Wawancara Khusus Rendy Pandugo: Karier, Cinta, dan Sekarang

586

Setelah mini album SEE YOU SOMEDAY beredar, Rendy Pandugo menargetkan album penuh keduanya yang bisa rilis di tahun ini. Jeda yang cukup lama dari album perdananya, The Journey (2017).

Perjalanan kariernya sebagai penyanyi solo di industri musik dimulai saat ia mengeluarkan single “Sebuah Kisah Klasik”, membawakan ulang lagu milik Sheila On 7 disusul “I Don’t Care” di tahun yang sama, 2016. 

Namun sebelum itu, Rendy telah melewati beberapa fase dalam bermusik. Ia sempat membentuk duo Di-Da, menjadi additional player untuk Music For Sale, band asal Bogor, hingga berpisah dengan label yang membesarkan namanya. 

Simak langsung tanya jawab Pophariini bersama Rendy Pandugo sampai hal bertahan di masa pandemi dalam wawancara khusus sebagai berikut:


 

Bagaimana kisah Rendy Pandugo berproses menjadi seorang musisi dari titik awal berkarier hingga sekarang?

Gue ngejalanin yang namanya sebelum solo karier, gue sempat punya project juga dulu sekitar 2011, Di-Da. Trus nggak jalan bandnya karena emang waktu itu mungkin kondisi yang cukup apa, untuk boyband dan segala macamnya. Trus gue ada di tahap, gue mungkin bisa dibilang putus asa. Gue mencoba untuk kayak ‘gue mungkin kantoran aja’. Sempat ada di fase itu juga di 2014. 

 

Akhirnya loe kerja kantoran?

Enggak, Alhamdulillah. Akhirnya, setelah fase kantoran itu gue mikir bahwa ‘tunggu dulu, sebelum gue memutuskan untuk kantoran gue pengin menelaah lagi, apa yang udah gue lakukan, apa yang udah gue lakukan buat musik gue, goal gue apakah udah tercapai dan segala macam, ‘apakah gue udah maksimal yang udah gue lakukan?’.

Akhirnya, ketika gue pikir lagi ternyata belum. Ternyata gue masih banyak malas-malasan, gue masih banyak di kamar, gue masih kurang mingle sama orang-orang, masih kurang teman juga. Akhirnya itulah yang gue lakukan, dan satu hal gue nggak punya jam terbang. Akhirnya gimana caranya, akhirnya gue cari jam terbang, akhirnya gue ngamenlah dari mall to mall, cafe to cafe, dari tempat pernikahan ke tempat pernikahan, dan segala macam. Dari situ akhirnya baru sedalam itu bikin SoundCloud dan segala macamnya. Alhamdulillah banyak juga yang waktu itu dengerin dan terdengar juga sampai ke label Sony Music Indonesia waktu itu. Akhirnya gue diajak untuk produced album, dan akhirnya kejadian juga gue ada di sana untuk bisa dibilang dua album. That’s it, sampai detik ini gue ada di sini.

 

Apakah yang membuat Rendy tidak meneruskan perjalanan Di-Da?

Gue memutuskan untuk tidak lanjut karena memang ada perbedaan prinsip sejujurnya. Untuk perihal apa yah, secara musikalitas sebenarnya memang kita cukup berbeda sebenarnya. Dan prinsip untuk, sebagai musisi itu kita juga berbeda gitu. Jadi, gue rasa ada baiknya memang ya udah kita jalan sendiri. Ngapain harus gue paksain kalau misalkan memang salah satunya memang harus terpaksa juga melakukannya. Ya udah nggak usah lah. 

 

Kalau Music For Sale?

Mereka teman-teman gue, dan gue nggak sengaja juga ketemu sama Dion waktu itu. Dan akhirnya berujung gue ngebantuin mereka untuk bandnya sebagai additional player untuk ngisi gitar di albumnya, album mereka. Cuma sayangnya kalau nggak salah nggak sempat rilis apa yang udah gue isi kemarin. Nggak sempat dirilis semua, jadi kalau nggak salah cuma satu lagu doang yang sempat dirilis. Tapi beberapa kali gue sempat bantuin mereka manggung. 

 

Pada saat itu loe memang sebagai additional player dan saat itu belum memulai karier solo?

On progress waktu itu. 

 

Siapa sosok yang menginspirasi Rendy di luar musik?

Banyak dibilang sih keluarga, ya mungkin mulai dari bokap gue, dan istri gue. Kalau dari bokap gue sih, gue ingat kata-katanya beliau tuh. Dia bilang, ‘gue ngebesarin loe dan mencoba untuk mendidik loe dengan satu keahlian, gue nggak mau anak gue gedenya nggak memiliki satu keahlian karena ketika loe punya satu keahlian gue yakin loe nggak akan susah untuk mencari nafkah’. Ibaratnya kayak gitulah. Jadi, kayak loe lebih siap ketika loe punya satu keahlian untuk ke depannya. Dan itu yang gue tanam terus di kepala gue, dan dia sangat support sekali dengan apa yang gue lakukan. Sama sekali nggak ada apa ya, bahkan nilai gue jelek di SMA pun sampai di kuliah pun karena gue banyak main musik. Beliau juga nggak pernah complained. Kalau istri gue, dia satu orang yang memang. Salah satu wanita, ya selain nyokap gue, yang benar-benar tau gue dari delosor yang emang cuma suka nongkrong di jalan. Kayak belajar nggak pernah benar, dan dia mau hidup susah sama gue juga. Tanpa ada complained juga. Jadi kayak, gue sangat bersyukur dikelilingi orang-orang itu sih.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments