darwis Triadi. Satu hal yang gue ucapkan di depan banyak orang, “Saya tidak pernah suka karya dia. Tapi karena dia, gue menjadi seorang fotografer”.

Ya, tapi kalau gue ngomong sama Darwis sudah cingcay. Sampai gue sudah pakai, “Eh Mas, gue buatin baju Kelas Pagi dipakai baju SMA. Darwis Triadi pakai, gue shoot.” 

 

Fotografi itu pembelajarannya seperti apa sih?

Banyak orang bertanya, bahwa belajar fotografi seperti apa. Fotografi ada satu teknis, lighting, kompisisi, dan macam-macam ya. Tapi satu hal yang sangat-sangat gue tekankan itu, fotografi adalah refleksi pola pikir kita. Jadi, misalkan gue ngeliat HP-nya si Sheila, gue scroll tuh galerinya, somehow gue bisa cerita tentang dia seperti apa karena apa yang dia foto itu adalah pola pikir dia, ya kan? Tinggal kamu liat psikologinya bagaimana, bla, bla, bla, bla.

Kalau kamu ingin mengubah style kamu memotret, atau pengin menciptakan sebuah karya yang seperti apa, yang kamu lakukan bukan belajar fotografinya saja, tapi kamu belajar pola pikirnya juga.

Gimana kamu mau buat sebuah karya seperti itu, pola pikir kamu saja masih kayak gitu-gitu. “Pa’e, kok aku fotonya kayak gini”. Pola pikir kamu masih seperti yang dulu soalnya. Ya, kamu akan menghasilkan yang seperti dulu juga. Pola pikirnya belum berubah. Setelah pola pikirnya berubah, pasti instantly secara langsung karya loe berubah. Sesimpel itu dan sekompleks itu.

Biasanya orang memulai dari mana sih, yang biasa dipertanyakan atau dipermasalahkan soal alat?

Sejak tahun 2012 ditemukannya teknologi smartphone, saat itu lah kayak kontribusi visual di dunia maya ini kayak “duar!”, benar-benar yang namanya bisa berkali-kali lipat. Banyak jumlah orang memotret. Ya, tidak harus punya kamera, tapi harus dipahami bahwa setiap alat atau gadget itu mempunyai kemampuan masing-masing.

Tinggal seperti image apa yang mau kamu hasilkan. Kalau saya sih ya, mungkin saya profesi saya harus memiliki kamera yang menunjang profesi saya. “Oh, Pa’e kameranya Leica ya”, “Ya, karena gue kerjanya di sini nyet!”. Gue bilang kayak gitu. Kalau loe baru hobi doang enggak usah beli Leica.

Kalau baru nyoba-nyoba pakai pinjam punya teman loe dulu, ya kan? Ya, wajar gue pakai Leica, itu yang menghidupi gue sama anak-anak gue sama bini gue. Gue butuh kamera yang kalau gue banting enggak rusak dong, pada saat gue kerja mau dalam keadaan apapun, sikat hajar bleh dong. Hal kayak gitu. Semua kamera tuh sama. The good thing about photography kata Mas Arbain Rambe itu enggak ada KW2-nya. Apa loe pernah nemuin Nikon KW2? Enggak ada. Beli kutang masih ada KW2, KW3 masih ada. Fotografi enggak ada.

 

Untuk mereka baru mulai terjun ke fotografi, harus ngapain?

Satu, ya sebenarnya mereka enggak harus ada spesifiknya yang harus ngapa-ngapain. Tapi, satu hal yang gue jadi patokan adalah, kamu tuh mau ngomong apa? Pada saat ada orang mulai, “Oh, loe mau motret ya?”. Loe ingin bicara apa dari foto loe. Loe harus tau dulu apa yang ingin loe sampaikan. Tapi apakah boleh pada saat kita enggak tau apa yang mau kita lakukan, kita memotret. Ya, boleh saja. Kadang kan kalau misalkan gue gambar kayak gini. Belum tentu gue harus tau gue gambar apa. Tapi, gue pengin gue gores dulu deh yang penting. Gue pengin melihat, garis ini bisa memberikan efek apa ke gue. Perasaan apa yang bisa dikasih gambar ini ke gue ya. Ini garis gue akan berakhir di mana ya. Kenapa ya kok garis ini kayak gini. Itu mau gue pelajari. Bisa jadi kayak gitu.

Pada saat orang mau motret, “Pa’e, boleh enggak kalau gue motret belum tau harus mau ngapain?”. Oh, boleh. Loe foto-foto saja. Setelah foto-foto apa? Loe coba liat foto loe, loe pelajari lagi. Kenapa loe melakukan itu? Bagaimana perasaan saat loe memotret? Itu jadi kayak mempelajari diri sendiri, mempelajari manusia.

Jadi, fotografi saat masuk ke ilmuan yang eksak di Fisikanya adalah ada lensa, ada eksposur, ada macam-macam itu. Tapi, pada saat sekarang kita jangan ngomongin teknis lah. Itu enggak akan nembus ke khasanah muda sekarang yang pengin belajar fotografi. Tapi satu hal yang harus dipegang adalah, kamu mau cerita apa dari situ, ya bahwa fotografi bisa menembus batas-batas yang kayak teknis saja. Tapi kayak dia bisa nembus batas, yang tadi yang sepertinya loe enggak bisa lihat. Ya, sampai kayak misalkan loe sudah cukup lama mendalami ini, ya pada akhirnya loe bisa yang selalu orang bilang mengarahkan gaya itu bukan men-direct, kalau misalkan men-direct dengan baik, berkomunikasi dengan orang lebih baik lagi. Ya, berkomunikasi sama orang menjadi person yang lebih baik lagi.

 

Bukan cuma bidang fotografi, Pa’e juga dikenal sebagai director. Bagaimana ceritanya?

Awalnya itu adalah Clubeighties sama Dewi Sandra. Gue inget banget si Dewi Sandra, “Nton, buatin gue clip dong”, “Gue enggak bisa, Wi. Gue belum pernah”, “Ya, sudah enggak apa-apa. Coba saja”. Di situ gue memberanikan diri untuk memencet shutter kamera Bolex H-16. Itu kamera yang pakai pegas. Kamera tahun 70an itu kamera 16mm. Masih pakai seluloid. Dan kalau loe liat music clip-nya. itu adalah, ternyata pola pikir gue adalah gue dulu banyak melakukan foto fashion, Bazaar, Amica, untuk majalah Dewi. Itu semua gambar still, yang gue tidak menggerakkan kamera gue. Yang pertama kali terjadi adalah, ternyata pola pikir itu kebawa, dan gue tidak menggerakkan kamera gue. Jadi, kayak sebuah, loe kayak liat majalah. Tapi ini sampai sekarang orang masih, “Dewi Sandra yang itu ya”. Jadi kayak majalah Vogue, lalu kayak ngebuka fashion spread. Clubeighties nge-direct anjing. Tai banget sih.

 

 

Pertimbangan Pa’e menerima tawaran untuk bekerja sama dalam pembuatan video musik?

Gue bisa diskusi sama orang ini apa enggak? Apakah gue sefrekuensi sama orang ini apa enggak? Itu sih. Gue melihatnya gitu dulu. Gue enggak dapat duit dari, ini bukan kerjaan utama gue, tapi setiap kali gue membuat music clip, gue harus senang sama manusianya dulu. Bukan lagunya ya. Gitu sih. Jadi, kalau manusianya satu frekuensi, ayo kita kerja sama. Kalau gue bilang sih kerja sama. Gue enggak melihat (fee) dengan segala cost pengeluaran gue yang harus gue keluarkan di sini. Ya gue duit butuh tapi itu bukan nomor satu. Dan bagaimana taunya satu frekuensi, ketemu dulu.

Kalau ada satu kolaborasi, kolaborasi tuh belum tentu penerimaan lho ya. Bisa saja kayak bertolak belakangnya, tapi kayaknya asyik deh. Bisa jadi kayak gitu. Lagunya kayak, “Anjing, lagunya kayak gini banget”. Setelah dijelasin sama orangnya, “Oh ternyata kausalnya, kayak sebabnya orang ini buat lagu kayak gini. Seperti ini, seperti itu. Sejarahnya kayak gimana”. Sama kayak misalkan, barusan kemarin ada orang beli lukisan gue, gue harus ketemu dulu orangnya karena lukisan ini kayak anak gue kan.

Orangnya nawar terus, nawar terus. Ketemu dulu saja. Ternyata, tau enggak? Dia dari tahun 2000 ngikutin gue ke mana saja, dan dia seumur hidupnya nabung untuk bisa beli karya gue. Fuck. Nangis gue. Gue bilang, “Ambil. Tapi loe jangan jual ke orang lain. Kalau gue nanti, gue akan beli dengan harga lebih tinggi dan gue akan ada tukar karya untuk loe”. “Iya, Pa’e”. Ya ada hal kayak gitu yang loe enggak, yang tidak selalu transaksional kan. Sampai segitunya, gila ya.

Kayak, dia nabung. Seumur hidupnya untuk bisa. Orang biasa, bukan yang orang yang hidup di dalam gelimpangan harta atau apa. Orang biasa. It’s not what you present but It’s how you present it. Bukan hasil akhirnya tapi caramu untuk menyampaikan atau mendapatkan. Caramu untuk mendapatkan itu bagaimana. Caramu untuk menyampaikan satu hal itu bagaimana. Itu kan sangat penting menurut gue.

 

Pa’e mulai ngelukis kapan?

Dari dulu gue ngelukis sebenarnya, tapi mungkin kayak gue transfer ke kanvas besar baru bisa konsentrasi pada saat pandemi ya.

 

Apa yang menjadi ciri khas Pa’e sebagai director?

Dekonstruksi. Gue tuh, ini (Collabonation) baru diacak-acak sama client kerjaan gue karena gue tuh sangat chaotic. “Pa’e, sini saja gue”. Editor gue anak Kelas Pagi, si Tian Jepang tuh. Yang ngerjain dia. Menurut gue jelek. Tapi pas client, “Ini bagus sih”. “Anjing”, gue bilang. Gue harus didampingi karena gue tuh sangat dekonstruktif.

Dekonstruksi tuh bisa yang kayak loe liat itu kan, foto gue tuh, kepala gue taruh bawah gimana ya? Gue pengin mencari bentuk-bentuk lain. Kalau gue tempel ini, gimana ya? Ini kalau Tuhan gue di atas binatang ini gimana ya? Kalau dia gue taruh sini, gimana ya? Itu yang gue lakukan.

Kayak karya gue nih, kadang langsung bleng jumping ke mana, ke mana gitu kan. Sudah bagus-bagus, langsung di-cut, blek. “Apa, apa?”, biasanya kayak gitu. Jadi kayak gue sangat bisa kebawa akan sesuatu yang enggak bisa ketebak.

Gue tuh kayak bisa yang, “Wah, enggak tau nih gimana ya?”. Kayak ada orang penyakit apa ya, tiba-tiba teriak sendiri, gue sering tuh kayak gitu. Untungnya enggak di tempat umum. Kalau gue sendiri, itu bisa kayak yang teriak yang kayak gimana. “Anjing, gue kaget sama suara gue sendiri”. Impulsif.

 

Kalau produksi atau video musik paling berkesan yang pernah Pa’e buat, diantara semua yang memengaruhi karier Pa’e?

Gue berhenti. Sebenarnya, gue bukan music clip-nya, tapi manusianya siapa? Gue enggak bisa mengatakan yang berkesan apa. Tapi kayak yang paling membuat gue berhenti buat music clip gue tau. Gue sempat vakum kan, berapa tahun tuh ya. Setelah apa? setelah video clip-nya Aura Kasih. Aura Kasih pengin dibuatin kemudian untuk membentuk image dia. Yang seronok kayak gitu.

“Tolong buatin lagi, Nton. Tapi yang enggak kayak gini”. Anjing banget ya, gue sebegininya ya, membentuk manusia ini sesuai dengan kehendak si manajer ini tanpa melihat pribadi gue ini, kayak gue cuma aset industri saja nih. “Oh loe buat kayak gini, kayak gini ya”. Ya, si manajer ini enggak salah. Kenapa gue melakukan itu saja sih. “Anjing, gila ya kayak gininya ya industri”. Akhirnya gue berhenti. Gue pengin cukup jujur dengan, bukan jujur ya, gue pengin happy dengan karya music clip gue. Happy tuh bukan berarti bagus ya, tapi bisa gue pertanggung jawabkan dengan konsekuensi-konsekuensi apapun.

 

Misalkan gue buat jelek, ya karena gue pas itu dalam keadaan kayak gini. Ya sudah itu risiko gue. Tapi misalkan ya pada saat itu di luar kendali gue dan gue harus membuat itu, dan gue mengiyakan, I think it’s, gue membenci diri gue karena gue melakukan itu. “Kenapa lagi loe harus buat kayak gitu, Nton?”. Baru ada dua gue tolak nih. Penyanyinya keren-keren ada duitnya.

Anak gue, “Kenapa sih enggak diambil”. “It’s not about that, De”. Bukan tentang berapa banyak dia bisa ngasih. Kayak Rizky Febian, gue enggak suka musiknya. Tapi, dia adalah orang yang bisa diskusi mendengarkan orang yang sangat santun. Gue ngerjainnya enak. “Ayo Mas, kita diskusi gimana?”. Untuk bisa bekerja sama bukan berarti harus sejalan, dengan berseberangan pun bisa asalkan membuka ruang diskusi itu dan ujung-ujungnya adalah bukan persamaan, tapi bagaimana kita bisa saling menerima dan saling menghargai. Itu sih.

 

Pa’e suka musik apa?

Kreator, Sepultura, Testament, Metallica yang album Kill’ Em All. Tapi gue cukup menghargai, ya gue sangat senang juga drum and bass. Gue suka electronic.

Anton Ismael

Anton Ismael menunjukkan album foto saat ia masih kanak-kanak hingga dewasa (dok. Sheila Prilliyastiara)

Siapa sosok yang berperan dalam karier Pa’e selama ini?

Bapak dan Ibu. Pertama, Ibu. Kedua adalah Bapak. Ibu itu adalah orang yang sangat sederhana, sangat sederhana. Di mana, walaupun dia mendapatkan fasilitas dia memilih untuk menjadi sederhana dan bilang tidak ada dengan cara yang sederhana. Jadi gue mendengarnya dari orang lain, bahwa nyokap gue pada saat dalam keadaan yang sekarat, dia ke rumah sakit sendiri naik mikrolet dengan membawa rantangnya sendiri. Dia masak dulu. Dia tau bahwa dia tidak akan ada. Dia sendiri jalan enggak mau dianterin. Gue pulang sekolah ngeliatin, “Ke mana, Bu?”, “Ke rumah sakit”, dengan sudah keadaan yang berdarah-darah kena cancer.

Gila, jadi kayak gue belajar hidup banget dari situ. Di mana pada saat seorang tentara memiliki kekuasaan bisa apa, loe nyuruh bawahannya lah, bisa lah. Tapi dia tidak memilih untuk itu dan satu hal yang doktrin dia ke gue itu adalah, mau apapun kamu ingatlah jadi orang yang sederhana. Gue ingat banget, karena gue juga. Pada saat itu, dia ngajarin cuma satu. Pada saat gue lahir, gue tuh di Cijantung. “Kamu liat deh, jalan gue namanya Sederhana II. Itu kamu ingat itu, sederhana”. Gue saking ngeliatnya. Gue ngeliatin terus sampai gue kecantol di pagar itu. Ini nih bekasnya (menunjukkan bagian tangan). Sampai sekarang gue ingat lah.

Terus orang yang sangat, ya kayak kakak gue. Jadi enggak keliatan bahwa dia sudah berumur. Becandanya. Jadi, cukup dekat ya. Gue melihatnya kayak kakak gue, nyokap gue itu. Orang yang mengerti pada saat gue kenapa-kenapa. Pada saat dia divonis bahwa dia tidak akan ada dalam waktu beberapa saat lagi, ya di situ gue memutuskan untuk tidak bertemu dia karena gue pasti akan semakin sakit.

Pada akhirnya gue memutuskan satu sebuah hubungan, gue sama nyokap gue. Gue enggak mau di rumah karena gue pasti akan sakit kalau gue kehilangan dan gue tau nih setiap detiknya, hari, bulan, gue akan kehilangan dalam jangka waktu berapa lama. Wah, itu gue painful menyaksikan itu. Pas gue nengok, pas gue ngumpet pulang ke rumah. Nyokap gue tatapannya. Anjing, dia nungguin gue. Gue langsung kaya, fuck. Dan akhirnya pada saat, kan gue ke luar kota. Pokoknya gue di Jogja, nyokap di Jakarta. Pas gue di luar kota itu, wah itu jadi penyesalan untuk gue sampai sekarang.

Itu kayak, pada saat gue nyokap enggak ada. Ya, itu pertama kali pengalaman spiritual gue ada di situ bahwa nyokap gue nabrak gue. Motor gue RX King yang gue baru genjot, di depan Radio Geronimo (Jogja) Jalan Gayam. Terus ada kayak bayangan masuk, langsung, “Wah anjing, bau kayak nyokap gue banget nih”. Di dalam keadaan ngebut, angin sebegitunya. Ini kayak masuk ke tulang-tulang. Kebetulan di situ ada guru BP gue. Langsung gue ke situ, gurunya enggak ada.

Akhirnya, gue ke tempat sahabat gue namanya Jacky, yang masak di sini dulu. Pas di depan rumah dia, masuk lagi bayangan itu dan bau itu. Pas di sana dia ada. Dia bilang, “Nton, loe balik saja deh sudah. Loe kayak orang gila loe. Bingung”. Akhirnya gue ke kost-kostan gue. Gue merungkel saja. Anjing kayak gitu. Jam 3 diketok, “Nton”. Gue bilang, “Gue udah tau”, “Tau apa?”, “Gue sudah tau Ibu enggak ada kan tadi jam segini”. Pas exactly dia masuk gitu, “Jam segini kan”, “Iya, loe tau dari mana?”. “Ibu datengin aku”. Jadi itu, itu kayak pengalaman spiritual gue sama nyokap terakhir kalinya. Anjing gila.

Terus bokap adalah orang yang selalu bilang, gue enggak peduli loe jadi apa. Tapi, jadilah yang terbaik. Gue enggak peduli loe jadi Tukang Sampah, tapi jadilah yang terbaik. Gue enggak peduli loe jadi penjahat, tapi jadilah penjahat yang terbaik. Jangan jadi preman yang di pasar. Loe jadi mafia sekalian. Jadilah yang terbaik.

 

Apa pembelajaran yang Pa’e dapatkan selama masa pandemi, selain harus mampu kuat bertahan?

Saya berpikiran bahwa sebenarnya sistem urban yang kita jalani ini ada baiknya. Tapi pada saat pandemi ini bersamaan dengan itu, bahwa sistem urban yang kita jalani rapuh. Pada saat satu sistem runtuh, semuanya runtuh. Itu yang membuat saya berpikir, bahwa lemahnya sistem ini. Manusia yang terlalu tergantung orang lain. Itu menyebabkan saya untuk lebih memikirkan, saya pengin belajar dari yang tertua. Itu apa? Pohon. Bagaimana dia hidup, dari benih, dari biji, benih. Kemudian jadi pohon yang kuat, rontok, mati dan akhirnya tumbuh lagi. Dia di sini dengan segala jumpalitannya manusia. Dia tetap diam dan enggak teriak-teriak minta dilihat. Dia memisahkan diri tapi di dalam lingkungan kita. Jadi gue berpikiran akan satu hal yang, sebuah sistem yang off-grade, off-grade itu terpisah bahwa kita harus punya kemampuan untuk kuat. Enggak bergantung kepada, terlalu bergantung ya pada. Terlalu in depends atau terlalu tergantung dengan orang lain. Makanya, kayak gue ngumpulin banyak buku bagaimana tentang survival. Kayak gue belajar tentang kemungkinan hidup di tempat lain. Gue belajar tentang UFO. Gue mengumpulkan pisau untuk bisa hidup di hutan. Jadi, bisa kok. Gue bisa, itu yang menjadikan tujuan gue pada akhirnya semua orang itu pintar dan kita mau sepintar apapun kita. Kita akan kembali ke nol lagi. Ilmu pengetahuan itu akan kembali ke nol lagi tentang apa itu hasrat manusia, esensi manusia, kemanusiaan itu apa. Keilmuan apapun yang manusia capai akan kembali kepada titik nolnya lagi itu adalah kemanusiaan.

 

Tapi Pa’e sempat beradaptasi enggak di awal pandemi?

Iya, pastinya. Gue mempunyai banyak waktu untuk sendiri dan bercermin. Makanya gue melukis. Gue bercermin. Gue lebih banyak melihat diri gue, “Apa sih Nyet yang loe cari?”. Akhirnya, kok akhirnya berani membuat Test Lab. I need money. Tapi, money is not everything. Gue serahkan ke manajemen gue, ke murid gue yang namanya Irvan Hartanto. Ya, sudah tolong ya kalau ada komersial tolong manage gue.

Penulis
Pohan
Suka kamu, ngopi, motret, ngetik, dan hari semakin tua bagi jiwa yang sepi.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Monita Tahalea Tebus Kerinduan dengan “Berlalu”

Monita Tahalea juga mengungkapkan bahwa “Berlalu” memuat sebuah cerita mengenai kerinduan serta keputusan untuk menjadi pribadi yang berbahagia.

Adrian Adioetomo Lepas Video Musik “Volatile Love”

Album self-titled dari Adrian Adioetomo masih bisa didapatkan di seluruh jaringan distribusi demajors dan situs resmi mereka.