Wawancara Khusus Seputar Kembalinya Sic Mynded

Jul 7, 2020

Nama yang lawas, mungkin terdengar asing di generasi sekarang, namun dihiasi nama-nama familiar pada formasi terbarunya. Mungkin ketiga hal itu bisa menggambarkan Sic Mynded, unit industrial yang dibentuk oleh Oddie Octaviadi dan Rudi Soedjarwo pada medio 1990-an silam.

Jika diingat kembali, Sic Mynded pernah menyedot perhatian publik kala album mereka, Jelaga, mendapatkan nominasi dalam AMI Awards pada tahun 1999 lalu. Meskipun begitu, proyek ini terpaksa hiatus. Penyebabnya? Tentu saja kesibukan pekerjaan dari dua personelnya, dimana Oddie di bidang digital dan komunikasi, sementara kiprah Rudi sebagai sutradara yang juga sudah tidak diragukan lagi.

“Kami di tahun 1999 pernah meluncurkan album berjudul Jelaga dan sempat mendapatkan nominasi AMI Awards di tahun yang sama. Di tahun 2020 ini, kami mengambil kesempatan untuk memperkenalkan kembali karya-karya lama yang lalu kami rekam atau di-master ulang sembari melepas beberapa lagu-lagu baru,” tutur Oddie dalam rilisan persnya.

Hingga akhirnya pada 2 Juli lalu, Sic Mynded resmi merilis Jelaga 2020, sebuah album terbaru yang menandai kembali hadirnya mereka di industri musik Indonesia saat ini. Tidak hanya berdua, mereka juga kedatangan beberapa nama yang juga tidak asing lagi. Mereka adalah Marcell Siahaan, Gatot Alindo, Aldi Pagaruyung, dan juga Adra Karim.

Hadinya album ini juga menyusul single “Peace Within” yang rilis pada Februari lalu. Single ini juga turut dalam rombongan di album Jelaga 2020, berbarengan dengan 12 nomor lainnya, seperti “Triggerdance”, “Save Your Kiss”, “Ketika Dunia Berhenti Berputar”, dan beberapa nomor lainnya.

Bicara mengenai “Peace Within,” single ini juga hadir dalam balutan video klip yang disutradarai oleh Josse Keyzer. 

“Album Jelaga 2020 adalah pencapaian dari suatu perjalanan spritual memaknai hidup apa adanya, tanpa harus selalu terlihat dalam ‘bungkus’ dan ‘kosmetika’ positif dan relijius. Tidak harus berandai-andai, tidak harus bermanis-manis. Menuju bijak, seringkali perjalanannya tidak terlihat bijak, dan itu realita yang apa adanya,” tambah Marcell.

Kami berbincang singkat dengan sang vokalis, Oddie Octaviadi mengenai album terbaru Sic Mynded, Jelaga 2020.

Kami selalu tertarik kepada alasan sebuah band lawas yang vakum/bubar kemudian aktif kembali, apa yang memutuskan untuk kembali menghidupkan band ini?

Sebenarnya kalau untuk Sic Mynded, gak ada tuntutan apa-apa sebenarnya kenapa kita aktif lagi. Dan Sic Mynded mulai nulis lagu lagi, gue dan Rudi tahun 2018 mulai nulis lagu lagi, itu sama saja kejadiannya seperti pertama kali kami bikin band.

Tiba-tiba ada inspirasi, Rudi bikin musiknya dan juga eksperimen dengan sound di sela-sela kesibukannya sebagai sutradara, dan gua juga di sela-sela kehidupan gue sebagai orang kantoran di bidang digital dan komunikasi. Gua sama Rudi jadi lebih sering ngobrol, dia ada ide lagu, terus kita bikin saja single pertama, yaitu “Peace Within’.”

Cuman waktu itu memang gak ada niat untuk “Oh ini harus kita jadiin band, kita harus seaktif dulu lagi,” sekedar benar-benar “Enak ya lagunya, yuk kita mixing!,” tadinya sudah mau kita rilis, tapi nanti saja deh, belum ada feeling untuk mau ngerilis. Lalu Rudi bikin lagu kedua, “Safe Your Kiss”, gue isi lagi, dan wah seru nih ya, yuk kita rilis.

Sic Mynded bukan pelopor industrial rock Indonesia karena SAAT ITU banyak musisi lain yang bereksperimen dengan musik elektronik dengan tambahan gitar distorsi

Dan di tahun 2018 itu, tiba-tiba Marcell approach gue ngomong bahwa dia ingin mengaransemen ulang dan merilis lagunya Sic Mynded yang tahun 2003 gue bikin, yang judulnya “Ketika Dunia Berhenti Berputar.” Dia ingin rilis ulang untuk proyek pribadi dia, di mana pada proyeknya dia itu, isinya cover lagu-lagu orang.

Nah dari situ, mungkin relationship kita sebagai musisi jadi terbentuk. Cuma tetap, memang gak ada niat bahwa kita harus comeback, bikin ini, bikin itu. Mengalir saja sih. Setelah lagu terkumpul, wah ini seru juga ya idenya, kalau kita live kayak apa ya? Sekalian saja gue ajak teman-teman yang memang gue rasa kompeten dan gue rasa bisa masuk sama kita, lalu Marcell juga nyaranin ini dan itu. Akhirnya kita ngumpul sebagai band, oke kita sudah punya 2 lagu ini, yuk kita bikin yang lain lagi.

Terus kita memang meluncurkan single pertama, “Peace Within” itu sebagai nama Sic Mynded. Dan kita gak pernah berpikiran pendapat orang setelah kita lama vakum. Kalau push factornya yang dari dalam, sebenarnya kita ingin bikin karya lagi saja. Dan daripada bikin band baru lagi, kan ini sudah ada kendaraannya, Sic Mynded, dan memang masih relevan dengan lagu-lagu baru yang kita bikin.

 

Sic Mynded pada akhirnya mempunyai anggota-anggota baru yaitu Gatot Alindo, Aldi Pagaruyung, Adra Karim, dan juga Marcell Siahaan sendiri. Ada alasan kenapa orang-orang tersebut yang dipilih?

Kalau untuk Marcell, gue kebetulan kenal dia sudah cukup lama ketika gue masih di Getah. Ketemuannya juga waktu Getah manggung di Java Rockin Land, 2010 atau 2011 gitu lupa, pokoknya yang ada Smashing Pumpkins. Nah terus, bandnya Marcell, Konspirasi juga manggung. Pas kita lagi di backstage, Marcell nyamperin, terus kita ngobrol, mostly malah bukan tentang musik tapi tentang religion, aliran kepercayaan dan segala macem, pokoknya seru.

Dari situ, kita selalu keep in contact, berhubungan dengan musik, lalu memang jadi teman. Dan dia selalu suka dengan musik-musik yang diluar jalur mainstreamnya dia, dan bahkan dia saat itu sering banget bantuin Getah sebagai drummer. Beberapa kali kami sempat manggung live bersama Marcell, juga sempat di studio jamming, bikin lagu baru juga sama Marcell.

di Indonesia industrial/electronic rock gak akan mencapai sebesar Death Metal, karena memang nature-nya kita audiensnya gak ke sana.

Akhirnya natural saja, sampai ke poin di mana gue ninggalin Getah di akhir tahun 2018, lalu Marcell juga ngajakin bikin ulang lagunya Sic Mynded, nah dari situ pada saat gue sama Rudi pikir bahwa seru juga kalau kita bikin format live band dan harus ngumpulin orang, of course yang gue kepikiran pertama adalah Marcell sebagai drummer. Karena sudah ada pengalaman sebelumnya, dia pernah bantu Getah sebagai drummer, lalu juga dia bikinin ulang lagunya Sic Mynded, seperti itu, jadi natural saja, gue langsung ajak Marcell.

Setelah kita ngobrol bertiga, cocok nih, lalu gue langsung kepikiran sebenarnya untuk gitaris itu si Aldi. Karena gue juga kenal Aldi, kakak beradik itu sudah cukup lama, dan bandnya juga sempat manggung di beberapa acara musik yang gue bikin, pokoknya gue suka banget dia sebagai gitaris dan juga frontman, akhirnya gue ajak dia.

Eh tapi ternyata, setelah gue kenalin dengan Marcell dan Rudi, kita ngobrol-ngobrol, ternyata Aldi malah pingin mendalami bass, jadi bassist malah, instead of jadi gitaris, ya sudah, kebetulan Aldi dan Marcell juga nyambung karena kebetulan sama-sama lawyer

Lalu, Marcell bilang, gue ada temen nih gitaris di Bandung, namanya Gatot, dia adik kelas gue pas jaman sekolah kata Marcell. Gue juga gak pernah kenal Gatot, langsung dipertemukan pertama kali itu pas pertama kali Sic Mynded shooting video klipnya “Peace Within.” Disitu kita kenalan, ngejam, wah iya memang asyik nih anak. Sebagai gitaris, sebagai penulis lagu, sebagai sound engineer, dia jago deh, dan memang orangnya asyik.

Lalu, untuk kita nambahin synthesizer, kita kepikiran untuk siapa ya orang yang cukup gila cara berpikirnya dalam membikin sebuah musik, kebetulan kita sama-sama kenal. Aldi, gue, sama Marcell itu akrab dengan Adra, dan juga dulu Adra adalah keyboardisnya Getah, jadi gue kenal banget, ya sudah kita langsung cocok, dan kebetulan Adra juga langsung mau.

Dan itu sih alasannya, kombinasi dari orang-orang yang kita rekomen, yang kira-kira chemistry-nya akan cocok, punya pemikiran musik yang gak sempit, lalu memang becus dalam bermain musik, bukan harus yang terjago tapi yang memang becus saja gitu main musiknya, dan setelah ngumpul kebetulan ya cocok saja semuanya. 

 

Sebagai pelopor industrial rock yang berdiri sejak tahun 1993, bagaimana Oddie melihat skena musik atau mungkin khususnya industrial rock saat ini?

Mungkin gue koreksi sedikit ya, gue rasa gue bukan pelopor industrial rock, karena kalau gue lihat di Indonesia sebenarnya sudah lama sih banyak musisi-musisi yang bereksperimen dengan elektronik, dengan tambahan gitar distorsi, electronic music tapi yang bukan untuk dance gitu scenenya. Jadi kebetulan saja waktu itu Sic Mynded dibikin di US lalu kita ngeluarin album di sana, bisa independen dan juga lebih mudah saat itu, dimana kita bisa langsung masukin ke toko-toko musik besar, kita cuma kerja sama dengan label independen saja saat itu, Regarding Records, jadi kelihatannya memang kayak Sic Mynded gitu yang pertama kali yang jadi band industrial.

Dan memang, waktu kita nyoba nawarin Sic Mynded ke major label di Indonesia saat itu, mereka gak ngerti musiknya dan kategorinya apa. Jadi gue jualan Sic Mynded waktu itu labelnya industrial gitu, walaupun gak sepenuhnya benar bahwa Sic Mynded adalah industrial. Mungkin dari situ ada persepsinya bahwa Sic Mynded adalah pelopor.

Sic Mynded / dok. Sic Mynded

Di saat itu juga, sudah ada kok band-band seperti Koil dan beberapa band lainnya yang sama-sama berdiri di era yang sama dan mulai membentuk musiknya yang sekarang kategorinya disebut industrial gitu.

Skena musik industrial sebenarnya di Indonesia gak pernah terlalu ada gitu ya, ada kecilan-kecilan aja gitu. Kembarannya si Aldi, bassist kami, namanya Andi, nah dia juga punya band industrial, dan itu yang paling kelihatan sama gue pada saat setelah gue balik ke Indonesia di tahun 2006. Koil pun juga semakin besar dan semakin dianggap sebagai band industrial.

Kalau gue lihat, sebenarnya scene industrial akan sama seperti di Amerika dan Eropa di mana ada yang memang traditional industrial, yang memang sangat-sangat mesin, tapi ada juga yang sudah cross-over ke mainstream seperti Nine Inch Nails, yang di mana di album pertamanya pun mereka juga sudah ada lagu slow-nya, di saat band-band industrial lainnya saat itu enggak ada yang ngeluarin lagu slow. Akan juga ada yang seperti Ministry, yang tetap di industrial metal. Mungkin akan ada juga yang kayak model Stabbing Westward atau Filter, seperti itu.

Kalau Musisi generasi tua tapi cara berpikirnya tua, ya sudah, dia hanya akan didengarkan oleh pendengar generasi tua saja

Di Indonesia, gue rasa mungkin akan lebih akrabnya nanti disebutannya, mungkin seperti electronic rock, bukan industrial lagi. Dan makin banyak sih sebenarnya, apalagi kita tahu kayak misalnya DJ Winky yang seorang DJ, yang juga gitaris jago yang suka juga main metal, mungkin nantinya akan terlahir sebuah karya dia yang nanti orang akan melihatnya sebagai industrial gitu.

Gue rasa di Indonesia akan terus ada sih, genre yang mungkin definisi industrialnya lebih longgar ya, di mana kita di situ juga ada anak-anak yang istilahnya ‘perkabelan’ dengan musik-musik eksperimennya, noise juga, gitu sih, ya gue rasa gitu ya.

Untuk menjadi besar seperti death metal gue rasa industrial atau electronic rock di Indonesia gak akan mencapai sebesar itu sih, karena memang naturenya kita audiensnya gak kesana.

 

Pasca formasi baru dan album baru, kemudian di masa Pandemi ini, apa rencana Oddie dan Sic Mynded ini ke depannya, selain merilis rilisan fisik?

Untuk Sic Mynded sendiri sih, rencana kami lumayan padat dan banyak. Kebetulan, kenapa kami merilis album Jelaga 2020 ini sebenarnya adalah karena kami ingin merilis beberapa materi baru, beberapa materi lama yang kami rekam ulang, dan juga materi-materi lama yang di-mastering. Karena menurut kami, kalau mau kenalan, sekaligus saja deh, biar kami ceritakan sejarah kami. Jadi memang album ini meng-capture perjalanan dari tahun 1995 sampai tahun 2020, jadi bisa dilihat perkembangan musik kami seperti apa, sound-nya seperti apa.

Sic Mynded / dok. Sic Mynded

Dan selain rilis digital, akhir bulan ini juga akan dirilis dalam bentuk fisik juga, CD dan kaset. Lalu, dari obrolan Sic Mynded di awal, kami sepakat untuk gak ngebatasin ini di musik saja. Jadi memang rencana kami di tahun 2021 itu selain akan ada album baru, yang benar-benar baru, kami tulis rame-rame, gak cuma hanya gue dan Rudi saja yang nulis. Selain itu, gue dan Rudi juga berencana untuk membuat sebuah mini series, sekitar 6 episode yang berdasarkan single “Save Your Kiss” dari album Jelaga 2020 ini.

Kami juga sudah ada rencana untuk terjun ke industri video game, di mana beberapa opsinya adalah Sic Mynded akan me-licensing beberapa lagu yang nantinya akan dipakai di video game buatan lokal maupun luar juga. Dan kami juga ambil bagian untuk menjadi sound designer untuk video game itu sendiri. Karena apa yang semua kami lakukan bisa dilakukan di berbagai medium.

 

So far, itu rencananya, dan of course manggung-manggung. Rencananya, Agustus ini akan kami bikin live show-nya Sic Mynded. Kalau melihat dari gejalanya, kalau masih belum bisa bikin konser secara publik, kami akan bikin konser di mana kami akan live stream, dan juga audio dari hasil live stream tersebut akan kami rilis menjadi live album.

Lalu akan ada target di tahun 2021, manggung-manggung live show seluas mungkin di Indonesia, lalu Singapura, dan juga targetnya Jepang untuk tahun 2021. Seperti itu sih kalau untuk rencana ke depannya, banyak yang ingin dikerjain dan memang kami sepadat mungkin kalau bisa jadwal kerjanya.

 

Bagaimana adaptasi band seperti Sic Mynded yang mewakili generasi lama di tengah-tengah industri dan promosi musik sekarang ini?

Sebenarnya gue memang kerjaannya di bidang digital dan komunikasi, band tua dan band muda di jaman sekarang itu tinggal gimana kepintaran mereka untuk mengadaptasi cara men-showcase musiknya, visualnya, marketingnya, promosinya melalui medium yang ada, dan medium utama sekarang adalah digital.

Kalau generasi tua tapi cara berpikirnya tua, ya sudah, dia hanya akan didengarkan oleh generasi tua saja. Tapi, juga kebetulan karena kerjaan gua adalah di bidang ini, lumayan punya insight dan ilmu sedikit mengenai caranya bagaimana sih ngobrol dan berkomunikasi di digital, dan itu yang kami coba kulik terus dan manfaatkan terus. Karena, apa sih yang target audiens kami cari? Kami harus bisa komunikasikan, kami sangat berhati-hati dalam mempresentasikan Sic Mynded keluarnya, karena memang menurut kami band ini gak boleh sembarangan. Ini adalah band yang sudah lama dan sangat gue apresiasikan dalam perjalanan hidup gue, juga untuk Rudi dan untuk teman-teman yang lain, dan kami ingin bisa mempresentasikan dengan benar.

Kami juga berencana membuat sebuah mini series 6 episode berdasarkan single “Save Your Kiss” dari album Jelaga 2020 ini. Kami juga ada rencana untuk terjun ke industri video game

Kalau memang gak harus banyak manggung, gak apa-apa. Yang penting tiap kali kami manggung, presentasinya selalu benar. Bukan berusaha harus tetap relevan dengan generasi milenial, tapi memang at least kami kasih kesempatan dan bisa menjangkau generasi-generasi muda untuk dapat kesempatan untuk mendengarkan lagu kami. Perkara suka atau tidak, mereka beli atau enggak, itu adalah hal-hal lain yang tidak dikontrol oleh kami. Yang penting, presentasinya harus benar tentang Sic Mynded.

Dan industri musik di Indonesia juga terus berubah, regulasinya, medium-medium yang tersedia, jadi pinter-pinteran, dan harus rajin-rajinnya untuk terus membaca insight-nya. Dan sangat menarik sih, objektifnya gak melulu soal jual produk, tapi lebih mengerti dan belajar dengan band-band baru, generasi baru, yang memang lahir sudah dalam dunia digital. Bagaimana cara mereka berkomunikasi dengan fans mereka, audiens mereka, seperti itu.

Jadi ya Sic Mynded dalam bermusik juga terus belajar, gak pernah berhenti, sama juga dengan cara kami berkomunikasi ke dunia luarnya.

 

____

Jelaga 2020 dari Sic Mynded sudah bisa didengarkan di berbagai layanan streaming musik yang tersedia.

 

 

Penulis
Raka Dewangkara
"Bergegas terburu dan tergesa, menjadi hafalan di luar kepala."

Eksplor konten lain Pophariini

Makassar Bukan Lagi Hanya Sekadar Daerah

Tulisan kempat Bising Kota kali ini ditulis langsung oleh Brandon Hilton dari Makassar

Portree Saling Menguatkan di Single “Jingga”

Portree mendedikasikan lagu “Jingga” untuk teman dan sahabat yang berada di lingkaran mereka, yang selalu hadir dan terlibat di setiap langkah Portree.