Wawancara Khusus Yovie Widianto: Kemacetan Jakarta Banyak Memberikan Inspirasi

454
Yovie Widianto
Yovie Widianto / dok. Yovie Widianto

Penulis lagu Yovie Widianto dinobatkan sebagai pencipta lagu dengan stream terbanyak di dunia, berdasarkan playlist “Written by Yovie Widianto” berisi lagu-lagu ciptaannya di layanan musik streaming Spotify.

Fakta tersebut bukan sekadar pantauan sekelebat mata, namun diterima langsung oleh manajemen Yovie dari Spotify.

Sebanyak 136 lagu ciptaan Yovie mencapai total lebih dari 500 juta pendengar di Spotify. Tiga teratas dari menghiasi daftar yaitu “Adu Rayu” hasil kolaborasinya dengan Tulus dan Glenn Fredly. Peringkat kedua, “Dengan Caraku” duet Arsy Widianto dan Brisia Jodia, serta yang terakhir yakni “Takkan Terganti” yang dibawakan Marcell.

Pencapaian ini menambah catatan prestasi yang baru setelah pada tahun 2019 lalu, Yovie berhasil menyabet lima penghargaan sekaligus meliputi Karya Produksi Terbaik, Penata Musik Pop Terbaik, Karya Produksi Kolaborasi Terbaik, Produser Rekaman Terbaik, dan Tim Produksi Suara Terbaik untuk “Adu Rayu” di Anugerah Musik Indonesia.

Kami penasaran, bagaimana seorang Yovie Widianto memaknai kesuksesannya, terutama bagaimana ia mendapatkan inspirasi dalam membuat lagu. Kemacetan Jakarta yang selama ini dianggap orang-orang bikin stres, justru menjadi sumbu yang penting bagi Yovie untuk bisa menghasilkan banyak ide. Menarik bukan?

Sekarang saja, Yovie sedang menggarap duet Arsy Widianto dan Tiara Andini di studio rekaman. Kabarnya, single baru ini bakal dirilis secara berseri. Pop Hari Ini mendapat kesempatan berbincang melalui aplikasi Zoom Meeting (29/10) di tengah kesibukannya. Mari simak di bawah ini:


 

Mas Yovie dinobatkan sebagai pencipta lagu dengan jumlah stream terbanyak di dunia. Bagaimana komentar Mas Yovie mengenai hal ini?

Pertama, saya bersyukur sekali, dan berterima kasih sekali atas sambutan yang luar biasa dari masyarakat musik Indonesia. Artinya, saya ‘kan orang yang lahir di eranya analog. Eranya kaset, eranya CD. Kebetulan dulu mengalami banyak hal, Alhamdulillah dapat berkah juga dari zamannya kaset meledak, kaset berapa kopi. Lalu, begitu juga dengan CD, ledakan CD. Lalu juga dengan jutaan RBT (ring back tone) sempat mengalami itu.

Nah, saya pikir di masa 10 tahun pertama, sukses, Alhamdulillah. Kita dapat pertolongan Tuhan. 20 tahun putaran keduanya, Alhamdulillah masih sukses juga dengan Yovie & Nuno dan sebagainya dengan berbagai produksi termasuk untuk Glenn Fredly, Rio Febrian, untuk banyak artis-artis yang diorbitkan pada waktu itu. Putaran ketiga dimulai dengan generasinya Raisa, Yura Yunita, sampai ke Arsy Widianto – Brisia Jodie, lalu sekarang ada Tiara Andini dan sebagainya.

Sebenarnya, keberuntungan besar buatku. Tapi yang nggak disangka itu adalah di era digital ini saya berhasil mengumpulkan begitu banyak. Nggak pernah terpikirkan sebelumnya, karena aku pikir ya sudah lah, itu sudah jadi kenangan masa lalu, kita tinggal berkarya saja.

Ternyata, sambutan terhadap karya-karya itu masih fantastis. Ya, dengan ada “Adu Rayu” ledakannya luar biasa. “Dengan Caraku”- nya Arsy-Jodie, “Rindu dalam Hati”- nya Arsy-Jodie, lalu ada “Harus Bahagia”- nya Yura Yunita, lalu ada “Terlanjur Mencinta”- nya Tiara dan Lyodra, juga Ziva Magnolya itu juga sangat fantastis.

Dan ternyata, lagu-lagu saya sebelumnya juga hasil jejak digitalnya juga luar biasa, seperti “Terlalu Cinta”- nya Rossa, lalu “Peri Cintaku”-nya Marcell, “Takkan Terganti”- nya Marcell, dan ada BCL (Bunga Citra Lestari – Red), ada banyak lagi artis, Andien dan sebagainya.

Dan di luar dugaan, ternyata jumlahnya itu konon dari Spotify saya dengar melebihi komposer-komposer di Amerika, dan di Asia yang lain-lainnya. Jadi, saya bersyukur di era pandemi ini, setidaknya nama Indonesia didengar di dunia internasional dengan pecinta musiknya, dengan karya-karya musiknya.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments