Wawancara Khusus Tulus: Eksistensi 10 Tahun Berkarya

Sep 28, 2021
Tulus

Jika menanyakan apa kabar Tulus? Saat ini ia sedang menjalankan sebuah rangkaian pertunjukan musik virtual berjudul Terlalu Rindu. Seperti judulnya, pertunjukan ini menyuguhkan materi lagu yang sudah pernah rilis, yaitu dari album self-titled, Gajah, dan Monokrom.

Pertunjukan tersebut bukan hanya momen untuk menebus kerinduan Tulus terhadap penggemar atau penggemar yang sudah lama tak menyaksikannya secara langsung di suatu ruang, namun juga tanda syukur karena ia telah sampai di usia satu dekade perjalanan berkarya. 

Satu dekade adalah perjalanan yang tak terlupakan bagi siapapun saat menjalani sesuatu yang dicintai, begitupula apa yang selama ini Tulus berikan dan dapatkan dari musik. Kami mendapat kesempatan untuk berbincang dengannya (23/09) via Zoom yang bisa disimak berikut ini:


Apa kabar Tulus?

Kabarnya baik. Ini lagi duduk nyaman.

Lagi sibuk penayangan konser ya?

Iya, tanggal 14, 21, dan 28 September, setiap hari Selasa. 

Konser ini menandai karier Tulus sudah satu dekade ya?

Jadi si pertunjukan ini dibagi tiga itu karena ada tiga album. Jadi kan saya punya tiga album studio ditambah satu album live yang dari konser Monokrom. Si pertunjukan ini dibagi menjadi tiga untuk merayakan sepuluh tahun berkarya dengan konten materi itu dari tiga album studio itu, album pertama yang berjudul Tulus, yang kedua judulnya Gajah, dan yang ketiga itu yang berjudul Monokrom

Apa hikmah dari pandemi yang kamu rasa membuatmu bisa tetap produktif?

Hikmah dari pandemi sebenarnya banyak. Sekarang yang terlintas di pikiran adalah ada waktu sangat ekstra untuk bisa lebih banyak bicara dengan diri sendiri. Tidak hanya habis waktu untuk banyak beristirahat. Tapi, banyak juga habis waktu untuk berbicara dengan diri sendiri. Di mana sebagai seorang penulis lagu, itu perlu banget. Malah bisa jadi stimulus yang OK dan baik untuk kreativitas. 

Sebagai manusia sampai sekarang pun kita semua kan pasti masih beradaptasi di sana sini.

Sempat merasa terhambat enggak dengan proses adaptasinya cepat atau lambat?

Mungkin kalau misalnya secara keseluruhan sebagai manusia sampai sekarang pun kita semua kan pasti masih beradaptasi di sana sini. Kalau dipersempit dalam konteks saya sebagai seorang penulis lagu, mungkin yang berkaitan dengan teknis perekamannya. Kalau dulu ke studio kan bebas. Kita mau ke studio kapan saja bebas. Kita mau datang kapan saja bebas. Kalau sekarang tuh kita mesti lihat dulu kondisinya. Kemudian aspek-aspek lainnya tuh banyak banget. Dan saat beralih ke teknologi, di mana juga sebenarnya sudah banyak solusinya sebetulnya. Cuma gimana ya, nyanyi di studio rasanya pasti beda lah nyanyi yang enggak di studio. Lebih ke adaptasi teknisnya yang masih berjalan prosesnya.

Jadi Tulus lebih milih ke studio untuk rekaman. Kan ada juga yang rekaman di rumah?

Kalau ada pilihan yang itu, pasti lebih nyaman. Saya rasa semua juga gitu sih. Tapi kalau misalnya nulisnya, nulisnya tuh bisa di mana saja.

Adakah cerita baru yang menghiasi perjalanan Tulus di luar musik?

Kalau konteksnya lebih luas, ada. Saya itu adalah lulusan studi Teknik Arsitektur, dan beberapa waktu belakangan ini, sebelum pandemi pun ada rindu lagi ke bidang itu. Dan saya mencoba mencari cara untuk menyalurkan rasa rindu itu. Jadi kalau misalnya pertanyaannya, ada warna baru kah di luar musik? Mungkin saya bisa jawab, itu kali ya arsitektur. Saya kembali membuat, mencari-cari jalan untuk bisa bikin karya di bidang arsitektur. Skalanya masih sangat kecil dan juga belum terlalu kompleks juga. Tapi bagi saya sih itu sangat mewarnai karena selain bermusik, hal lain selain musik yang sangat menarik perhatian saya tuh adalah arsitektur. 

Apakah minat Tulus terhadap arsitektur sudah menghasilkan sesuatu?

Salah satunya nih kita sekarang lagi di rumah yang disulap sedemikian rupa jadi kantor darurat. Karyanya sudah ada, tapi belum terlalu banyak. Skalanya juga masih kecil. Kemudian kompleksitasnya juga masih di awal sekali. Tapi ini masih berbesar hati dan senangnya yang besarnya di saya. Sebenarnya karyanya masih kecil. Cuma ya enggak apa-apa, kan senang ya. Dan proses berkarya di arsitektur itu kan walaupun sama-sama di bidang seni, banyak yang sudah berkembang sedemikian rupa, setelah sekian tahun saya ada di posisi sebagai yang menikmati dan mengapresiasi tapi tidak terjun langsung. Nah, jadi sekarang saya dalam tahapan proses itu sih. Belajar “oh apa saja nih sekarang? Regulasinya kayak gimana. Terus kemudian perkembangannya seperti apa”. 

Bagi saya itu sangat mewarnai karena selain bermusik, hal lain selain musik yang sangat menarik perhatian saya tuh adalah arsitektur.

Apa yang membuat Tulus tertarik di arsitektur?

Sebetulnya ini bukan sesuatu yang baru juga sih. Bukan sesuatu yang betul-betul baru itu adalah karena studi saya memang di arsitektur. Jadi kalau karya yang secara spesifik, mungkin sulit untuk jawab karena saya sebegitu tertariknya sehingga banyak sekali objek-objek arsitektural yang memang sudah menarik perhatian saya. 

Bagaimana terciptanya “Ingkar”?

Kalau teknisnya, jadi lagu ini saya tulisnya bareng Bang Yoseph Sitompul. Jadi Bang Yoseph adalah pianis, pemain piano yang sering naik panggung bareng saya. Dan di satu kesempatan kita punya waktu luang, punya ide. Bang Yoseph punya ide, dan melodinya begini. Kemudian singkat cerita, dari melodi itu lahirlah si lirik. Lalu kemudian dibawa ke studio. Dibawa ke studio ketemu sama produser saya, Bang Ari Renaldi.

Spiritnya, lagu “Ingkar” adalah semacam tanda kepada teman-teman yang mengapresiasi karya musik saya, bahwa saya kembali lagi ke studio untuk menulis dan merekam karya-karya berikutnya.

Kemudian dari situ dikembangkan lagi. Sampai orkestrasinya. Jadi dari aransemen yang dasar dari Bang Ari. Kemudian orkestrasinya dikerjakan sama Om Erwin Gutawa. Terus semuanya itu memanfaatkan teknologi banget. Jadi pada saat proses penulisan sama Bang Yoseph itu kita langsung ketemu. Tapi yang lain-lainnya itu didominasi sama pemanfaatan teknologi. Jadi ada yang dilakukan secara daring. Semuanya pakai teknologi sih. Bahkan proses rekaman orkestranya juga memanfaatkan teknologi. Kita cuma lihat dari jauh. Kalau dulu kan saya kan hadir di studionya. Kalau ini lihat dari jauh, enggak bisa ke mana-mana. Itu teknis gitu lagu “Ingkar”. Kalau spiritnya, lagu itu adalah harapannya semacam kayak memberi tanda gitu kepada semua teman-teman yang mengapresiasi karya musik saya, bahwa saya kembali lagi ke studio untuk menulis dan merekam karya-karya berikutnya.

Sebelumnya “Adaptasi” dan “Ingkar”, single “Labirin” berbeda dari lainnya. Bisa diceritakan kembali?

Lagu “Labirin” itu saya bikinnya sama Petra Sihombing. Sepertinya pada saat itu kita sedang mencoba mencari ide dan enggak dibatasin sama sekali. “Yuk kita nulis lagu, kita bikin saja. Enggak usah ada ekspektasi apa-apa”. Enggak usah terlalu banyak, konsepnya mau gimana. Gitu-gitu enggak ada sama sekali. Ngalir gitu saja. Dan akhirnya lahir si lagu itu. Saya itu ketemu sama Petra barengan sama banyak vokalis lainnya beberapa waktu sebelum lagu “Labirin” itu diciptakan. Waktu itu kita sempat ikut kayak semacam pelatihan vokal gitu di Bali. Kita di situ ketemu, dan saya banyak bertukar pikiran. Salah satunya dengan Petra mengenai tentang bagaimana proses berkarya, nulis lagu dan lain sebagainya. Karena selama ini kan saya banyak nulis lagu itu kan di Bandung. Sementara dengan teman yang di Jakarta, itu belum terlalu banyak sebelumnya.

Ngobrol-ngobrol itu, akhirnya terus deh. Sampai cukup produktif sampai salah satu karyanya itu adalah si lagu “Labirin”. Bikinlah “Labirin”. Jadi aransemen dasarnya dari Petra terus kemudian dibangun sedemikian rupa oleh produser saya Bang Ari. Dan jadilah lagu itu. Enggak dibatasi dan tidak ada ekspetasi. Itu yang membuat kayaknya beda saja.

Ceritakan tentang TigaDuaSatu!

TigaDuaSatu ini adalah, kita sebutnya sebagai entitas baru. Jadi naungan talenta gitu, manajemen talenta yang juga merupakan label rekaman. Cuma ke depannya nanti talenta yang bisa bekerja sama dengan TigaDuaSatu ini bisa lebih luas bidangnya. Tidak hanya di musik, tapi harapannya bisa ke bidang-bidang yang lain.

Saat ini talentanya baru satu, namanya Dere. Suaranya bagus banget menurut saya. Kemampuan menulis lagunya sering bikin saya kaget sendiri. “Hah, umurnya baru 18 tahun kok nulis lagunya sudah kayak gitu”. Sudah sekeren itu. Mudah-mudahan sih nanti berkembang terus. Yang bergabung juga bisa lebih banyak dan harapannya juga tidak hanya yang dari musik tapi juga dari ruang-ruang seni yang lain.

Sepertinya cukup terencana ya dalam menerima atau mendapatkan artis untuk bergabung di TigaDuaSatu?

Itu cukup tepat, karena dari kita pun juga spiritnya ini tuh naungan untuk berkarya. Naungan untuk talenta itu berkarya. Dan setiap karyanya itu, di luar musik, tidak hanya di musiknya ya. Jadi bahkan contohnya Dere terlibat di proses bikin konsep visualnya bakal seperti apa. Bahkan sampai ke pemilihan warna pun Dere dilibatkan karena harapannya talentanya bisa betul-betul mandiri di semua bidang yang akan dia gunakan untuk membesarkan karya utama dia yaitu musik.

Ke depannya nanti talenta yang bisa bekerja sama dengan TigaDuaSatu ini bisa lebih luas bidangnya. Tidak hanya di musik, tapi harapannya bisa ke bidang-bidang yang lain.

Dan memang tidak terburu-buru. Ditambah juga kita kan merilis sesuatu di masa yang ini tidak mudah untuk semua orang. Ini adalah masa yang semua orang sedang beradaptasi tanpa henti, tidak terkecuali kami. Kita merilis TigaDuaSatu di tengah-tengah kondisi itu. Dan itu sangat membuat kami semua bersemangat sih karena beradaptasi untuk “ayo kita bikin apa”. Itu idenya malah jadi, komunikasinya jadi lebih intens karena kondisi yang dihadapi sama-sama.

Bagaimana dengan TulusCompany, rencana ke depannya?

Mudah-mudahan ya pasti juga kita semua masih dalam proses adaptasi juga. Kondisinya sama ya, yang dihadapi sama semua tidak terkecuali TulusCompany. Sejauh ini kami sebagai perusahaan sangat bersyukur bisa menemukan pola-pola.

Ya mungkin dari tadi saya sudah ngomong adaptasi sudah ratusan kali ya [tertawa]. Cuma memang itu kondisinya. Kalau adaptasi yang coba kita lakukan, kami sangat bersyukur gitu kerja keras kita bersama. Selalu mikir sama-sama. Hampir setiap rapat itu, kita harus beradaptasi, harus adaptasi selalu. Menurut saya sih, saya bangga ngeliat timnya. Mudah-mudahan akan terus berkembang. 

Selama satu dekade berkarier, apa saja yang sudah dan belum tercapai?

Kalau misalnya ditanya apa yang sudah dicapai dan apa yang belum, kita start dulu dari yang belum. Kalau yang belum, saya masih banyak PR untuk terus bisa mencari pola untuk menjaga konsistensi berkarya karena konsistensi itu adalah perjalanan jangka panjang dan untuk bisa konsisten berkarya. Itu saya yakin enggak mudah. Saya yakin semua orang yang berkarya lewat karya seni, konsisten berkarya itu tidak mudah tidak terkecuali saya. Jadi itu yang masih menjadi PR saya.

Kalau yang sudah didapat, selain dari tiga album studio yang saya sangat bersyukur itu bisa terwujud. Kemudian juga bagaimana lagu-lagu dari ketiga album studio ditambah lagu-lagu di luar dari album itu bisa menjadi bagian dari hari teman-teman yang memberikan apresiasi. Itu juga saya sangat syukuri. 

Saya masih banyak PR untuk terus bisa mencari pola untuk menjaga konsistensi berkarya karena konsistensi itu adalah perjalanan jangka panjang dan untuk bisa konsisten berkarya.

Tentu juga berkat kerja keras tim yang baik ya?

Tim itu adalah kunci. 

Pertanyaan selanjutnya, sudah memasuki perjalanan 10 tahun. Apa saja yang dipersiapkan?

Tentang sepuluh tahun berkarya ini, tanggal 28 September 2021 nanti adalah merupakan tanggal di mana pada saat itu tepat 10 tahun kita berkarya di musik. Kalau kita bicara tentang tim, perayaan itu dimulai tentu dari semenjak pertunjukannya dimulai dan secara resmi kita sepuluh tahun berkarya 28 September 2021.

Jadi, ke depannya saya akan merayakan 10 tahun berkarya dengan kembali masuk studio dan meneruskan proses penulisan lagu dan lain sebagainya. Kemudian juga banyak yang tim sudah persiapkan. Album mungkin, mudah-mudahan. Saya lebih berani untuk bilang kembali masuk studio untuk mempersiapkan karya berikutnya karena saya enggak mau janji. “Nanti kita akan segera”. Kalau menurut saya, saya lebih nyaman untuk bilangnya masuk lagi ke studio, mulai berkarya lagi. 

Pas masuk studio memang sudah ada yang dipersiapkan?

Sudah ada yang dipersiapkan, tapi ada juga yang sambil mikir berjalan. Jadi contoh kayak sekarang secara paralel, ketika kita bikin pertunjukan sepuluh tahun berkarya di sini, di studio ada Bang Ari juga terus berproses untuk pembuatan lagu-lagunya.

Apa kontribusi Tulus terhadap musik Indonesia?

Kontribusi saya, mudah-mudahan karya saya ya. Mudah-mudahan karya musik saya yang sudah dirilis itu bisa menambah nomor-nomor lagu yang dihasilkan oleh seorang anak Indonesia yang menulis lagu di sini dan merilis karyanya di negara ini.

Ya, mudah-mudahan nomor-nomor lagu saya yang sudah dirilis itu semuanya bisa memberikan kontribusi untuk menambah warna dan memperkaya perkembangan musik di Indonesia. Mudah-mudahan begitu.  

Lagi suka dengerin lagu apa belakangan ini?

Yang terakhir saya dengarin tadi pagi. Saya tadi pagi dengerin “Berisik”-nya Dere. Saya lagi dengerin Sal Priadi. Terus yang sekarang diingat, Dere, Sal, terus lagi dengerin albumnya John Mayer yang baru. Banyak. Saya tiap hari dengerin musik terus.

Mudah-mudahan karya musik saya bisa menambah nomor-nomor lagu yang dihasilkan oleh seorang anak Indonesia yang menulis lagu di sini dan merilis karyanya di negara ini.

Tapi merasa juga enggak sih bingung memilih playlist di layanan streaming musik?

Makanya saya sampai hari ini tetap paling senang itu dengerin radio. Karena kalau radio itu kan, jadi dia musiknya menghampiri kita. Jadi saya senang mendengarkan radio. Memilih dengan dipilihkan kan beda. Saya selamanya akan mendengarkan radio. Enggak akan ada yang bisa menggantikan dan lebih beragam. Kalau nyetir tuh lebih menyenangkan dengar radio.

Bagaimana Tulus menanggapi munculnya solois baru setelah karier Tulus dimulai?

Menurut saya semakin banyak semakin bagus. Karena semakin banyak pemusik semakin beragam warnanya dan semakin berkembang juga karya kebudayaan kita. Kita bisa saling belajar dan kita bisa saling mewarnai. Semakin banyak, menurut saya semakin bagus.

Digital streaming platform sudah menjadi wadah bagi band/musisi dalam perilisan karya musik. Menurut Tulus masih perlukah mengeluarkan rilisan fisik? 

Masih sangat perlu karena menurut saya sebagaimana pun teknologi berkembang, sehingga kita dengan lebih instan mengakses musik yang kita mau. Menurut saya, rilisan fisik itu romantisnya belum ada yang bisa menggantikan. Memegang CD-nya, kemudian membaca bukunya. Kemudian menjaga kepingnya. Sebenarnya saya merasa, beberapa waktu belakangan ini juga sudah sedikit lebih sulit ya untuk bisa mendapatkan itu. Cuma bagi saya, itu sangat penting sih.

Saya selamanya akan mendengarkan radio. Enggak akan ada yang bisa menggantikan dan lebih beragam. Kalau nyetir tuh lebih menyenangkan dengar radio.

Jadi kalau Tulus mengeluarkan album baru lagi bakal tetap ada rilisan fisiknya ya?

Mudah-mudahan sih begitu. Harapan saya begitu. Kayak kemarin kan, beberapa tahun lalu, saya rilis album yang rekaman live dari album Monokrom. Itu pun saya rilis fisiknya. Lihat deh di Instagram, saya juga baru foto album saya yang umurnya sudah sepuluh tahun, sudah pecah gitu kotak CD-nya.

Bagaimana saat Tulus melakukan proses penciptaan lagu yang dibawakan oleh penyanyi lain atau saat berkolaborasi dengan musisi lain?

Kalau chord-nya tuh beda-beda. Jadi, ada yang proses penciptaannya misalnya kayak contoh yang sama Mas Yovie sama Kak Glenn (di single “Adu Rayu”) kemarin itu. Kita banyak yang kayak dirembukkin sama-sama. Jadi, melodinya sudah ada terus saya isi lirik. Kemudian kita baru ketemu di studio baru ngomongin aransemen dan lain sebagainya. Tapi ada juga yang saya nulisnya dengan asumsi saya terhadap karakter vokal challenge penyanyinya atau ada juga yang nulisnya bareng tapi nanti aransemennya dikerjakan oleh pihak yang lain. Jadi enggak ada pola yang begitu-begitu aja setiap karya itu pendekatannya beda-beda.


 

Penulis
Pohan
Suka kamu, ngopi, motret, ngetik, dan hari semakin tua bagi jiwa yang sepi.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Laidthis Nite Kembali dengan “It’s Gonna Be Alright”

Sembilan bulan setelah “LoveLight” diperdengarkan, Laidthis Nite kembali dengan single baru tentang hasrat dalam judul “It’s Gonna Be Alright” (12/11).

Menakar Hak Pencipta Lagu

Sebelum bicara hak pencipta lagu mari bicara soal ini. Sebagian besar musisi indie sudah mengerjakan apa yang umumnya label rekaman lakukan pada umumnya. Yaitu merekam lagunya melalui perangkat sendiri tanpa harus diberi modal besar …