Wawancara Khusus Aldrian Risjad: Tak Bercita-cita Menjadi Rock Star

303
Aldrian Risjad
Aldrian Risjad merilis mini album perdana Interrobang dengan focus track berjudul “State of Uncertainty”.

Artis Sun Eater, Aldrian Risjad merilis mini album perdana Interrobang dengan focus track —begitulah sebutannya di siaran pers— berjudul “State of Uncertainty”. Video musiknya langsung beredar di hari yang sama 10 Juli 2020 yang disutradarai Rifqi Fadhlurrahman.

Dalam album berisi total enam judul, dua puluh menit terasa singkat untuk sebuah album rock. Interrobang meluapkan hal pribadi, ketakutan, dan bisa jadi luka berat. Tiga buah single yang lebih dulu dirilis termasuk di dalamnya, yaitu “Milk Candy”, “Premature”, dan “Help You Out”.

Hal menarik dari Aldrian Risjad dan “State of Uncertainty” yang di mini album sedikit berbeda dengan audio video musik. Mastering seluruh lagi di mini album dikerjakan Wisnu Ikhsantama Wicaksana. Namun, mastering lagu untuk video musiknya dikerjakan Stephan Santoso.

Enam hari setelah Interrobang diperdengarkan, Pop Hari Ini berkesempatan berbincang santai dengan Aldrian Risjad melalui aplikasi panggilan video. Kami berbicara panjang lebar tentang perjalanan karier bermusiknya, tentang Baskara, Sun Eater dan lain sebagainya.


Awal perjalanan bermusik seorang Aldrian Risjad gimana sih?

Sebenarnya kalau awal perjalanan bermusik, yang ada jejaknya itu ketika gue kemarin rilis “Milk Candy” di bawah Sun Eater bulan Mei 2019. Cuma kalau perjananan bermusik gue dari awal banget sebenarnya, sejak gue SMP. Gue mulai main gitar, mulai nyanyi, mulai perhatiin lagu-lagu. Terus ya gue di situ mulai berlatih nyanyi serius dan kayak berpikir someday gue mau jadi penyanyi.

Kapan pertama kali manggung?

Pertama kali manggung lomba nyanyi. Dulu sempat beberapa kali ikut lomba nyanyi gitu. Ada acara Purwacaraka atau semacamnya, ada juga acara di luar. Kayaknya itu sih momen gue pertama kali manggung. Maksudnya pakai minus one, trus nyanyi sendiri di panggung. Oh sama pernah juga sih gue SMP sering sama bokap gue diajak jalan-jalan ke kafe-kafe. Nyanyi satu dua lagu. Kata bokap gue buat ngelatih mental gue gitu.

Bokap mendukung banget ya?

Iya, bokap support banget sih. Dia juga yang ngajarin gue gitar dan bisa dibilang semasa awal gue nyanyi, dia mentor gue karena awal-awal tuh gue lumayan buta nada. Jadi gue minta diajarin sama dia, “Gimana sih ‘pah caranya nyanyi di chord yang benar?” Maksudnya, yang nggak ke mana-mana. Dia sempat mentorin gue juga sebelum akhirnya gue bertemu orang lain.

Belajar musik dari bokap?

Iya selain yang diajarin di sekolah, main suling, main pianika. Dulu bokap gue alasannya gini, bokap gua agak sexist juga ya. Cuma bokap gue bilang, anak laki harus bisa main gitar. Sebagai anak SD, gue termotivasi lah .

Dulu sempat ngeband?

Sempat, gue pertama kali ngeband itu waktu gue masih SMA sama teman-teman kelas. Pas lagi acara class meeting. Berjalan 3 tahun, cover-cover tapi saat itu juga gue belum ada kepikiran buat bikin lagu sih. Gue bisa dibilang ngeband pertama kali bikin lagu pas gue kuliah di kampus gue FISIP UI. Gue waktu itu maju jadi semacam kontingen band untuk lomba band se- UI. Kelar lomba kita serius bikin lagu, 1-2 lagu cuma nggak ada kabar. Ya udah, akhirnya dari situ juga kenapa gue milih untuk jadi solois karena ngeband buat gue agak melelahkan dalam proses penulisan lagu. Susah ngumpulin anak-anaknya. Terus kalau udah ngumpul, belum tentu jadi. Di titik itu lah gue menyadari, gue lebih suka sendiri.